Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya

Kompas.com, 4 April 2026, 16:29 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Warga yang tinggal di Jakarta dapat mendonasikan pakaian bekas tak layak pakai ke EcoTouch, perusahaan daur ulang di bawah naungan PT Superbtex.

Nantinya, pakaian yang terkumpul akan didaur ulang menjadi material peredam suara bangunan, tas, benang tenun, hingga tempat pensil.

Donasi bisa dilakukan dengan cara berikut.

  • Ketahui jadwal penerimaan donasi pakaian bekas melalui akun Instagram ecotouch_id
  • EcoTouch hanya menerima pengiriman pakaian individu
  • Batas maksimal 5 kilogram pakaian per paket, bila jumlahnya lebih dapat menghubungi admin Instagram EcoTouch
  • Pengiriman dapat dilakukan melalui jasa ekspedisi ataupun oleh diri sendiri
  • Jenis pakaian yang diterima mencakup jeans, kemeja, seragam, kaos katun, celana, rok, sprei, dan potongan kain
  • Pakaian dengan kondisi robek, warna memudar, berbahan serat natural, bersih, kering, tidak berjamur.

Anda dapat mendonasikan pakaian ke kantor pusat EcoTouch di Jalan Arjuna Utara, Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Baca juga: Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung

Brand Communications Manager EcoTouch, Agnes Kiki menyampaikan perusahaan telah beroperasi sejak 2021. Pakaian bekas tak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga perusahaan ataupun komunitas yang bekerja sama dengan EcoTouch.

Setiap bulannya, perusahaan menerima sekitar 10-15 ton limbah pakaian. Namun, jumlah donasi dibatasi lantaran kapasitas fasilitas serta proses pemilahan yang masih dilakukan secara manual. 

Menurut Kiki, pakaian berbahan katun diolah menjadi tas, tempat pensil, hingga kain tenun. Sementara bahan denim atau jeans dimanfaatkan sebagai material peredam bangunan.

"Khusus untuk peredam memang kami mayoritas pakai denim atau jeans karena terkait standarisasi walaupun produk daur ulang. Bahan lain kami biasanya jadikan flanel, yang warnanya random, ada yang sebagian buat campuran peredam," ungkap Kiki saat ditemui, Rabu (1/4/2026).

Baca juga: Indonesia Masuk Daftar Negara Penghasil Limbah Makanan Terbesar di Dunia

Prosesnya dimulai dari pemilahan pakaian layak dan tidak layak pakai. Pakaian yang masih layak disalurkan ke yayasan, bahkan donatur bisa menukar dua pakaian tak layak dengan yang masih layak pakai.

Kiki menjelaskan, petugas bakal memereteli aksesori berupa kancing dan resleting. Kain kemudian dipotong lalu dikirim ke pabrik pusat di Bandung untuk dicacah menjadi serat.

EcoTouch menjual material peredam dinding berbentuk panel berukuran 60 cm x 120 cm dengan harga mulai dari Rp 50.000 per panel. Sementara, untuk kebutuhan atap, peredam dijual dalam bentuk gulungan berukuran 1 meter x 25 meter, dengan harga mulai dari Rp1,2 juta per gulung.

Selain harga, produk peredam ini juga memiliki keunggulan dari sisi daya tahan dan keamanan. Material telah melalui proses fire retardant sehingga mampu menahan perambatan api, serta lebih aman bagi kulit dibandingkan peredam konvensional.

Lainnya, serat hasil daur ulang dijadikan kain tenun yang diproduksi penenun di Jawa Tengah.

"Kainnya ini pun masih ada teksturnya jadi unik. Teksturnya berasal dari patahan benang marena benang kami 100 persen waste jadi karakternya mudah patah, makanya kami harus kombinasikan dengan benang virgin atau benang baru biar kainnya kuat," jelas Kiki.

Sejauh ini, minat masyarakat terhadap pengelolaan limbah tekstil terus meningkat setiap tahun. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, khususnya limbah dari industri fesyen.

"Kalau untuk dari segi konversi ke pengurangan emisi kami sudah mengurangi karbondioksidanya 1,2 juta kilogram. Sedangkan untuk gas metananya kami sudah membantu mengurangi 1.986 kilogram," beber Kiki.

Selain itu, mengumpulkan 7,24 miliar mikroplastik ataupun mikrofiber yang dihasilkan dari pakaian.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Manfaatkan AI, Serangan Siber Naik 2 Kali Lipat
Swasta
Prakiraan Cuaca  yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Prakiraan Cuaca yang Akurat Tekan Angka Kematian Akibat Gelombang Panas
Pemerintah
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
Gen Z Ramai-ramai Tinggalkan Pekerjaan Kantoran, Apa Alasannya?
LSM/Figur
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Imbangi Pembangunan, Kota di China Ini Sulap Lahan Telantar Tepi Sungai Jadi Ruang Hijau
Pemerintah
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan
Pemerintah
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
Tekanan Ekonomi Global Bikin Perusahaan Kurangi Inisiatif Keberlanjutan
LSM/Figur
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT
Pemerintah
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Jelang Penerapan EUDR, Sepertiga Perusahaan Masih Minim Komitmen Deforestasi
Pemerintah
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Danantara Kaji Wacana Pembangunan PSEL di 31 Wilayah Aglomerasi
Pemerintah
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal
Pemerintah
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
KLH Bakal Tetapkan Tersangka Kasus Longsor Bantargebang yang Tewaskan 7 Orang
Pemerintah
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Deloitte: Physical AI Diprediksi Ubah Operasi Bisnis dalam Tiga Tahun
Swasta
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
MAN 4 Jakarta Raih ASRI Awards Berkat Rakit Sabut untuk Kurangi Bau Ciliwung
Pemerintah
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
Tambang Batu Bara Kini Jadi Sumber Kerentanan, Daerah Penghasil Harus Beralih Rupa
LSM/Figur
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau