KOMPAS.com - Survei global terbaru dari perusahaan solusi berkelanjutan Onterris mengungkapkan sebagian besar eksekutif bisnis menghubungkan kesuksesan bisnis mereka dengan seberapa baik kinerja mereka dalam menjaga lingkungan pada setiap kegiatan operasionalnya.
Melansir ESG Dive, Senin (18/5/2026) survei tersebut menemukan bahwa sebagian perusahaan yang memiliki program lingkungan lebih maju punya peluang tiga kali lebih besar untuk mencapai target mereka lebih cepat.
Mereka juga memiliki peluang dua kali lebih besar untuk lebih mudah mendapatkan modal usaha dan menjadi lebih kompetitif.
Sembilan puluh persen dari 500 pemimpin perusahaan senior yang disurvei mengatakan bahwa mereka lebih mudah mendapatkan modal selama lima tahun terakhir, dengan 43 persen di antaranya melaporkan keuntungan yang sangat besar.
Laporan tersebut menemukan bahwa bagi hampir 8 dari 10 pemimpin perusahaan, kinerja yang baik dalam menjaga lingkungan memberikan dampak positif bagi posisi persaingan perusahaan mereka di pasar.
Baca juga: 13 Perusahaan Global PHK Karyawan karena Kehadiran AI
Sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa kinerja lingkungan ini sangat membantu menjaga kesetiaan pelanggan agar tidak pindah ke tempat lain, atau menjadi pendorong utama untuk memenangkan persaingan dan memperbesar bisnis mereka.
Survei yang dilakukan pada akhir tahun 2025 dan awal tahun 2026 ini mengumpulkan jawaban dari 500 petinggi pengambil keputusan, termasuk para direktur utama perusahaan (C-suite).
Dari seluruh peserta, 60 persen mewakili perusahaan di Amerika Utara, 20 persen di Eropa, dan 20 persen di Australia serta Selandia Baru, dengan pendapatan perusahaan mulai dari 250 juta hingga 5 miliar dolar AS.
Hampir semua pemimpin yang disurvei mengatakan mereka sudah punya rencana atau panduan khusus untuk urusan lingkungan. Sebanyak 76 persen di antaranya telah membuat target yang jelas dan bisa diukur, dan 75 persen melaporkan bahwa mereka berjalan di jalur yang tepat untuk mencapai target tersebut.
Lebih dari separuh peserta (54 persen) menyebut kinerja lingkungan sebagai "pilar inti" dari strategi dan pertumbuhan jangka panjang mereka. Sebanyak 30 persen lainnya menganggap hal itu sebagai pendorong inovasi di pasar, sementara hanya 16 persen yang melihatnya sekadar sebagai kewajiban untuk mematuhi aturan pemerintah atau mengurangi risiko.
Perusahaan-perusahaan juga melaporkan adanya penghematan biaya berkat perencanaan lingkungan yang matang.
Baca juga: Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat
Sebagian besar dari mereka berhasil memangkas biaya pengelolaan dan pembuangan limbah, di mana 31 persen di antaranya melaporkan penurunan biaya yang cukup besar (10 persen atau lebih) dan 33 persen lainnya melaporkan penghematan yang lumayan (kurang dari 10 persen).
Jumlah bos perusahaan yang melaporkan penghematan besar dan lumayan pada biaya energi serta pengolahan air juga hampir sama.
Jika dilihat berdasarkan jenis industrinya, 80 persen peserta dari industri pembuatan bahan kimia mengaku sudah memiliki strategi lingkungan khusus dengan target yang jelas, sementara rata-rata untuk semua sektor gabungan adalah 76 persen.
Di sisi lain, sektor pengelolaan sampah dan limbah padat serta sektor manufaktur industri menjadi yang paling banyak menjawab bahwa penerapan program lingkungan mereka masih berada di tahap awal. Bahkan, lebih dari sepertiga bos perusahaan di sektor pengelolaan sampah mengaku bahwa mereka terlambat dalam mencapai target lingkungan mereka.
Pendorong dari dalam perusahaan untuk membuat rencana lingkungan meliputi pengelolaan risiko yang lebih baik dan perencanaan ketahanan bisnis (47 persen), diikuti oleh kesempatan untuk membuat operasional kerja menjadi lebih hemat dan efisien (44 persen), serta kesempatan untuk beralih ke teknologi baru (40 persen).
Selain itu, lebih dari setengah pemimpin perusahaan mengatakan bahwa bonus atau gaji bagi para direktur utama di perusahaan mereka dikaitkan dengan kinerja lingkungan mereka.
Meskipun pencatatan nilai kinerja lingkungan sudah dilakukan secara meluas, tidak semua hal dianggap sama pentingnya.
Sebagai contoh, 84 persen perusahaan mencatat emisi gas rumah kaca langsung (Scope 1 dan 2), dan 80 persen mencatat penggunaan energi atau tingkat kehematan energi mereka.
Namun, laporan tersebut menyebutkan bahwa baru 35 persen perusahaan saja yang mencatat emisi scope 3 yaitu polusi tidak langsung yang dihasilkan oleh pihak luar seperti pemasok atau konsumen, karena data untuk bagian ini memang sangat sulit untuk dikumpulkan.
Baca juga: Permintaan Pasir Dunia Naik Drastis, PBB Peringatkan Dampak Lingkungan
Lebih lanjut, hanya sekitar setengah dari para pemimpin perusahaan yang sangat yakin dengan keakuratan dan kekuatan data kinerja lingkungan utama mereka.
Selain itu, 49 persen di antaranya mengatakan bahwa investor dan pihak bank pemberi pinjaman sering kali mempertanyakan atau meragukan data lingkungan yang mereka umumkan.
Sebagian besar dari mereka yaitu 70 persen mengatakan bahwa investor menuntut rencana perubahan iklim yang sangat rinci, yang menjelaskan bagaimana target pengurangan polusi akan dicapai.
“Kinerja lingkungan telah mencapai titik balik yang sangat penting,” kata Direktur Operasional Onterris, James Laws.
“Hal yang dulunya hanya dianggap sebagai kewajiban mematuhi aturan pemerintah, sekarang menjadi faktor yang sangat menentukan dalam cara perusahaan bekerja, mengatur modal uang, dan bersaing," paparnya lagi.
Tahap berikutnya adalah pelaksanaan nyata. Perusahaan-perusahaan yang bisa mengukur, membuktikan, dan bertindak berdasarkan data lingkungan akan menjadi yang terbaik dalam hal penghematan biaya, pengelolaan risiko, dan kepemimpinan pasar.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya