JAKARTA, KOMPAS.com - Warga yang tinggal di Jakarta dapat mendonasikan pakaian bekas tak layak pakai ke EcoTouch, perusahaan daur ulang di bawah naungan PT Superbtex.
Nantinya, pakaian yang terkumpul akan didaur ulang menjadi material peredam suara bangunan, tas, benang tenun, hingga tempat pensil.
Donasi bisa dilakukan dengan cara berikut.
Anda dapat mendonasikan pakaian ke kantor pusat EcoTouch di Jalan Arjuna Utara, Tanjung Duren, Jakarta Barat.
Baca juga: Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Brand Communications Manager EcoTouch, Agnes Kiki menyampaikan perusahaan telah beroperasi sejak 2021. Pakaian bekas tak hanya berasal dari masyarakat, tetapi juga perusahaan ataupun komunitas yang bekerja sama dengan EcoTouch.
Setiap bulannya, perusahaan menerima sekitar 10-15 ton limbah pakaian. Namun, jumlah donasi dibatasi lantaran kapasitas fasilitas serta proses pemilahan yang masih dilakukan secara manual.
Menurut Kiki, pakaian berbahan katun diolah menjadi tas, tempat pensil, hingga kain tenun. Sementara bahan denim atau jeans dimanfaatkan sebagai material peredam bangunan.
"Khusus untuk peredam memang kami mayoritas pakai denim atau jeans karena terkait standarisasi walaupun produk daur ulang. Bahan lain kami biasanya jadikan flanel, yang warnanya random, ada yang sebagian buat campuran peredam," ungkap Kiki saat ditemui, Rabu (1/4/2026).
Baca juga: Indonesia Masuk Daftar Negara Penghasil Limbah Makanan Terbesar di Dunia
Prosesnya dimulai dari pemilahan pakaian layak dan tidak layak pakai. Pakaian yang masih layak disalurkan ke yayasan, bahkan donatur bisa menukar dua pakaian tak layak dengan yang masih layak pakai.
Kiki menjelaskan, petugas bakal memereteli aksesori berupa kancing dan resleting. Kain kemudian dipotong lalu dikirim ke pabrik pusat di Bandung untuk dicacah menjadi serat.
EcoTouch menjual material peredam dinding berbentuk panel berukuran 60 cm x 120 cm dengan harga mulai dari Rp 50.000 per panel. Sementara, untuk kebutuhan atap, peredam dijual dalam bentuk gulungan berukuran 1 meter x 25 meter, dengan harga mulai dari Rp1,2 juta per gulung.
Selain harga, produk peredam ini juga memiliki keunggulan dari sisi daya tahan dan keamanan. Material telah melalui proses fire retardant sehingga mampu menahan perambatan api, serta lebih aman bagi kulit dibandingkan peredam konvensional.
Lainnya, serat hasil daur ulang dijadikan kain tenun yang diproduksi penenun di Jawa Tengah.
"Kainnya ini pun masih ada teksturnya jadi unik. Teksturnya berasal dari patahan benang marena benang kami 100 persen waste jadi karakternya mudah patah, makanya kami harus kombinasikan dengan benang virgin atau benang baru biar kainnya kuat," jelas Kiki.
Sejauh ini, minat masyarakat terhadap pengelolaan limbah tekstil terus meningkat setiap tahun. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran terhadap isu lingkungan, khususnya limbah dari industri fesyen.
"Kalau untuk dari segi konversi ke pengurangan emisi kami sudah mengurangi karbondioksidanya 1,2 juta kilogram. Sedangkan untuk gas metananya kami sudah membantu mengurangi 1.986 kilogram," beber Kiki.
Selain itu, mengumpulkan 7,24 miliar mikroplastik ataupun mikrofiber yang dihasilkan dari pakaian.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya