Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan Terbaru: 266 Juta Penduduk Dunia Hadapi Krisis Pangan Akut

Kompas.com, 27 April 2026, 11:10 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan Global tentang Krisis Pangan 2026 yang dirilis oleh aliansi badan-badan PBB, Uni Eropa, dan para mitra, menemukan bahwa 266 juta orang di 47 negara mengalami tingkat kerawanan pangan akut yang parah pada tahun 2025.

Angka ini mencakup hampir seperempat dari populasi yang dianalisis dan hampir dua kali lipat dibanding angka tahun 2016.

Tingkat kerawanan pangan akut sendiri merupakan kondisi di mana sebuah populasi tidak mampu mengonsumsi makanan yang cukup dalam waktu singkat, sehingga nyawa atau mata pencaharian mereka berada dalam bahaya segera.

Laporan ini pun menggambarkan situasi yang suram bahwa kelaparan bukan lagi sekadar rangkaian keadaan darurat jangka pendek, melainkan tantangan global yang terus-menerus dan semakin terpusat di wilayah tertentu.

“Kerawanan pangan akut saat ini tidak hanya meluas tetapi juga terus-menerus dan selalu berulang,” ujar Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Qu Dongyu.

Melansir laman resmi United Nations, Jumat (24/4/2026) ia juga memperingatkan bahwa krisis ini telah menjadi masalah struktural, bukan lagi sekadar masalah sementara.

Baca juga: Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total

Konflik jadi penyebab utama

Sementara itu, konflik tetap menjadi penyebab utama, yang mengakibatkan lebih dari separuh penduduk dunia menghadapi kelaparan parah.

Sepuluh negara yakni Afganistan, Bangladesh, Republik Demokratik Kongo, Myanmar, Nigeria, Pakistan, Sudan Selatan, Sudan, Suriah, dan Yaman menyumbang dua pertiga dari seluruh jumlah orang yang mengalami tingkat kelaparan akut yang tinggi.

Pada tingkat yang paling ekstrem, kelaparan hebat dipastikan terjadi pada tahun 2025 di Gaza dan beberapa wilayah di Sudan. Ini adalah pertama kalinya sejak laporan ini dimulai, ada dua bencana kelaparan besar yang tercatat dalam satu tahun yang sama.

“Laporan ini adalah seruan untuk bertindak untuk mengumpulkan tekad politik demi mempercepat investasi bantuan kemanusiaan, dan bekerja keras menghentikan konflik yang menyebabkan begitu banyak penderitaan bagi banyak orang,” ungkap Sekjen PBB António Guterres.

Laporan tersebut juga menyoroti peningkatan tajam pada tingkat keparahan kelaparan.

Lebih dari 39 juta orang di 32 negara menghadapi tingkat kerawanan pangan darurat, sementara jumlah orang yang mengalami kelaparan tingkat bencana telah meningkat sembilan kali lipat sejak tahun 2016.

Anak-anak paling terdampak

Anak-anak termasuk kelompok yang paling terdampak. Pada tahun 2025, sebanyak 35,5 juta anak mengalami gizi buruk akut, termasuk hampir 10 juta anak yang menderita gizi buruk sangat parah, sebuah kondisi berbahaya yang sangat meningkatkan risiko kematian.

“Anak-anak dengan kondisi ini badannya terlalu kurus untuk tinggi mereka. Sistem kekebalan tubuh mereka melemah hingga penyakit anak-anak yang biasa pun bisa menjadi mematikan,” papar juru bicara UNICEF, Ricardo Pires.

Di wilayah-wilayah yang paling parah terdampak termasuk Gaza, Myanmar, Sudan Selatan, dan Sudan berbagai krisis yang terjadi bersamaan, seperti konflik, penyakit, dan terbatasnya akses ke layanan kesehatan, memicu tingkat gizi buruk yang ekstrem serta meningkatkan risiko kematian.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau