Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Permintaan Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik Dinilai Masih Prospektif

Kompas.com, 18 Mei 2026, 20:06 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Prospek nikel Indonesia untuk industri baterai kendaraan listrik dinilai masih menjanjikan, meski ada proyeksi bahwa porsi konsumsi domestik terhadap total produksi nasional akan tetap sangat kecil.

Riset Energy Shift Institute (ESI) memperkirakan kurang dari 1 persen produksi nikel Indonesia akan diserap oleh industri baterai dan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dalam negeri pada 2035.

Associate Principal ESI Ahmad Zuhdi Dwi Kusuma mengatakan, sekalipun seluruh kendaraan bermotor, terutama mobil, beralih ke kendaraan listrik pada 2035, kebutuhan nikel domestik tetap tidak akan signifikan dibandingkan produksi nasional.

Baca juga: Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035

“Perhitungan kami menunjukkan konsumsi nikel domestik untuk baterai dan EV di pasar dalam negeri tidak akan melebihi 1 persen dari produksi nikel Indonesia pada 2024,” ujar Zuhdi dalam webinar Menggali Wawasan Tata Kelola Mineral Kritis di Indonesia, Rabu (6/5/2026).

Namun, Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif menilai permintaan nikel untuk baterai masih memiliki peluang besar di masa depan.

Menurut dia, perkembangan teknologi baterai justru berpotensi meningkatkan penggunaan nikel, terutama pada baterai dengan densitas energi tinggi yang mampu memberikan jarak tempuh lebih jauh.

“Saya kurang sepakat. Kalau melihat perkembangan teknologi, baterai berbasis nikel masih punya prospek besar,” kata Aditya dalam forum MIND Club: Bincang-Bincang Baterai, Senin (18/5/2026).

Ia menjelaskan, teknologi baterai lithium-ion saat ini berkembang ke arah baterai anode-free*, yang menuntut material katoda dengan kepadatan energi tinggi. Dalam konteks tersebut, baterai berbasis nikel dinilai memiliki keunggulan dibandingkan baterai lithium iron phosphate (LFP).

Aditya menilai katoda berbasis nikel, khususnya jenis mid-nickel hingga high-nickel, masih memiliki potensi kuat untuk digunakan secara luas.

Nikel Dinilai Masih Relevan

Saat ini, baterai LFP mendominasi pasar global kendaraan listrik karena biaya produksinya lebih rendah dan tidak menggunakan nikel.

Meski demikian, Aditya mengatakan dominasi LFP tidak serta-merta menutup peluang baterai berbasis nikel, terutama jika teknologi baterai terus berkembang.

Menurut dia, teknologi baru seperti baterai sodium-ion dan solid-state juga masih membuka ruang bagi penggunaan nikel.

Pada baterai sodium-ion, salah satu kimia katoda yang tengah dikembangkan adalah Nickel Iron Manganese (NFM). Sementara pada baterai solid-state, material katoda yang digunakan tetap berpotensi memakai nikel, seperti Nickel Manganese Cobalt (NMC).

Baca juga: Hilirisasi Nikel Disebut Belum Dorong Penguatan SDM dan Industri Lokal

“Nikel masih bisa berperan dalam teknologi baterai masa depan,” ujar Aditya.

Aditya menilai Indonesia perlu memperkuat riset dan pengembangan (R&D) agar tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mampu mengikuti perubahan teknologi baterai.

Menurut dia, kebijakan hilirisasi perlu dibarengi dengan pembangunan kemampuan teknologi agar Indonesia dapat mempertahankan daya saing industri baterai nasional di tengah perubahan teknologi global.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Permintaan Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik Dinilai Masih Prospektif
Permintaan Nikel untuk Baterai Kendaraan Listrik Dinilai Masih Prospektif
BUMN
Cuaca Panas Kian Ekstrem Bikin Masyarakat Sulit Berolahraga
Cuaca Panas Kian Ekstrem Bikin Masyarakat Sulit Berolahraga
Pemerintah
Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat
Keterlibatan Investor Asia dalam Kebijakan Iklim Melonjak 3 Kali Lipat
Pemerintah
Mayoritas UMKM Belum Bisa Akses Kredit, CBI Luncurkan Platform 'Andalan'
Mayoritas UMKM Belum Bisa Akses Kredit, CBI Luncurkan Platform "Andalan"
Swasta
Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang
Kasus Obesitas Anak Melonjak Tajam di Negara Berkembang
Pemerintah
BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
BNPB Catat Banjir dan Longsor di Sejumlah Wilayah, Dua Orang Dilaporkan Tewas
Pemerintah
Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
Paparan Polusi Udara Jangka Panjang Tingkatkan Risiko Demensia Parkinson
LSM/Figur
PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak
PBB: Lebih dari 2 Miliar Orang di Dunia Tak Punya Hunian Layak
Pemerintah
Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
Krisis Iklim Picu Deoksigenisasi Sungai Tropis
LSM/Figur
Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen
Pemerintah
Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Sisi Lain Dampak Perubahan Iklim: Merusak Hubungan Sosial Antar Manusia
Pemerintah
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Menengok Si Toddler Panda Rio di Taman Safari Bogor, Tonggak Penting Konservasi Satwa Indonesia
Swasta
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial
LSM/Figur
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Dunia Bisnis Belum Siap Hadapi Bahaya Deepfake dan Kecerdasan Buatan
Pemerintah
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Warga Jakarta Dukung Program Pilah Sampah, tapi Fasilitas dan Sosialisasi Masih Minim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau