Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi

Kompas.com, 6 Mei 2026, 10:50 WIB
Add on Google
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - SCG, melalui anak perusahaannya, PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi, membangun 4 SCG Mentari Waste Station di wilayah Sukabumi, Jawa Barat. Adapun lokasi waste station di antaranya berada di Desa Kebonmanggu, Wangunreja, dan Sukamaju. 

Selain waste station, SCG juga menyediakan 1 unit mobil pick-up operasional, serta mendistribusikan 5.000 karung untuk mendukung aktivitas pemilahan sampah di masyarakat. Perusahaan juga membangun bak pengumpulan sampah organik di Desa Kebonmanggu dan Sirnaresmi.

Peramas Wajananawat selaku Presiden Direktur PT Semen Jawa dan PT Tambang Semen Sukabumi menyatakan pengadaan berbagai fasilitas pengelolaan sampah ini merupakan upaya perusahaan menciptakan lingkungan yang bersih dan berkelanjutan.

Baca juga: Travoy Rest Tak Sekadar Tempat Singgah, Ada Pengolahan Sampah hingga Taman Buah

“Sejalan dengan prinsip “Inclusive Green Growth”, Melalui SCG Mentari, kami ingin mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sekaligus menciptakan sistem waste management berbasis komunitas yang berkelanjutan,” ujar dia dalam keterangan resmi, Rabu (6/5/2026).

Peramas Wajananawat menjelaskan SCG Mentari Waste Station beserta peralatan dan fasilitas pendukungnya diharapkan dapat mendorong terbentuknya budaya pengelolaan sampah terpadu di tengah masyarakat Kabupaten Sukabumi.

Fasilitas ini dirancang untuk mengakomodasi seluruh tahapan pengelolaan sampah secara terpadu, mulai dari pengumpulan, pemilahan, hingga pendistribusian ke pabrik PT Semen Jawa, untuk kemudian dijadikan bahan bakar alternatif.

Edukasi Publik

Selain berfungsi sebagai pusat pengelolaan sampah masyarakat, SCG Mentari Waste Station juga dihadirkan sebagai sarana edukasi publik berbasis seni untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian lingkungan.

Dalam program ini, SCG berkolaborasi dengan seniman asal Sukabumi, Edwin Do, untuk menghadirkan artwork atau lukisan di area waste station. Karya ini mengusung karakter visual yang ceria untuk mengubah persepsi ruang pengumpulan sampah menjadi area yang inspiratif, bernilai estetika, sekaligus bermanfaat bagi masyarakat.

Baca juga: SCG Genjot Semen Rendah Karbon, Kurangi Batu Bara, Pakai Sampah untuk Energi

Melalui sentuhan seni ini, pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan dan pentingnya pengelolaan sampah disampaikan secara kreatif dan lebih interaktif bagi masyarakat.

“Kami melihat langsung perubahan di masyarakat sejak SCG Mentari berjalan. Warga kini lebih aktif memilah dan mengelola sampah. Dukungan fasilitas dari SCG membuat kami semakin percaya diri untuk menjalankan pengelolaan sampah secara mandiri, dan kami bangga bisa menjadi bagian dari perubahan ini,” ujar Hadi Permana selaku Ketua SCG Warrior Mentari.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Dipicu Pemanasan Global, Kota Produsen Jeruk di Jepang Berganti jadi Produsen Alpukat
Pemerintah
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Dorong Lingkungan yang Berkelanjutan, Perusahaan Ini Bangun Fasilitas Pemilahan Sampah di Sukabumi
Swasta
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Pasca-Permenhut Baru, Investor Skeptis soal Pasar Karbon RI dan Birokrasi RI Dipertanyakan
Swasta
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
BRIN Siapkan 5 Teknologi Hadapi Banjir Rob di Pantura
Pemerintah
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Genjot Pasokan Mineral Kritis, ADB Siapkan Program Pembiayaan Baru di Asia
Pemerintah
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Permenhut Bisa Bikin Harga Karbon RI Lebih Kompetitif?
Swasta
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Daur Ulang Botol Tinta Jadi Meja Belajar, Upaya Kurangi Sampah Plastik
Swasta
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
PLTS 440 Megawatt Dibangun di Filipina, Telan Biaya Rp 5,23 Triliun
Swasta
Jabat Menteri LH Baru, Jumhur Hidayat Ingin 'Green Policing' Direplikasi secara Nasional
Jabat Menteri LH Baru, Jumhur Hidayat Ingin "Green Policing" Direplikasi secara Nasional
Pemerintah
Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Energi Terbarukan Lebih Murah dari Teknologi DAC untuk Kurangi Emisi Karbon
Pemerintah
Target Kurangi Emisi, Boeing Borong 20.000 Ton Kredit Penghapusan Karbon
Target Kurangi Emisi, Boeing Borong 20.000 Ton Kredit Penghapusan Karbon
Pemerintah
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Disertai Angin dan Petir Bakal Landa Sejumlah Wilayah
Waspada Cuaca Ekstrem, Hujan Disertai Angin dan Petir Bakal Landa Sejumlah Wilayah
Pemerintah
 Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Laut Aral Jadi Contoh Bahayanya Eksploitasi Air
Pemerintah
Kemenhut Sebut Vila di Taman Nasional Bali Barat Kantongi Izin
Kemenhut Sebut Vila di Taman Nasional Bali Barat Kantongi Izin
Pemerintah
Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
Perang Perparah Krisis Iklim, Besarnya Emisi Militer Tak Dilaporkan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau