Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gen Z dan Karyawan Senior Berpengalaman Makin Sulit Cari Kerja

Kompas.com, 20 April 2026, 18:46 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sulitnya mencari pekerjaan kini dialami generasi Z (Gen Z) dan para pekerja senior yang memiliki pengalaman bekerja.

Guru Besar sekaligus Pakar Ketenagakerjaan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), Tadjuddin Noer Effendi menilai hal ini dikarenakan terbatasnya lapangan kerja.

"Memang lapangan kerjanya terbatas sekarang, investasinya terbatas," ujar Tadjuddin saat dihubungi, Senin (20/4/2026).

Dia menambahkan, tak sedikit perusahaan mengandalkan proses rekrutmen melalui jaringan internal atau referensi karyawan dibandingkan harus membuka lowongan kerja. Sehingga, kesempatan para pencari kerja menjadi kian sempit dan kompetitif.

Baca juga: Gen Z Kerap Dicap Lembek di Tempat Kerja, Mitos atau Realita?

Tadjuddin juga menyoroti ekspektasi Gen Z yang kerap meminta gaji di atas kompetensi mereka, meski masih minim penhalaman.

"Saya pernah wawancarai seorang yang baru lulus sarjana, saya tanya 'kamu apa ahlinya?', katanya ahli komputer. Dia bilang 'di pekerjaan itu saya minta Rp 15 juta per bulan Pak', perusahaan biasanya enggak mau, mau carinya yang upah minimum kan," tutur Tadjuddin.

Di sisi lain, generasi Z memiliki keunggulan dalam hal adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Mereka terbiasa dengan digitalisasi, media sosial, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang menjadi modal penting di dunia kerja modern.

Baca juga: Atasan Cenderung Bebani Pekerjaan Lebih Banyak ke Pekerja yang Rajin, Mengapa?

Kemampuan itu membuat Gen Z lebih fleksibel dalam mencari peluang salah satunya melalui platform digital dan ekonomi kreatif.

Sementara itu, pelamar senior berpengalaman lebih sering ditolak perusahaan karena overqualified alias memiliki kualifikasi terlalu tinggi untuk posisi yang tersedia. Ekspektasi gaji lebih tinggi kerap kali tidak sesuai dengan kemampuan finansial perusahaan.

Menurut Tadjuddin, fenomena ini diperparah sistem pengupahan di Indonesia yang dinilai belum mempertimbangkan faktor pendidikan, pengalaman, hingga keterampilan pekerja. 

"Upah minimum selalu didasarkan kepada inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan indeks. Tetapi kan enggak pernah upah minimum itu mempertimbangkan pendidikan, pengalaman, keahlian seseorang dipukul rata semua, itu enggak bisa," jelas dia.

Seharusnya, upah pekerja didasarkan dengan latar belakang pendidikan ataupun keterampilan. Kondisi ini pula yang membuat Gen Z pada akhirnya lebih selektif memilih pekerjaan.

"Katakan dia punya pengalaman, dia punya keahlian dalam bidang komputer atau apa kemudian dibayar dengan upah minimum ya enggak maulah mereka. Pergilah mereka, cari tempat yang lebih bagus," ucap Tadjuddin.

Perusahaan Enggan Buka Rekrutmen 

Diberitakan sebelumnya, hasil survei internal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menunjukkan mayoritas perusahaan di Indonesia enggan merekrut karyawan. Padahal setiap tahun ada 3,5 juta pencari kerja baru di dalam negeri.

Setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa menyerap antara 200.000-400.000 tenaga kerja apabila investornya bersifat padat karya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau