Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
SEORANG petani di salah satu nagari di Sumatera Barat berkata dengan nada setengah mengeluh, “Dulu kami tahu kapan hujan datang. Sekarang, kami hanya menunggu.”
Kalimat sederhana itu menyimpan kegelisahan yang tidak kecil. Bukan sekadar perubahan cuaca, tetapi perubahan pola hidup yang selama ini menjadi pegangan.
Apa yang dirasakan petani itu bukan kasus tunggal. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak masyarakat desa mulai merasakan bahwa musim tidak lagi bisa ditebak.
Hujan datang tidak menentu, kemarau terasa lebih panjang, dan suhu siang hari kian menyengat.
Namun, di balik pengalaman yang nyata itu, ada satu hal yang sering luput: masyarakat tidak selalu memiliki kerangka pengetahuan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Di tingkat global, perubahan iklim telah menjadi isu besar yang dibahas dalam forum-forum internasional, laporan ilmiah, hingga kebijakan nasional. Namun di tingkat tapak, terutama di desa-desa, isu ini masih terasa jauh dan abstrak.
Istilah-istilah seperti emisi karbon, mitigasi, atau adaptasi kerap terdengar asing, bahkan tidak relevan dengan keseharian warga.
Baca juga: Indonesia yang Malang dengan Nikelnya
Di sinilah letak persoalannya. Kita berbicara tentang krisis iklim dalam bahasa yang tidak membumi, sementara dampaknya justru paling kuat dirasakan oleh mereka yang hidup paling dekat dengan alam.
Pengalaman melakukan literasi iklim di sekolah dan masyarakat menunjukkan bahwa persoalan utama bukanlah ketidakpedulian, melainkan kesenjangan pemahaman.
Ketika siswa ditanya mengapa cuaca terasa lebih panas, sebagian besar hanya menjawab, “karena matahari.”
Ketika masyarakat ditanya mengapa hasil panen tidak menentu, jawaban yang muncul sering kali berhenti pada “cuaca sedang tidak bagus.”
Jawaban-jawaban ini tidak salah, tetapi belum cukup. Tanpa pemahaman yang lebih utuh, sulit bagi masyarakat untuk melihat hubungan antara aktivitas manusia, perubahan lingkungan, dan dampak yang mereka rasakan sendiri.
Di sisi lain, pendekatan literasi yang selama ini dilakukan juga perlu dikritisi. Banyak program sosialisasi perubahan iklim masih bersifat satu arah, penuh istilah teknis, dan kurang mengaitkan materi dengan pengalaman lokal. Akibatnya, informasi tidak benar-benar terinternalisasi.
Padahal, ketika pendekatan diubah—dari ceramah menjadi dialog—hasilnya sangat berbeda. Dalam diskusi kampung, misalnya, warga diminta menceritakan perubahan musim yang mereka rasakan dalam 10–20 tahun terakhir. Percakapan menjadi hidup.
Ada yang bercerita tentang waktu tanam bergeser, ada yang mengeluhkan air semakin sulit didapat, dan ada pula yang menyebutkan serangan hama yang makin sering.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya