Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kurang Gerak akibat Panas Ekstrem Picu Lonjakan Kematian Dini

Kompas.com, 24 Maret 2026, 16:33 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Panas ekstrem memicu penurunan tingkat aktivitas fisik secara signifikan di seluruh dunia, yang pada gilirannya meningkatkan lonjakan kematian dini dan kerugian produktivitas setiap tahunnya.

Studi terbaru yang diterbitkan The Lancet Global Health menganalisis data dari 156 negara selama periode 2000-2022, dengan membuat model bagaimana kenaikan suhu dapat mengurangi tingkat aktivitas global dalam beberapa dekade mendatang.

Baca juga:

Hasilnya, peningkatan 1,5 poin persentase dalam kurangnya aktivitas fisik di seluruh dunia dikaitkan dengan kenaikan suhu rata-rata di atas 27,8 derajat celsius setiap bulannya. Peningkatan lebih parah atau 1,85 poin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Kenaikan suhu diperkirakan akan meningkatkan prevalensi kurangnya aktivitas fisik, yang berakibat pada bertambahnya angka kematian dini dan kerugian produktivitas, terutama di wilayah tropis," tulis para peneliti, dikutip dari The Lancet, Selasa (24/3/2026).

Panas ekstrem bikin aktivitas fisik menurun

500.000 kematian dini bisa terjadi bila dibiarkan

Panas ekstrem memicu penurunan tingkat aktivitas fisik secara signifikan di seluruh dunia, yang pada gilirannya meningkatkan lonjakan kematian dini.dok. Shutterstock/PattyPhoto Panas ekstrem memicu penurunan tingkat aktivitas fisik secara signifikan di seluruh dunia, yang pada gilirannya meningkatkan lonjakan kematian dini.

Kurangnya aktivitas fisik yang dipicu kenaikan suhu bisa terjadi karena panas meningkatkan aliran darah ke kulit dan keringat, yang memperkuat tekanan kardiovaskular, risiko dehidrasi, serta persepsi kelelahan.

Padahal, kurangnya aktivitas fisik sudah menjadi faktor utama timbulnya penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, kanker tertentu, serta kondisi kesehatan mental.

"(Itu) semuanya dapat mengurangi harapan hidup," ujar penulis utama studi tersebut, Christian García-Witulski, dilansir dari Euronews

Studi tersebut memperkirakan, kurangnya aktivitas fisik sudah menyumbang sekitar lima persen dari seluruh kematian orang dewasa di seluruh dunia.

Kurangnya aktivitas fisik telah menjadi tantangan kesehatan global yang berat. Sekitar sepertiga populasi dewasa global tidak mematuhi pedoman Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Pedoman WHO menetapkan minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit aktivitas fisik intensitas tinggi setiap minggunya.

Peningkatan tingkat kurangnya aktivitas fisik terkait panas pada 2050 berisiko menyebabkan sekitar 500.000 kematian dini tambahan setiap tahunnya.

Selain itu, peningkatan tingkat kurangnya aktivitas fisik terkait panas pada 2050 juga menimbulkan kerugian produktivitas sekitar 2,4 miliar dollar Amerika Serikat atau AS (sekitar Rp 40 triliun) hingga 3,68 miliar dollar AS (sekitar Rp 62 triliun) setiap tahunnya.

Peningkatan tingkat kurang aktivitas fisik tertinggi diperkirakan terjadi di wilayah yang sudah mengalami beratnya cuaca panas, di antaranya, Amerika Tengah, Karibia, Afrika sub-Sahara bagian timur, dan Asia Tenggara khatulistiwa, di mana angka pengangguran dapat meningkat lebih dari empat poin persentase per bulan.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau