Editor
KOMPAS.com - Raksasa teknologi Apple, menjadi salah satu investor global yang menanamkan dana jutaan dollar AS di industri kacang makadamia di Queensland, Australia.
Investasi ini dilakukan untuk mengembangkan aset modal alam (natural capital assets) yang dapat menyerap karbon sekaligus menghasilkan keuntungan dari pertanian berkelanjutan.
Di kawasan antara Bundaberg dan Woodgate, sekitar 350 kilometer di utara Brisbane, hampir 800.000 pohon makadamia muda ditanam di lahan seluas 1.800 hektar yang sebelumnya digunakan untuk budidaya tebu intensif.
Proyek yang diberi nama Project Paradise itu menjadi salah satu kebun makadamia terbesar di Australia. Sekitar 100 hektar dari total lahan juga dialokasikan untuk restorasi lingkungan.
Baca juga: Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Investasi tersebut dikelola oleh Climate Asset Management (CAM), perusahaan investasi berbasis di London. CAM telah menghimpun lebih dari 1 miliar dollar AS melalui Natural Capital and Nature Based Carbon Fund bersama Restore Fund milik Apple untuk membiayai proyek-proyek berbasis alam.
Chief Investment Officer CAM, Ben O'Donnell, mengatakan minat investor terhadap aset modal alam terus meningkat seiring upaya diversifikasi portofolio menuju target emisi nol bersih.
“Kami melihat peningkatan minat investor terhadap peluang di sektor modal alam untuk membantu menyeimbangkan portofolio investasi yang menargetkan net zero,” ujarnya sebagaimana dikutip dari ABC, Senin (11/5/2026).
Apple menargetkan seluruh aktivitas bisnisnya, termasuk rantai pasok dan penggunaan produknya, mencapai netral karbon pada 2030.
Dalam pembaruan Restore Fund pada 2025, Apple menyebut Project Paradise sebagai investasi pada proyek pengelolaan lahan regeneratif yang dapat menghasilkan pendapatan dari praktik pertanian dan kehutanan berkelanjutan.
Menurut Apple, proyek tersebut akan memperbaiki kualitas tanah, meningkatkan efisiensi penggunaan air, memperkuat keanekaragaman hayati, serta menyerap karbon.
Kegiatan operasional di lapangan dikelola oleh perusahaan lokal, Macadamia Farm Management.
Direktur Macadamia Farm Management, Scott Allcott, mengatakan wilayah Bundaberg memiliki kombinasi curah hujan dan karakteristik tanah yang sulit ditandingi daerah lain.
“Makadamia adalah cara investasi yang lebih bersih dibandingkan menaruh uang di batu bara atau sektor yang lebih buruk,” kata Allcott.
Baca juga: Prabowo Teken Perpes 110 Tahun 2025, Disebut Bisa Percepat Investasi Hijau
Selain CAM, perusahaan investasi global, New Forests, juga mengakuisisi portofolio lahan seluas 636 hektar di Queensland pada awal 2026.
Lebih dari separuh lahan tersebut telah menjadi kebun makadamia, sedangkan sebagian lahan penggembalaan akan dikonversi menjadi kebun baru. Sisanya dipertahankan sebagai vegetasi alami.
Director of Agriculture New Forests, Bruce King, mengatakan minat terhadap investasi pertanian berkelanjutan terus meningkat.
Menurut dia, kebun makadamia tidak hanya menghasilkan komoditas bernilai tinggi, tetapi juga menggunakan air lebih efisien dan membuka peluang pendapatan tambahan dari manfaat lingkungan.
Di Australia, perusahaan dapat memperoleh satu Australian Carbon Credit Unit (ACCU) untuk setiap ton emisi karbon dioksida ekuivalen yang berhasil diserap atau dicegah.
Namun, hingga kini belum ada metodologi resmi yang secara khusus mengatur kredit karbon untuk tanaman hortikultura tahunan seperti makadamia.
Meski begitu, investor tetap optimistis karena tanaman ini dinilai memiliki jejak emisi yang relatif rendah serta mampu menyimpan karbon di biomassa dan tanah.
Penelitian University of Tasmania yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science & Technology pada 2025 menunjukkan kebun makadamia di Australia secara umum berfungsi sebagai penyerap karbon bersih (carbon sink).
Baca juga: Trump Tarik AS dari Perjanjian Paris, Investasi Hijau Bisa Lari ke Negara Lain
Profesor Richard Eckard, yang terlibat dalam pengembangan perangkat akuntansi karbon Australia, menilai hingga kini belum ada dorongan kuat dari industri agar pemerintah menyusun metodologi kredit karbon khusus untuk kebun buah.
Meski demikian, meningkatnya minat investor global menunjukkan pertanian berbasis alam kian dipandang sebagai instrumen penting dalam strategi bisnis rendah karbon.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya