KOMPAS.com - Studi dari Fudan University mengungkapkan, mikroplastik dapat memperparah pemanasan global. Menurut para peneliti, efeknya setara dengan 16 persen dampak karbon.
“Kami masih harus mempelajari lebih jauh berapa banyak mikroplastik yang sebenarnya ada di atmosfer dan bagaimana distribusinya, baik secara horizontal maupun vertikal. Ini belum menjadi kesimpulan akhir,” kata penulis studi, Drew Shindell dilansir dari Scientific American, Kamis (7/5/2026).
Warna ternyata memengaruhi seberapa banyak sinar matahari yang diserap atau dipantulkan, memengaruhi bagaimana objek memerangkap atau memancarkan panas ke atmosfer.
Para peneliti lantas mengukur sifat optik dari berbagai plastik berwarna. Dengan begitu, mereka dapat mengetahui berapa banyak sinar matahari yang diserap oleh berbagai warna serta ukuran plastik.
Baca juga: Potensi Tanaman Kelor, Mampu Saring Mikroplastik dalam Air
"Dari studi kami, kita dapat melihat bahwa partikel-partikel ini menyerap sekitar lima kali lebih banyak sinar matahari daripada yang dipantulkannya. Sehingga membuat planet kita lebih panas, yang (pada studi) sebelumnya tidak jelas," tutur Shindell.
Kata dia, partikel putih sebagian besar menyebarkan cahaya, warna yang lebih gelap seperti biru, merah, dan hitam dapat menyerap hingga 74,8 kali lebih banyak sinar matahari dibanding plastik yang tidak berwarna. Partikel tersebut mengubah energi menjadi panas di udara sekitarnya.
Mikroplastik berasal dari berbagai sumber seperti serat tekstil yang kini tersebar luas di darat, laut, hingga udara. Lebih dari 20 kali lipat partikel mikroplastik dilepaskan ke udara dari sumber yang ada daratan.
Baca juga: Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Mengutip laman Innovation News Network, setidaknya ada 1.300 partikel mikroplastik per meter persegi per hari di perkotaan. Studi lain mencatat, 94 persen mikroplastik terdapat di udara dengan ukuran kurang dari 10 mikrometer yang bisa mencapai bagian terdalam paru-paru.
Kondisi ini memicu kekhawatiran karena plastik bukan hanya berperan sebagai polutan di lingkungan, tetapi juga penyebab pemanasan di atmosfer.
Karenanya, para peneliti mendorong agar Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), memasukkan mikroplastik ke dalam perhitungan terkait krisis iklim.
“Penelitian kami menunjukkan bahwa model iklim perlu diperbarui. IPCC harus memperhatikan hal ini," ucap peneliti Fudan University, Hongbo Fu.
Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Climate Change itu juga menunjukkan pentingnya mengurangi ketergantungan manusia pada plastik, yang umumnya dibuat dari produk sampingan bahan bakar fosil.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya