Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Hantavirus yang Menginfeksi Penumpang Kapal Pesiar MV Hondius

Kompas.com, 8 Mei 2026, 13:31 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Dunia dihebohkan dengan teridentifikasinya hantavirus yang menewaskan tiga orang penumpang kapal pesiar MV Hondius di perairan Samudra Atlantik. Mengutip laman Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, infeksi hantavirus telah ada sejak lama. Di Indonesia, virus tersebut ditemukan pada 1980-

Hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging yakni penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya utamanya, masyarakat kerap tidak menyadari keberadaan virus yang dibawa hewan pengerat seperti tikus itu.

"Hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali," kata BKPK ditulis Jumat (8/5/2026).

Baca juga: WHO Pastikan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Samudra Atlantik Bukan Pandemi

Hantavirus adalah virus yang dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara mengandung partikel urin, feses, atau liur tikus, kontak langsung dengan luka terbuka pada kulit, dan permukaan yang terkontaminasi.

Menurut BKPK, hantavirus memiliki dua manifestasi utama penyakit yaitu hemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS). Banyak terjadi di Asia dan Eropa, menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, gagal ginjal

Kedua, hantavirus pulmonary syndrome (HPS) yang lebih sering ditemukan di Amerika dan bisa menyerang paru-paru dengan gejala sesak napas akut serta gagal napas. Rasio fatalitas kasus hantavirus mencapai 50 persen di beberapa tipe virus.

"Di Indonesia sendiri, virus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang menyebar melalui tikus rumah (Rattus rattus dan Rattus norvegicus). Karena tikus jenis ini hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas pada hutan atau satwa liar," jelas BKPK dalam keterangannya.

Penelitian di Indonesia menunjukkan, hantavirus tidak hanya ditemukan di daerah terpencil, tetapi juga di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, serta Denpasar. Satu studi kasus mengungkapkan, infeksi ditemukan pada pasien yang dirawat di rumah sakit di sejumlah kota besar.

Baca juga: Kerusakan Hutan Perparah Risiko Penularan Virus Nipah, Ini Penjelasan Ahli

Kembali Jadi Sorotan

BKPK menyampaikan, hantavirus kembali menjadi sorotan usai terjadinya peningkatan kasus di Asia Timur dan Eropa, wabah sporadis di Amerika Serikat, serta keterkaitan dengan perubahan iklim dan urbanisasi.

Perubahan iklim dinilai memengaruhi populasi hewan pengerat, meningkatkan reproduksi dan memperluas habitat mereka. Sementara, urbanisasi memperbesar kontak antara manusia dengan reservoir virus.

Karenanya, wabah tersebut harus menjadi isu dalam kebijakan kesehatan nasional lantaran banyak kasus yang tidak terdeteksi akibat gejalanya mirip penyakit lain.

"Kedua, reservoir melimpah. Indonesia memiliki setidaknya 15 spesies tikus yang terkonfirmasi membawa virus. Ketiga, Potensi Fatal Tinggi, CFR dapat mencapai puluhan persen pada kasus berat," beber BKPK.

Dengan begitu, hantavirus bukan sekadar penyakit langka, melainkan ancaman laten yang sistematis.

Berbeda dengan banyak penyakit infeksi lain, hantavirus tak bisa dikendalikan hanya dengan obat atau vaksin yang hingga kini belum disetujui secara luas. BKPK menekankan, pengendaliannya bergantung pada populasi tikus, perbaikan sanitasi lingkungan, edukasi, hingga surveilans berbasis risiko.

"Dibutuhkan pendekatan sistemik, pertama, integrasi surveilans. Hantavirus perlu masuk dalam sistem surveilans sindromik seperti demam akut tidak terdiagnosis, bukan hanya surveilans penyakit spesifik," papar BKPK.

Kedua, penguatan diagnosis melalui pemeriksaan serologi dan PCR terutama di rumah sakit rujukan. Ketiga, pengendalian pengerat berbasis komunitas.

Program pengendalian tikus harus menjadi bagian dari kebijakan kesehatan lingkungan. Kemudian, edukasi publik dan integrasi dengan program eksisting.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau