Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Permintaan Tinggi Picu Perburuan Liar Kura-kura Sulcata dari Afrika ke Indonesia

Kompas.com, 23 Mei 2026, 14:38 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kura-kura sulcata (Centrochelys sulcata) terancam punah akibat hilangnya habitat, perburuan liar, dan perdagangan ilegal. Banyak kura-kura sulcata dari Afrika ditangkap dan diperdagangkan secara ilegal ke Indonesia untuk dijadikan hewan peliharaan.

‎Untuk mengurangi tingkat perburuan liar dan perdagangan ilegal di Afrika, Jagat Satwa Nusantara memberikan edukasi pembiakan (breeding) kura-kura sulcata untuk berbagai kalangan, seperti penghobi reptil, breeder pemula, komunitas pecinta satwa, sampai mahasiswa.

Teknik penangkaran yang benar dan bertanggung jawab setidaknya mengatasi beberapa permasalahan, seperti overpopulasi di tingkat penghobi atau kurangnya pemahaman mengenai kesejahteraan satwa.

Baca juga: Kisah Kura-kura Sulcata Bangkit dari Kematian Usai 2 Kali Terlindas Mobil

‎"Kura-kura sulcata sekarang menjadi peliharaan, jadi demand-nya tuh tinggi. Itu kan memancing orang untuk mengimpor, tapi, kebanyakan malah ilegal. Jadi, itu akan meningkatkan tingkat kriminalitas, terutama mengambil kura-kura sulcata dari alam," ujar Kurator museum komodo Jagat Satwa Nusantara, Purnomo Budi D. di Auditorium Museum Komodo Jaga Satwa Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (23/5/2026).

‎Dengan adanya breeding, permintaan pasar dalam negeri untuk hobi di Indonesia tidak perlu menganggu populasi kura-kura sulcata di alam liar Afrika. Meski tidak akan berkembang menjadi spesies invasif, kata dia, sebaiknya pemilik tidak melepasliarkan kura-kura sulcata ke alam Indonesia.‎

‎"Selama ini tidak ada pengalaman menjadi invasif ya. Mungkin kalau ditelantarkan, dipeliharanya enggak bener, sih mati. Jadi enggak ada risiko sebagai hewan invasif di Indonesia," tutur Purnomo.

‎Ia berpesan kepada setiap orang yang memelihara kura-kura sulcata untuk berkomitmen bertanggung jawab atas kesejahteraan satwa itu. Kebutuhan dasar kura-kura sulcata harus dipenuhi, bukan sekadar kesehatan fisik dan mentalnya saja.

‎"Ibaratnya, kalau di alam itu manajemennya punya Tuhan, tapi kalau kita sudah memelihara hewan itu komitmen manajemen sudah ada di kita. Jadi kita harus bener-bener komitmen terhadap apa yang kita pelihara, terutama kura-kura sulcata," ucapnya.

Perubahan lingkungan

‎Kenaikan suhu global akibat krisis iklim akan mempengaruhi inkubasi telur, yang pada gilirannya berdampak pada keberlanjutan populasi kura-kura, termasuk sulcata. Iklim yang lebih hangat akan meningkatkan kemungkinan telur kura-kura berkembang menjadi betina. Imbasnya, terjadi ketidakseimbangan antara jantan dan betina.

‎Suhu di dataran rendah Indonesia tidak terlalu jauh berbeda dengan habitat asal kura-kura sulcata di Afrika, sehingga dapat menunjang kesejahteraan hewan reptil ini.

Namun, suhu di dataran tinggi Indonesia tidak cocok untuk memelihara kura-kura sulcata. Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen lingkungan khusus untuk menghadirkan suhu yang cocok bagi kura-kura sulcata.

‎"Tadi ada yang piara di Bandung ya, itu harus berkorban lampunya, disesuaikan, misanya butuh matahari ya dibikinkan, ada UVA UVB ya harus disediakan. Berkorbannya ya di listrik (boros energi)," ujar Purnomo.

Baca juga: Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?

‎Selain itu, kura-kura sulcata perlu nutrisi tinggi serat. Diet utamanya berbasis rumput dan sayuran hijau untuk mendukung pertumbuhan tulang yang kokoh. Terakhir, kura-kura sulcata juga membutuhkan ruang jelajah luas, habitat yang mensimulasikan kondisi semi-arid untuk mendorong aktivitas fisik alami.

‎"Nah, ini banyak sekali breeder yang mungkin keterbatasan lahan ya. Ruang jelajah yang luas itu jadi salah satu ‎problem untuk para breeder di Indonesia ya," ucapnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
Kiriman Sampah dari Hulu Bikin Rehabilitasi Mangrove Jakarta Terus Mengulang dari Nol
LSM/Figur
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
AYANA: Isu Krisis Iklim Perlu Disampaikan Lewat Budaya dan Ajaran Agama
LSM/Figur
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Tak Lagi Bebas Polusi, Plastik Ditemukan di Lapisan Tanah Murni Antartika
Pemerintah
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Ekonomi Lesu, Rekrutmen Karyawan Keberlanjutan Ternyata Tetap Stabil
Pemerintah
Tanoto Foundation: 'Employability' Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
Tanoto Foundation: "Employability" Mahasiswa Harus Diasah sejak Menempuh Pendidikan Tinggi
LSM/Figur
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
Polusi dan Kiriman Sampah Jadi Tantangan Rehabilitasi Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Strategi Unilever Bangun Pertumbuhan Berkelanjutan di Tengah Dinamika Pasar
Swasta
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
FEM IPB Dorong Solusi Berbasis Alam dan ESG untuk Perkuat Ketahanan Iklim
Pemerintah
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
Gelombang Panas Panjang Berisiko Picu Darurat Kesehatan Mental
LSM/Figur
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
RI Tetapkan RPPEM Nasional 2026-2055 Jadi Peta Jalan Perlindungan Mangrove
LSM/Figur
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Pertama Kali, Tesla Tetapkan Target Bebas Emisi pada 2040
Swasta
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Ketika Menjaga Hutan Mampu Membuka Jalan Petani ke Pasar Global...
Swasta
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
Di Balik Pemulihan Pascabencana Sumatera, Ada Upaya Pertamina Membangun Ketangguhan Masyarakat
BrandzView
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
Dampak Perubahan Iklim, Kekeringan di Eropa Diprediksi Kian Parah
LSM/Figur
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Tantangan Sistem Pendingin Pusat Data: Kenaikan Suhu dan Kelembapan Udara
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau