Tak heran, lebih dari 85 juta orang terpaksa mengungsi di wilayah-wilayah yang mengalami krisis pangan tahun lalu. Para pengungsi ini secara konsisten menghadapi tingkat kelaparan yang lebih tinggi dibandingkan penduduk asli yang mereka tinggali.
“Pengungsian paksa dan kerawanan pangan saling berkaitan erat dan membentuk lingkaran setan,” ujar Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi, Barham Salih.
Meskipun skala krisisnya sangat besar, laporan ini memperingatkan bahwa pendanaan justru menurun.
Dana kemanusiaan dan pembangunan untuk menangani masalah pangan dan gizi telah merosot kembali ke tingkat yang terakhir kali terlihat hampir satu dekade lalu. Hal ini membatasi kemampuan pemerintah dan organisasi bantuan untuk memberikan respons secara efektif.
Di saat yang sama, banyak negara yang sedang dilanda krisis tidak mampu melakukan pendataan karena situasi keamanan yang buruk atau rusaknya birokrasi.
Baca juga: Laut Kunci Atasi Krisis Pangan Dunia, tapi Indonesia Tak Serius Menjaga
Jumlah negara yang mampu menghasilkan penilaian ketahanan pangan yang akurat telah merosot ke tingkat terendah dalam sepuluh tahun. Ini berarti, skala kelaparan yang sebenarnya mungkin jauh lebih besar daripada perkiraan yang ada saat ini.
Menurut laporan prospek tahun 2026 pun tetap suram. Konflik yang terus berlanjut, guncangan iklim, dan ketidakstabilan ekonomi diperkirakan akan membuat kerawanan pangan tetap berada pada tingkat kritis di banyak negara.
Laporan tersebut juga menandai risiko-risiko baru terkait gangguan pasar global, termasuk yang berasal dari krisis di Timur Tengah yang masih berlangsung. Hal ini dapat semakin meningkatkan harga pangan dan memperberat beban rantai pasok.
Lembaga bantuan memperingatkan bahwa tanpa perubahan, dunia berisiko terjebak dalam lingkaran krisis yang semakin dalam. Kelaparan bukan lagi sekadar keadaan darurat sementara, melainkan ciri permanen dari ketidakstabilan global.
“Kita harus berubah dari sekadar bereaksi saat sudah terlambat menjadi bertindak lebih awal, dan dari hanya mengandalkan bantuan makanan menjadi melindungi produksi pangan lokal karena itulah cara kita mengurangi kebutuhan, menyelamatkan nyawa, dan membangun ketahanan jangka panjang,” tambah Dongyu.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya