Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suhu Bumi Diprediksi Naik 1,9 Derajat C pada Tahun 2030

Kompas.com, 29 Mei 2026, 19:19 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan dari Badan Meteorologi Inggris (UK Met Office) yang dirilis oleh Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyatakan ada peluang sebesar 86 persen bahwa salah satu tahun di antara 2026 hingga 2030 akan menjadi tahun paling panas sepanjang sejarah.

Melansir laman resmi United Nations, Kamis (28/5/2026) laporan tersebut juga menemukan ada kemungkinan sebesar 91 persen bahwa rata-rata suhu global akan melewati batas aman kenaikan 1,5 derajat Celsius di atas tingkat masa pra-industri setidaknya selama satu tahun dalam lima tahun ke depan.

Suhu rata-rata bumi setiap tahunnya antara tahun 2026 hingga 2030 diperkirakan akan berada di angka 1,3 derajat C sampai 1,9 derajat C lebih panas dibandingkan dengan suhu rata-rata pada tahun 1850-1900.

Laporan menyebut peluang kenaikan suhu tersebut sebesar 75 persen.

Baca juga: Pemanasan Global Percepat Pencairan Es di Papua, Gletser Tropis Terakhir Asia akan Punah

“Ada fenomena El Nino yang diprediksi akan terjadi pada akhir tahun 2026, dan hal ini memperbesar peluang tahun berikutnya, yaitu tahun 2027, menjadi tahun terpanas baru yang memecahkan rekor lagi,” kata Leon Hermanson, penulis utama laporan tersebut.

Angka 1,5 derajat C sendiri adalah batas patokan utama dalam Perjanjian Paris tentang perubahan iklim. Para ilmuwan memperingatkan bahwa jika suhu bumi melewati batas tersebut dalam jangka waktu yang lama, maka risiko terjadinya cuaca ekstrem, hancurnya ekosistem alam, kelangkaan pangan, dan pengungsian penduduk akan meningkat drastis.

Kendati demikian kenaikan suhu yang melewati batas itu bukan berarti target iklim jangka panjang dari Perjanjian Paris sudah gagal total. Sebab, perjanjian tersebut patokannya adalah rata-rata kenaikan suhu yang bertahan selama puluhan tahun, bukan cuma hitungan satu atau dua tahun saja.

Meskipun begitu, perkiraan ini mempertegas bahwa pemanasan global terjadi makin cepat dan bencana gelombang panas ekstrem akan makin sering melanda bumi.

Arktik memanas semakin cepat

Laporan juga memperkirakan bahwa wilayah Kutub Utara (Arktik) akan terus memanas jauh lebih cepat daripada bagian bumi lainnya juga sedang membunyikan alarm tanda bahaya.

Suhu di wilayah tersebut selama lima musim dingin mendatang diperkirakan akan rata-rata 2,8 derajat C lebih panas dibandingkan dengan standar tahun 1991-2020. Angka kenaikan ini lebih dari tiga setengah kali lipat lebih tinggi daripada perkiraan kenaikan rata-rata suhu bumi pada periode yang sama.

Para ilmuwan juga memprediksi bahwa lapisan es di laut Kutub Utara akan terus menyusut, terutama di Laut Barents, Laut Bering, dan Laut Okhotsk.

Baca juga: Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu

Hilangnya es laut ini sangat berbahaya karena bisa mempercepat pemanasan global akibat berkurangnya kemampuan Kutub Utara untuk memantulkan sinar matahari. Selain itu, kondisi ini juga merusak ekosistem alam, merusak pola cuaca, dan mengancam mata pencaharian warga yang tinggal di wilayah kutub.

Laporan tersebut menunjukkan pula adanya perubahan besar yang makin meluas pada pola curah hujan dunia, yang sejalan dengan kondisi iklim yang makin memanas.

Curah hujan yang lebih tinggi dari biasanya diperkirakan akan terjadi di sebagian wilayah Sahel (Afrika), Eropa utara, Alaska, dan Siberia antara tahun 2026 hingga 2030. Sebaliknya, kondisi yang lebih kering diprediksi akan melanda wilayah Amazon dan sebagian wilayah subtropis.

Kondisi yang lebih basah atau sering hujan juga kemungkinan besar terjadi di wilayah bagian utara bumi yang lebih tinggi selama musim dingin mendatang.

Perkiraan cuaca ini dibuat dengan tujuan untuk membantu pemerintah, pusat iklim regional, dan lembaga cuaca nasional di berbagai negara agar bisa bersiap menghadapi risiko bencana.

Pasalnya, ancaman-ancaman ini bukan lagi ramalan masa depan yang masih jauh, melainkan sudah menjadi bagian dari gambaran iklim nyata yang akan kita hadapi dalam waktu dekat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
BRIN Dorong Pemanfaatan Biomaterial untuk Industri Pertahanan
Pemerintah
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Filosi Tanam 1.000 Pohon di NTT untuk Hijaukan Kali Liliba
Swasta
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Menteri LH: Indonesia Masuki Fase Kedua Pembangunan, Bertumpu pada Kredit Karbon
Pemerintah
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Kereta Hidrogen Komersial Pertama Jepang Siap Meluncur 2027
Pemerintah
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
UNU Yogyakarta Buka Beasiswa Kuliah terkait Pembangunan Berkelanjutan
LSM/Figur
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Penurunan Angka Kelahiran Bentuk Ulang Transisi Energi Global
Pemerintah
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
Peneliti Khawatir Suhu Daun Tanaman Naik Lebih Cepat akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
Limbah Tandan Kosong Sawit Berpotensi Jadi Bahan Plafon yang Lebih Kuat dan Murah
LSM/Figur
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Gelombang Panas Ancam Stadion, Ahli Dorong Renovasi untuk Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
Pindad Kembangkan Amunisi dari Limbah Kelapa Sawit
BUMN
 Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Primata Kunci Cegah Kepunahan Massal akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
IATA: Penerbangan Ramah Lingkungan Mahal dan Maskapai Tak Sanggup Tanggung Sendiri
Pemerintah
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
Peta Risiko Penyakit Menular Lewat Air Bergeser akibat Perubahan Iklim
LSM/Figur
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pasar Hijau Tembus Rp179,77 Kuadriliun, Asia Makin Dominan
Pemerintah
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
Pertamina Usul Blending SAF 1 Persen Rute Jakarta-Bali, Jaga Keseimbangan Emisi dan Harga Tiket Pesawat
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau