KOMPAS.com - Pemerintah berencana membangun fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) di Makassar. Hal ini dilakukan usai penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pemerintah Kota Makassar, Kabupaten Gowa, dan Kabupaten Maros.
“Dengan timbulan sampah yang mencapai hampir 2.000 ton per hari di Makassar Raya, pendekatan waste to energy menjadi solusi efektif untuk mengurangi beban tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus menghasilkan energi bersih," ungkap Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).
Ia menekankan bahwa pembangunan PSEL merupakan solusi guna menyelesaikan persoalan sampah perkotaan yang kian mendesak.
Baca juga: 34 Proyek WtE Dibangun Atasi Darurat Sampah, Green Jobs Terbuka untuk Berbagai Jurusan
Percepatan pembangunan PSEL dinilai sebagai bagian dari perubahan pengelolaan sampah nasional menuju sistem yang modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
"Pemerintah juga menargetkan penghentian praktik open dumping di seluruh TPA pada 2026, mengingat saat ini sekitar 66 persen TPA di Indonesia masih menggunakan sistem tersebut," tutur Hanif.
Makassar disebut harus mengembangkan fasilitas pengelolaan sampah modern. TPA Tamangapa, misalnya, kini kelebihan beban dan masih menggunakan sistem open dumping.
Berdasarkan data KLH tahun 2025, timbulan sampah di Makassar mencapai 1.644 ton per hari. Sampah ini berasal dari Kota Makassar (1.034 ton/hari), Kabupaten Gowa (403 ton/hari), dan Kabupaten Maros (207 ton/hari).
Hanif memerinci, PSEL akan mengelola 1.000 ton sampah per hari. Komposisinya, 800 ton/hari dari Makassar, 150 ton/hari dari Gowa, dan 50 ton/hari dari Maros.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman menyatakan pihaknya siap menyediakan lahan pembangunan PSEL.
Baca juga: Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
“Provinsi dan kabupaten/kota siap berkolaborasi, termasuk melalui penguatan edukasi dan pembentukan budaya masyarakat yang adaptif terhadap sistem pengelolaan sampah modern," sebut dia.
Sebelumnya, Pemprov Jawa Timur (Jatim) menyatakan siap mempercepat pembangunan fasilitas WtE di Surabaya dan Malang Raya. Hal ini dilakukan usai Pemprov Jatim menandatangani nota kesepahaman dan perjanjian kerja sama (PKS) dengan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).
KLH mencatat, Surabaya yang terdiri dari Kota Surabaya, Kabupaten Gresik, Kabupaten Lamongan, dan Kabupaten Sidoarjo, memiliki timbulan sampah 3.692 ton per hari. Fasilitas PSEL direncanakan akan dibangun di Kelurahan Sumberejo, Kecamatan Pakal untuk mengela 1.100 ton sampah per hari.
Sedangkan Malang Raya yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, memiliki timbulan sampah 1.947 ton per hari. Hanif menyebut, PSEL akan dibangun di Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, guna mengelola 1.038 ton sampah per hari.
Dengan begitu, fasilitas PSEL di Surabaya dan Malang diharapkan mampu meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah sekaligus memproduksi energi listrik terbarukan, mendukung target pengelolaan sampah nasional hingga 100 persen pada 2029.
“Provinsi ini menjadi provinsi dengan sampah terkelola tertinggi di Indonesia, lebih dari 50 persen berhasil dikelola. Ini pencapaian luar biasa, dan saya berharap provinsi ini dapat terus mengatasi timbulan sampah di wilayahnya apalagi dengan adanya fasilitas PSEL ke depannya," tutur Hanif, Senin (30/3/2026).
Pendandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan PKS dengan Pemprov Jawa Tengah pun digelar terkait pembangunan PSEL di Semarang. Wilayah Semarang yang meliputi Kota Semarang dan Kabupaten Kendal, menghasilkan sampah sebesar 1.627 ton per hari. PSEL Semarang Raya direncanakan mengolah sekitar 1.100 ton per hari.
Proyek PSEL tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan.
Pada tahap awal, pemerintah akan membangun fasilitas di Bogor Raya, Bekasi, Bali, dan Yogyakarta. Sejauh ini, Danantara Indonesja telah mengumumkan mitra terpilih untuk fasilitas PSEL di Bekasi dan Denpasar.
Perusahaan itu antara lain Wangneng Environment Co Ltd sebagai operator untuk pembangkit di Bekasi dan Zhejiang Weiming Environment Protection Co Ltd. operator untuk pembangkit di Denpasar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya