Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi

Kompas.com, 10 Mei 2026, 11:41 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Guardian

KOMPAS.com -Total emisi penerbangan Eropa terus meningkat meskipun ada janji dari industri untuk mengurangi karbon dan penggunaan pesawat yang lebih hemat bahan bakar.

Emisi dari penerbangan di Eropa kini telah melewati level sebelum pandemi, menurut hasil penelitian. Hal ini didorong oleh pertumbuhan besar-besaran dari maskapai bertarif rendah.

Melansir Guardian, Jumat (8/5/2026) analisis dari lembaga kajian Transport & Environment (T&E) menyebut salah satu contoh kenaikan yang bisa dilihat adalah emisi karbon dari maskapai Ryanair saja pada tahun 2025 mencapai 16,6 megaton (Mt).

Jumlah ini hampir sama dengan total emisi tahunan dari satu negara kecil di Eropa, seperti Kroasia. Maskapai tersebut mengangkut sedikit di atas 200 juta penumpang pada tahun 2025, jauh lebih banyak dibandingkan 140 juta penumpang pada tahun 2019. Artinya, jejak karbon maskapai Ryanair 50 persen lebih tinggi dibandingkan tahun 2019,

Baca juga: Perang AS-Israel vs Iran Picu Kenaikan Tarif Penerbangan hingga Ganggu Pendidikan

Sementara itu seluruh sektor penerbangan Eropa menghasilkan 195 Mt emisi karbon dari penerbangan yang berangkat tahun lalu, naik 2 persen dibandingkan level sebelum pandemi Covid menghentikan perjalanan internasional.

Meskipun Uni Eropa dan Inggris telah mencoba mengatur dampak lingkungan melalui sistem perdagangan emisi (ETS), lembaga T&E mengatakan bahwa sistem ini belum mencakup sebagian besar polusi penerbangan.

Hal ini dikarenakan sistem tersebut hanya menghitung penerbangan yang dilakukan di dalam wilayah Eropa saja. Artinya, penerbangan jarak jauh dengan pesawat besar yang membakar lebih banyak bahan bakar tidak termasuk dalam aturan tersebut.

Maskapai yang lebih sering terbang di dalam Eropa justru harus membayar lebih mahal. Contohnya Ryanair membayar rata-rata 50 Euro per ton karbon, sementara Lufthansa hanya membayar sekitar 20 Euro.

Sebagai gambaran, rute London-New York saja menghasilkan hampir 1,4 juta ton emisi pada tahun 2025, tetapi sama sekali tidak terkena aturan biaya karbon ini.

Lembaga T&E ingin agar sistem biaya karbon diberlakukan untuk semua jadwal penerbangan yang berangkat. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendapatan negara dan mempercepat proses pengurangan polusi pesawat yang selama ini berjalan lambat.

Langkah ini diperkirakan bisa melipatgandakan pendapatan negara-negara Uni Eropa hingga empat kali lipat dari angka 4,1 miliar Euro pada tahun 2030. Uang tersebut nantinya bisa digunakan untuk mendanai pembuatan bahan bakar pesawat yang ramah lingkungan serta upaya untuk mengurangi contrails atau jejak awan putih di langit hasil sisa pembuangan pesawat yang dapat memperparah pemanasan global.

Lebih lanjut, meskipun industri penerbangan berusaha membujuk pemerintah untuk menghentikan atau melonggarkan biaya karbon dan pajak lainnya selama krisis Timur Tengah, laporan ini menemukan bahwa biaya sistem karbon sebenarnya sangat kecil dibandingkan dengan perubahan harga bahan bakar.

Baca juga: SAF Berbasis Limbah Sawit Diusulkan Masuk Kebijakan Mandatori

Harga bahan bakar pesawat yang naik hampir dua kali lipat sejak perang di Timur Tengah menambah biaya sekitar 90 Euro per penumpang untuk penerbangan jarak jauh.

Sebagai perbandingan, biaya untuk mematuhi aturan penggunaan bahan bakar ramah lingkungan hanya menambah sekitar 3 Euro saja.

“Harga tiket naik karena ketergantungan Eropa pada bahan bakar fosil, bukan karena aturan lingkungan yang bertujuan untuk menjauhkan sektor ini dari bahan bakar tersebut,” kata Giacomo Miele, penulis analisis dari T&E.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau