Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemanasan Global 2 Derajat Celsius Bisa Lebih Berbahaya dari Perkiraan

Kompas.com, 26 Maret 2026, 13:17 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Salah satu asumsi soal krisis iklim yang beredar adalah, dampaknya baru akan dirasakan ketika pemanasan global sangat tinggi atau sekitar tiga sampai empat derajat celsius. 

Studi di jurnal Nature mengungkapkan, pemanasan global dengan tingkat moderat saja atau dua derajat celsius sudah menimbulkan risiko iklim cukup besar untuk sektor-sektor krusial bagi masyarakat dan ekosistem.

Baca juga:

Dampaknya bisa melanda daerah padat penduduk dengan curah hujan tinggi, wilayah pertanian utama saat kekeringan, sampai kebakaran hutan akibat cuaca ekstrem.

Pemanasan global 2 derajat celsius sudah cukup berdampak

Risiko pemanasan global moderat cukup parah

Dampak iklim dikira baru terasa saat suhu sangat tinggi. Faktanya, kenaikan dua derajat celsius sudah bisa melumpuhkan sektor krusial.Pexels/??????? ????? Dampak iklim dikira baru terasa saat suhu sangat tinggi. Faktanya, kenaikan dua derajat celsius sudah bisa melumpuhkan sektor krusial.

Temuan dari studi yang dipimpin oleh Pusat Penelitian Lingkungan Helmholtz (UFZ), Jerman, ini menggarisbawahi urgensi tindakan mitigasi iklim secara cepat untuk membatasi berbagai risikonya.

Saat ini, model proyeksi iklim masih mengandung banyak ketidakpastian sehingga risiko pemanasan global dapat berkembang jauh lebih dramastis daripada yang diperkirakan, tidak dapat dikesampingkan.

"Demi penilaian risiko yang bertanggung jawab, kita harus melihat melampaui rentang yang paling mungkin diproyeksikan oleh model iklim dan mempertimbangkan hasil ekstrem yang dapat memiliki konsekuensi sosial atau lingkungan yang parah," ujar penulis utama dan peneliti iklim UFZ, Emanuele Bevacqua, dilansir dari Phys.org, Kamis (26/3/2026).

Hingga saat ini, skenario-skenario terburuk pemanasan global dalam banyak model proyeksi iklim digambarkan dengan hasil rata-rata tiga sampai empat derajat celsius.

Namun, pendekatan ini tidak memperhitungkan fakta bahwa, bahkan pada tingkat pemanasan global yang moderat, proyeksi iklim individual untuk wilayah tertentu dapat sangat parah.

Selain itu, pola cuaca di wilayah yang berdekatan cenderung sangat berkorelasi, sedangkan pola cuaca di wilayah yang jauh sebagian besar tidak berkorelasi.

"Hal ini menyulitkan untuk menyimpulkan risiko global dari perkiraan ketidakpastian lokal," tutur salah satu penulis studi sekaligus peneliti iklim di UFZ dan Profesor Analisis Data dalam Ilmu Hidro di TUD Dresden University of Technology, Jakob Zscheischler.

Baca juga:

Pendekatan baru ukur risiko iklim

Para peneliti mengadopsi pendekatan baru untuk mengatasi kesenjangan risiko iklim dalam berbagai model proyeksi yang lama, dengan mengidentifikasi dampak terhadap sektor tertentu secara spesifik.

Misalnya, dampak hujan ekstrem dan kekeringan terhadap wilayah dengan sektor-sektor rentan (hutan, pertanian, dan daerah padat penduduk).

Mereka mengevaluasi simulasi global dari berbagai model iklim yang berbeda, yang juga menjadi dasar laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Dengan cara ini, para peneliti dapat mengidentifikasi proyeksi model yang menunjukkan hasil terkuat (skenario terburuk) dan terlemah (skenario terbaik), masing-masing untuk setiap sektor yang diteliti.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau