Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Blackout Berulang Jadi Pertanda Bahaya Sistem Listrik yang Terpusat

Kompas.com, 25 Mei 2026, 12:48 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemadaman listrik total atau blackout akibat gangguan cuaca ekstrem di sebagian wilayah Sumatera menunjukkan kegagalan sistem kelistrikan yang terlalu bergantung pada infrastruktur terpusat dan energi fosil.

Saat ini, kelistrikan di mayoritas wilayah Sumatera masih ditopang oleh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis energi fosil yang bergantung pada jaringan pembangkit dan transmisi terpusat.

Dalam sistem seperti ini, gangguan di satu titik dapat memicu pemadaman di banyak wilayah sekaligus. Meski PLN menggunakan pembangkit listrik tenaga hidro dan gas sepanjang tahap pemulihan, tetapi gangguan berskala besar tetap akan terjadi kalau sistem transmisi tersentralisasi.

Baca juga: Bareskrim: Keterangan Masyarakat Terjadi Ledakan Sebelum Pemadaman Listrik

Juru Kampanye Renewable Energy Trend Asia, Beyrra Triasdian menganggap, model sistem transmisi tersentralisasi hanya memperbesar risiko jutaan masyarakat kehilangan layanan dasar.

Pemadaman listrik total (blackout) di Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, dan Riau itu menjadi peringatan bahwa sistem energi tidak dapat terus dibangun melalui pendekatan lama yang bertumpu pada pembangkit listrik berskala besar dan transmisi panjang. Apalagi, cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi ke depannya akibat krisis iklim.

"Pemerintah harus segera mempercepat desentralisasi energi berbasis energi terbarukan komunitas untuk membangun sistem yang lebih tangguh, adil, dan tidak mudah lumpuh saat krisis,” ujar Beyrra dalam keterangan tertulis, Senin (25/5/2026).

Blacout di wilayah Sumatera bukanlah pertama kali terjadi di Indonesia. Dalam rentang waktu 10 tahun terakhir, beberapa wilayah di Indonesia pernah mengalami blackout sebelumnya. Di antaranya, di wilayah Jawa (2019), Sumatera (2024), dan Bali (2025).

Infrastruktur yang rentan

Blackout yang terjadi di wilayah Indonesia kerap disebabkan oleh gangguan sistem transmisi. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur kelistrikan berskala besar memiliki kerentanan terhadap terjadinya disrupsi dengan dampak serupa luasan jangkauannya.

Menurut Beyrra, blackout secara regional bukanlah hal yang sepele, karena pemadaman mengganggu aktivitas ekonomi. Khususnya, ekonomi berskala kecil, lampu lalu lintas padam, gangguan konektivitas selular, sampai aktivitas rumah tangga, seperti penyimpanan ASI bagi perempuan menyusui.

Blackout di Sumatera kali ini menjadi kejadian kedua dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun terakhir dengan alasan gangguan yang sama, yaitu akibat cuaca ekstrem.

Ini menjadi ironi lantaran energi fosil penunjang ketenagalistrikan Indonesia saat ini merupakan salah satu penyumbang utama krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem.

Beyrra meminta pemerintah segera memulihkan seluruh sistem kelistrikan di Sumatera, memberikan kompensasi yang adil bagi masyarakat terdampak blackout, serta melakukan audit menyeluruh dan membuka hasil audit penyebab gangguan secara transparan kepada publik.

Baca juga: Imbas Pemadaman Listrik Sumatera, 4 Karyawan Toko di Indrapura Diduga Keracunan Asap Genset, 2 Tewas

"Kejadian yang terus berulang ini juga harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem ketenagalistrikan nasional di tengah krisis iklim dan kerusakanlingkungan yang semakin memperbesar risiko disrupsi serupa di masa mendatang,” tutur Beyrra.

Namun, berbagai kejadian blackout di masa lalu dan utang PLN yang terus menumpuk tidak mendorong pemerintah beranjak dari paradigma sistem energi fosil berskala besar dan terpusat yang mahal sekaligus rentan. Itu tercermin dari dokumen Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2025-2060 dan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Dalam kedua dokumen itu, pemerintah masih melanggengkan penggunaan energi fosil dan memasukkan solusi palsu yang semakin memperbesar risiko krisis iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau