Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hari Keanekaragaman Hayati 2026: PBB Tekankan Peran Anak Muda hingga Masyarakat Adat

Kompas.com, 22 Mei 2026, 09:40 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (International Day for Biological Diversity) diperingati setiap 22 Mei untuk meningkatkan kesadaran global mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem dunia.

Tahun ini, PBB mengusung tema Acting locally for global impact atau Bertindak secara lokal untuk dampak global. Pesannya, perubahan besar dimulai dari tindakan kecil di tingkat lokal.

"Keberhasilan upaya membalikkan hilangnya keanekaragaman hayati bergantung pada kekuatan aksi masyarakat, organisasi, dan pemerintah yang bekerja bersama," tulis PBB dalam laman resminya, Jumat (22/5/2026).

Meski banyak pihak menyadari bahwa keanekaragaman hayati adalah aset global yang sangat berharga bagi generasi mendatang, jumlah spesies terus menurun akibat aktivitas manusia. Karena itulah PBB menetapkan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional untuk diperingati setiap tahun.

Baca juga: Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara

Peringatan ini turut menjadi momentum untuk mengajak pemerintah, organisasi non pemerintah, dan masyarakat bertindak nyata melindungi spesies serta ekosistem dari ancaman seperti kerusakan habitat, perubahan iklim, hingga polusi.

"Keanekaragaman hayati adalah jalinan kehidupan yang menopang umat manusia. Namun, krisis iklim, polusi, dan eksploitasi tanpa henti terhadap daratan, lautan, dan perairan tawar, mendorong alam menuju titik keruntuhan yang berdampak ke manusia, pekerjaan, dan pembangunan berkelanjutan," kata Sekretaris Jenderal, Antonio Guterres.

Dia menambahkan, perlindungan ekosistem telah disusun melalui Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal (KM-GBF). Kendati demikian, implementasinya perlu dipercepat melalui pendanaan, kebijakan, dan kerja sama antar pihak.

Guterres juga menekankan pentingnya peran masyarakat adat, perempuan, generasi muda, akademisi, dunia usaha, serta pemerintah daerah dalam upaya perlindungan dan pemulihan alam.

Baca juga: 13 Spesies Kuda Laut di RI Terancam akibat Perdagangan dan Kerusakan Habitat

"Perserikatan Bangsa-Bangsa mendukung Negara-Negara Anggota dalam aksi inklusif berbasis sains, memperbarui strategi dan rencana aksi keanekaragaman hayati nasional, memperluas kawasan lindung, memulihkan ekosistem, serta mengintegrasikan alam ke dalam rencana pembangunan berkelanjutan dan aksi iklim," jelas dia.

Mengutip laman resmi PBB, pada Desember 2022 negara-negara anggota menyepakati Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal yang menetapkan 23 target pada 2030. Selain itu, empat tujuan global untuk 2050 guna menghentikan dan membalikkan hilangnya alam.

Target utamanya antara lain memulihkan 30 persen ekosistem yang terdegradasi, melindungi 30 persen wilayah daratan, laut, dan perairan, mengurangi spesies invasif hingga 50 persen, serta memobilisasi pendanaan sebesar 200 miliar dollar AS per tahun untuk konservasi keanekaragaman hayati.

Manusia yang Ikut Terdampak

PBB mengungkapkan bahwa keanekaragaman hayati sering dipahami sebagai keberagaman tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Namun, konsep ini juga mencakup variasi genetik dalam setiap spesies, misalnya varietas tanaman dan jenis ternak serta keberagaman ekosistem seperti danau, hutan, gurun, dan lahan pertanian.

LIkan menyediakan 20 persen protein hewani bagi sekitar tiga miliar orang di dunia. 

Sementara, lebih dari 80 persen makanan manusia berasal dari tumbuhan. Sekitar 80 persen masyarakat pedesaan di negara berkembang pun bergantung pada obat tradisional berbasis tanaman untuk layanan kesehatan dasar.

Artinya, hilangnya keanekaragaman hayati akan mengancam kehidupan manusia. Ketiadaan biodiversitas terbukti dapat meningkatkan risiko zoonosis atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau