Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inggris Masukkan Sektor Aviasi dan Maritim ke Anggaran Karbon

Kompas.com, 28 April 2026, 21:26 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Emisi dari sektor penerbangan dan pelayaran akan resmi dimasukkan ke dalam anggaran karbon Inggris, yakni mulai periode Anggaran Karbon Keenam (tahun 2033 hingga 2037).

Aturan ini ditetapkan di bawah undang-undang baru yang diajukan oleh Pemerintah.

Menteri Perubahan Iklim, Katie White, mengonfirmasi langkah tersebut melalui surat kepada ketua Komite Seleksi Transportasi, Ruth Cadbury.

Melansir Edie, Senin (27/4/2026) aturan hukum ini akan menyelaraskan emisi penerbangan dan pelayaran internasional dengan rencana yang sudah ada.

Hal ini memastikan emisi tersebut dihitung bersama sektor lainnya dalam kerangka kerja net-zero Inggris hingga tahun 2050.

Aturan terpisah juga menetapkan bahwa penggunaan "kredit internasional" untuk Anggaran Karbon Kelima (2028–2032) adalah nol. Artinya, Inggris harus benar-benar mengurangi emisinya sendiri tanpa bergantung pada pembelian kredit dari luar negeri.

Baca juga: Inggris Kucurkan Rp 115 Miliar untuk Krematorium agar Beralih ke EBT

Pemerintah menyatakan bahwa perubahan ini tidak mengubah target iklim yang sudah ada ataupun menetapkan batasan baru khusus untuk sektor tersebut. Langkah ini lebih kepada meresmikan praktik pencatatan emisi yang sebenarnya sudah diperhitungkan dalam rencana kebijakan sebelumnya.

Komite parlemen dan penasihat iklim pemerintah sendiri, yaitu Climate Change Committee (CCC), sebelumnya telah mendesak agar emisi dari sektor-sektor ini segera dimasukkan dalam hitungan resmi.

Tantangan dekarbonisasi di sektor penerbangan

Di sektor penerbangan, Pemerintah menargetkan pengurangan emisi hingga 6,3 juta ton CO2 pada tahun 2040. Bahan bakar pesawat berkelanjutan (SAF) diharapkan menjadi kunci utamanya.

Berdasarkan aturan SAF di Inggris yang diperkenalkan tahun lalu, penggunaan bahan bakar ramah lingkungan ini wajib mencapai 10 persen pada tahun 2030 dan meningkat menjadi 22 persen pada tahun 2040.

Namun, masih ada keraguan apakah sektor ini mampu mencapai target tersebut. Permintaan dari industri ternyata belum sebanding dengan perkiraan pasokan, dan beberapa proyek produksi bahan bakar ini sedang mengalami kesulitan keuangan.

Para kritikus mengkhawatirkan apakah metode pembuatan bahan bakar pesawat ramah lingkungan saat ini benar-benar bisa mengurangi emisi secara total dari awal produksi hingga pemakaian.

Di saat yang sama, rencana perluasan bandara juga menjadi sorotan. Sebuah komite parlemen memperingatkan bahwa perluasan ini bisa membahayakan target net-zero.

Bandara Luton berencana meningkatkan kapasitas menjadi 32 juta penumpang per tahun, sementara Bandara Gatwick ingin menambah jumlah penerbangan hingga 100.000 setiap tahunnya.

Komite Audit Lingkungan menyatakan bahwa kebijakan yang ada saat ini belum cukup kuat untuk membersihkan sektor penerbangan agar sesuai dengan anggaran karbon negara.

Sektor pelayaran

Sektor pelayaran menghadapi tantangan yang serupa. Meskipun emisi dari kapal telah turun 30 persen sejak tahun 1990, sektor ini masih menyumbang 7,9 persen dari total emisi transportasi di Inggris pada tahun 2022.

Strategi terbaru pemerintah menetapkan target pengurangan emisi secara bertahap menuju target net-zero pada 2050. Pemilik kapal diwajibkan mengurangi emisi mereka sebesar 30 persen pada tahun 2030, dan meningkat menjadi 80 persen pada tahun 2040.

Baca juga: Emisi Gas Rumah Kaca Inggris Turun 2 Persen pada Tahun 2025

Namun upaya pembersihan emisi ini sulit dilakukan karena sifat industri pelayaran yang melintasi batas antarnegara, biayanya yang sangat mahal, serta ketidakpastian mengenai teknologi apa yang akan digunakan di masa depan.

Inggris berencana memasukkan sektor pelayaran domestik ke dalam sistem perdagangan karbon mereka (ETS) mulai tahun 2026. Sistem ini membatasi jumlah emisi dan memperbolehkan perusahaan untuk saling memperjualbelikan kuota polusi di mana perusahaan yang lebih cepat mengurangi emisi akan mendapatkan keuntungan finansial.

Namun, kelompok industri merasa khawatir karena belum siap. Kamar Dagang Pelayaran Inggris baru-baru ini meminta agar perluasan skema ini ditunda, dengan alasan kurangnya dukungan dari pemerintah.

Secara internasional, diskusi mengenai rencana penerapan pajak karbon global untuk sektor pelayaran sendiri masih terus berlanjut.

Pembicaraan di pertemuan Organisasi Maritim Internasional (IMO) sempat tertunda tahun lalu karena adanya penolakan dari Amerika Serikat. Sementara itu, negara-negara Eropa menunjukkan dukungan kuat untuk penetapan harga karbon global. Hal ini memicu potensi perbedaan pendapat yang lebih tajam saat negosiasi dimulai kembali minggu ini.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
Pemerintah Ingin Stop Impor BBM, IESR Sebut Tak Realistis
LSM/Figur
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
UMKM Digital Finance Tour Tangerang Perkuat Literasi Keuangan dan Pemasaran Digital Pelaku Usaha
Swasta
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut  yang Sulit Dipantau
Peran Vital Hiu: Bantu Kumpulkan Data Iklim Laut yang Sulit Dipantau
Pemerintah
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
INDEF: Salah Menyamakan Dampak Lingkungan PLTP dan PLTU
LSM/Figur
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Krisis Iklim: Tutupan Salju di Pegunungan Yunani Susut 58 Persen dalam 40 Tahun
Pemerintah
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Laju Deforestasi Hutan Tropis Global Turun, Tapi Tetap Mengkhawatirkan
Pemerintah
Momentum RI Raup 'Windfall Tax' Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
Momentum RI Raup "Windfall Tax" Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
LSM/Figur
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
Swasta
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
LSM/Figur
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Pemerintah
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
LSM/Figur
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau