JAKARTA, KOMPAS.com - Kura-kura sulcata (Centrochelys sulcata) terancam punah akibat hilangnya habitat, perburuan liar, dan perdagangan ilegal. Banyak kura-kura sulcata dari Afrika ditangkap dan diperdagangkan secara ilegal ke Indonesia untuk dijadikan hewan peliharaan.
Untuk mengurangi tingkat perburuan liar dan perdagangan ilegal di Afrika, Jagat Satwa Nusantara memberikan edukasi pembiakan (breeding) kura-kura sulcata untuk berbagai kalangan, seperti penghobi reptil, breeder pemula, komunitas pecinta satwa, sampai mahasiswa.
Teknik penangkaran yang benar dan bertanggung jawab setidaknya mengatasi beberapa permasalahan, seperti overpopulasi di tingkat penghobi atau kurangnya pemahaman mengenai kesejahteraan satwa.
Baca juga: Kisah Kura-kura Sulcata Bangkit dari Kematian Usai 2 Kali Terlindas Mobil
"Kura-kura sulcata sekarang menjadi peliharaan, jadi demand-nya tuh tinggi. Itu kan memancing orang untuk mengimpor, tapi, kebanyakan malah ilegal. Jadi, itu akan meningkatkan tingkat kriminalitas, terutama mengambil kura-kura sulcata dari alam," ujar Kurator museum komodo Jagat Satwa Nusantara, Purnomo Budi D. di Auditorium Museum Komodo Jaga Satwa Nusantara Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Sabtu (23/5/2026).
Dengan adanya breeding, permintaan pasar dalam negeri untuk hobi di Indonesia tidak perlu menganggu populasi kura-kura sulcata di alam liar Afrika. Meski tidak akan berkembang menjadi spesies invasif, kata dia, sebaiknya pemilik tidak melepasliarkan kura-kura sulcata ke alam Indonesia.
"Selama ini tidak ada pengalaman menjadi invasif ya. Mungkin kalau ditelantarkan, dipeliharanya enggak bener, sih mati. Jadi enggak ada risiko sebagai hewan invasif di Indonesia," tutur Purnomo.
Ia berpesan kepada setiap orang yang memelihara kura-kura sulcata untuk berkomitmen bertanggung jawab atas kesejahteraan satwa itu. Kebutuhan dasar kura-kura sulcata harus dipenuhi, bukan sekadar kesehatan fisik dan mentalnya saja.
"Ibaratnya, kalau di alam itu manajemennya punya Tuhan, tapi kalau kita sudah memelihara hewan itu komitmen manajemen sudah ada di kita. Jadi kita harus bener-bener komitmen terhadap apa yang kita pelihara, terutama kura-kura sulcata," ucapnya.
Kenaikan suhu global akibat krisis iklim akan mempengaruhi inkubasi telur, yang pada gilirannya berdampak pada keberlanjutan populasi kura-kura, termasuk sulcata. Iklim yang lebih hangat akan meningkatkan kemungkinan telur kura-kura berkembang menjadi betina. Imbasnya, terjadi ketidakseimbangan antara jantan dan betina.
Suhu di dataran rendah Indonesia tidak terlalu jauh berbeda dengan habitat asal kura-kura sulcata di Afrika, sehingga dapat menunjang kesejahteraan hewan reptil ini.
Namun, suhu di dataran tinggi Indonesia tidak cocok untuk memelihara kura-kura sulcata. Oleh karena itu, dibutuhkan manajemen lingkungan khusus untuk menghadirkan suhu yang cocok bagi kura-kura sulcata.
"Tadi ada yang piara di Bandung ya, itu harus berkorban lampunya, disesuaikan, misanya butuh matahari ya dibikinkan, ada UVA UVB ya harus disediakan. Berkorbannya ya di listrik (boros energi)," ujar Purnomo.
Baca juga: Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Selain itu, kura-kura sulcata perlu nutrisi tinggi serat. Diet utamanya berbasis rumput dan sayuran hijau untuk mendukung pertumbuhan tulang yang kokoh. Terakhir, kura-kura sulcata juga membutuhkan ruang jelajah luas, habitat yang mensimulasikan kondisi semi-arid untuk mendorong aktivitas fisik alami.
"Nah, ini banyak sekali breeder yang mungkin keterbatasan lahan ya. Ruang jelajah yang luas itu jadi salah satu problem untuk para breeder di Indonesia ya," ucapnya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya