Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ubah Sampah Jadi Biochar, Google Targetkan Hapus 200.000 Ton Karbondioksida

Kompas.com, 21 Maret 2026, 14:08 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Google mengumumkan telah menandatangani kesepakatan multi years baru dengan AMP Robotics, penyedia teknologi daur ulang berbasis AI.

Dalam kesepakatan ini, Google akan membeli kredit penghapusan karbon sebanyak 200.000 ton yang dihasilkan melalui proyek pemanfaatan limbah organik TPA.

Melansir ESG Today, Rabu (18/3/2026) proyek ini bertujuan menghindari emisi gas rumah kaca dengan cara mengubah sampah organik tersebut menjadi biochar.

Menurut Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA), sampah padat perkotaan yang ditimbun di tempat pembuangan akhir (TPA) adalah sumber emisi metana terbesar ketiga yang dihasilkan manusia di Amerika Serikat.

Teknologi AI untuk Pemilahan Sampah

Didirikan pada tahun 2015, AMP yang berbasis di Colorado menerapkan teknologi AI dan otomasi pada pemilahan sampah yang memungkinkan pemulihan komoditas secara ekonomis.

Baca juga: Google Beli 1,17 GW Energi Bebas Karbon demi Pusat Data Rendah Emisi

Perusahaan ini pun mengembangkan teknologi pemilahan berbasis AI untuk memulihkan material organik dari fasilitas sampah padat perkotaan, yang kemudian akan diubah menjadi biochar untuk mengunci gas rumah kaca yang seharusnya terlepas ke atmosfer saat sampah tersebut membusuk.

Tahun lalu, AMP menandatangani kontrak berdurasi 20 tahun dengan otoritas limbah regional SPSA yang berbasis di Virginia. Kontrak ini bertujuan untuk menerapkan sistem pengolahan sampah padat perkotaan secara hemat biaya, serta meningkatkan angka daur ulang dan pengalihan sampah dari TPA.

AMP menyatakan bahwa proyek tersebut nantinya akan mengolah 540.000 ton sampah per tahun, dengan setidaknya 50 persen sampah dialihkan atau digunakan kembali. AMP juga mencatat bahwa setiap satu ton sampah yang dialihkan mampu mengurangi atau mengunci lebih dari 0,7 ton setara CO2 (CO2e).

Dan dengan perjanjian baru dengan Google, ini juga akan memungkinkan mereka untuk menambah kapasitas produksi biochar pada proyek tersebut, serta membuka potensi untuk mengubah lima juta ton sampah organik menjadi biochar selama 20 tahun ke depan.

“Industri limbah dibangun untuk mengambil nilai dari berbagai material. Dengan biochar, kita dapat mengubah sampah organik dari sumber utama emisi menjadi aset penyimpan karbon yang tahan lama bagi pemerintah daerah dan operator limbah," ungkap
Matanya Horowitz, pendiri dan Chief Technology Officer AMP.

"Bersama Google, kami membantu mengubah salah satu sektor ekonomi dengan intensitas emisi tertinggi menjadi kekuatan yang berdampak positif bagi iklim,” paparnya lagi.

Baca juga: Sampah Puntung Rokok Berpotensi Berubah Jadi Mikroplastik

Selain kesepakatan penghapusan karbon tersebut, Google dan AMP juga menyatakan bahwa mereka akan bekerja sama untuk menyusun kerangka kerja guna mengukur dampak pengalihan sampah yang dipadukan dengan penghapusan karbon biochar terhadap eliminasi metana.

Hal ini bertujuan untuk membantu memperluas skala solusi tersebut di seluruh industri limbah perkotaan.

“Kami antusias untuk menggerakkan pendekatan pengelolaan limbah yang mampu menjawab dua tantangan perubahan iklim sekaligus: pemanasan jangka pendek dari metana dan pemanasan jangka panjang dari karbon dioksida," terang Randy Spock, Kepala Kredit dan Penghapusan Karbon di Google.

" Teknologi AMP, melalui kemitraannya dengan otoritas pengelolaan limbah setempat, menawarkan cara yang dapat diperluas skalanya untuk mengubah material sampah organik menjadi solusi iklim yang nyata, sembari mendukung masyarakat lokal melalui pengurangan limbah dan mitigasi polusi udara,” tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
Pakar ITB Ingatkan Bahaya Eksploitasi Air akibat El Nino
LSM/Figur
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat 'Hitung Cepat'
Menimbang Energi Surya Vs Biofuel Lewat "Hitung Cepat"
Pemerintah
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada IFCH
LSM/Figur
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Wamendiktisaintek: Berpikir Kritis Jadi Kunci agar Manusia Tak Tergantikan AI
Pemerintah
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Bumi Makin Panas, Studi Peringatkan Heat Stress Ancam Miliaran Orang
Pemerintah
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Efek Suhu Ekstrem pada Padi Ternyata Lebih Parah dari Perkiraan Ahli
Pemerintah
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
BMKG: Risiko El Nino Sangat Kuat Bersamaan dengan Musim Kemarau
Pemerintah
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Krisis Iklim Jadi Pertimbangan Baru Saat Memilih Hunian
Swasta
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
El Nino dan Musim Kemarau Panjang Picu Eksploitasi Air Tanah
Pemerintah
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
UNCTAD: AI dan Kendaraan Listrik Dorong Pertumbuhan Perdagangan Dunia
Pemerintah
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Kebijakan Iklim Penting, tapi Kenapa Sulit Dapat Restu Warga?
Pemerintah
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
PBB Peringatkan Dampak Menguatnya El Nino Pengaruhi Pemanasan Global
Pemerintah
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Potensi Jutaan Lapangan Kerja Baru Green Job untuk Talenta dari Berbagai Disiplin Ilmu, Apa yang Dibutuhkan Industri?
Pemerintah
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
IPB Kembangkan Kebun Inovasi Bawang Merah di Demak Jateng, Produktivitas Naik 30 Persen
Pemerintah
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
BRIN: Penyebab Kematian Massal Ikan di Danau Batur Tidak Tunggal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau