Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030

Kompas.com, 8 Mei 2026, 15:15 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com-Microsoft mungkin akan memikirkan kembali salah satu target iklim terbesarnya yaitu memenuhi seluruh kebutuhan listrik mereka dengan membeli energi terbarukan pada 2030.

Pasalnya, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sangat cepat menyebabkan penggunaan energi meningkat drastis.

Diskusi ini masih berjalan dan belum ada keputusan akhir yang diambil.

Kebutuhan energi kecerdasan buatan

Melansir Know ESG, Kamis (7/5/2026) perubahan rencana ini menunjukkan besarnya tekanan yang dihadapi perusahaan teknologi saat mereka mempercepat pembangunan infrastruktur AI.

Microsoft, bersama perusahaan besar lainnya, telah mengeluarkan banyak uang untuk membangun pusat data baru demi mendukung produk AI seperti Copilot dan layanan awan Azure.

Baca juga: Microsoft Stop Sementara Pembelian Carbon Removal

Namun, fasilitas-fasilitas tersebut membutuhkan listrik dalam jumlah yang sangat besar, sehingga target ramah lingkungan menjadi semakin sulit dicapai.

Target energi bersih Microsoft ini sendiri dibuat sebelum adanya lonjakan tren AI yang mengubah skala kebutuhan listrik di seluruh industri teknologi.

Akan tetapi menurut laporan Bloomberg News, jaringan pusat data Microsoft yang terus meluas kini membuat janji-janji lingkungan yang dibuat sebelumnya menjadi sulit untuk diwujudkan.

Juru bicara Microsoft mengatakan bahwa perusahaan tetap berusaha mencari cara untuk terus menggunakan energi terbarukan.

Ia mencontohkan kesepakatan terbaru dengan perusahaan bernama We Energies yang akan menghadirkan proyek energi bebas polusi sebesar 1,2 gigawatt di Wisconsin, Amerika Serikat.

Proyek tersebut mencakup pembangunan fasilitas tenaga surya dan baterai penyimpanan yang diperkirakan mulai beroperasi pada akhir tahun 2028. Investasi ini merupakan bagian dari strategi besar Microsoft untuk mendapatkan sumber listrik yang lebih bersih sambil terus mendukung perkembangan layanan AI mereka yang sangat cepat.

Lonjakan kebutuhan listrik untuk AI juga telah memicu persaingan di antara perusahaan teknologi untuk mendapatkan pasokan energi yang stabil.

Microsoft, Amazon, dan Alphabet (induk Google) secara bersama-sama mengeluarkan biaya ratusan miliar dolar untuk membangun dan memperluas pusat data khusus AI di seluruh dunia.

Beberapa fasilitas yang direncanakan ini diperkirakan akan beroperasi dengan kapasitas hingga beberapa gigawatt. Sebagai gambaran, para ahli industri memperkirakan bahwa satu gigawatt listrik dapat menghidupi sekitar 750.000 rumah di Amerika Serikat.

Mencari sumber energi alternatif

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan listrik, perusahaan teknologi mulai mencari sumber energi alternatif selain energi terbarukan yang biasa digunakan.

Baca juga: PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok

Industri ini menunjukkan minat yang besar pada tenaga nuklir. Selain itu, gas alam juga mulai dilirik karena pembangunannya bisa dilakukan lebih cepat dibandingkan beberapa proyek energi terbarukan lainnya.

Tahun lalu, Microsoft menandatangani kesepakatan besar dengan perusahaan Constellation Energy untuk mendukung pengoperasian kembali salah satu unit di pembangkit listrik tenaga nuklir Three Mile Island di Pennsylvania.

Kesepakatan ini menunjukkan bahwa Microsoft bersedia menjalin kerja sama jangka panjang di bidang energi nuklir sebagai bagian dari strategi energi mereka secara keseluruhan.

Situasi ini menggambarkan tantangan besar yang dihadapi dunia teknologi saat ini yakni menyeimbangkan pembangunan infrastruktur AI yang sangat cepat dengan janji untuk menjaga lingkungan. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau