Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Dari situ, perlahan dibangun pemahaman bahwa perubahan-perubahan tersebut bukan berdiri sendiri. Ada proses yang lebih besar yang sedang berlangsung, dan manusia turut berperan di dalamnya.
Hal yang sama terjadi di sekolah. Ketika siswa diajak melakukan eksperimen sederhana tentang panas yang terperangkap dalam botol tertutup, konsep efek rumah kaca yang sebelumnya abstrak menjadi lebih mudah dipahami.
Mereka tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi melihat dan merasakan langsung.
Baca juga: Dinamika ENSO 2026, Membaca Sinyal Alam di Tengah Narasi “Godzilla”
Pendekatan seperti inilah yang seharusnya menjadi arus utama literasi iklim: sederhana, kontekstual, dan berbasis pengalaman.
Lebih jauh lagi, literasi iklim tidak boleh berhenti pada pemahaman. Ia harus berlanjut pada tindakan, sekecil apa pun.
Di tingkat sekolah, ini bisa berupa kebiasaan mematikan listrik yang tidak terpakai atau mengelola sampah dengan lebih baik.
Di tingkat desa, bisa berupa gotong royong membersihkan saluran air, menanam pohon, atau mulai mencoba praktik pertanian yang lebih adaptif.
Memang, langkah-langkah ini terlihat kecil jika dibandingkan dengan besarnya persoalan perubahan iklim. Namun, di sinilah letak kekuatannya. Perubahan besar selalu berawal dari perubahan kecil yang dilakukan secara kolektif.
Yang kita butuhkan saat ini bukan hanya kebijakan besar atau komitmen internasional, tetapi juga gerakan literasi yang tumbuh dari bawah. Desa dan sekolah bukan sekadar objek sosialisasi, melainkan subjek yang harus dilibatkan secara aktif.
Jika masyarakat memahami apa yang terjadi, mengapa itu terjadi, dan apa yang bisa mereka lakukan, maka kita tidak hanya membangun kesadaran, tetapi juga ketahanan.
Musim mungkin tidak lagi sama seperti dulu. Namun, cara kita merespons perubahan itulah yang akan menentukan masa depan.
Dan itu harus dimulai dari tempat yang paling dekat dengan kehidupan kita: desa dan sekolah.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya