Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Anak Usaha SIG Kelola Limbah yang Dihasilkan Industri Migas

Kompas.com, 21 Mei 2026, 20:02 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

TANGERANG, KOMPAS.com - PT Semen Indonesia Group (SIG) mengolah limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan oleh ratusan perusahaan, menjadi alternatif bahan bakar maupun alternatif bahan baku untuk produksi semen.

Proses tersebut dikerjakan oleh Nathabumi, Divisi Alternative Fuel and Raw Material dari PT Solusi Bangun Indonesia Tbk selaku anak usaha perseroan.

Nathabumi mengolah limbah B3 dari industri petrokimia, otomotif, farmasi, food and beverage (F&B), sampai Fast-Moving Consumer Goods (FMCG).

"Kami sudah bekerja sama dengan lebih dari 50 perusahaan, baik upstream (hulu) maupun downstream (hilir), termasuk ‎juga dari perusahaan renewable energy, seperti panas bumi," ujar Koordinator West Sales Superintedent, Nathabhumi, Maulana Yusuf di booth-nya dalam 50th IPA Convention and Exhibition (IPA Convex) 2026 di Tangerang, Rabu (20/5/2026).

Baca juga: Bisa Dipakai Tapi Dibuang: Masalah Besar Limbah Fast Fashion

Nathabumi mengolah berbagai jenis limbah B3 dari beragam industri. Limbah dari aktivitas industri yang diserahkan ke Nathabumi biasanya yang sudah tidak dapat dikelola sendiri oleh perusahaan terkait.

Limbah dimaksud di antaranya endapan lumpur yang tercampur minyak, air, serta sedimen dari proses industri atau perkapalan, hingga potongan kain perca bekas pakai yang terkontaminasi bahan kimia, seperti pelumas, oli, atau cat.

Nathabumi juga mengolah batuan formasi yang terangkat ke permukaan bumi akibat aktivitas pengeboran atau limbah drilling cutting dari industri migas.

Limbah drilling cutting masih mengandung mineral yang dapat menjadi alternatif bahan baku untuk produksi semen.

"Termasuk (mengolah limbah) dari limbah waste water treatment sludge (WWTP sludge / produk samping berupa endapan padat atau semi-padat yang dihasilkan selama proses pemurnian air limbah di IPAL)," tutur Maulana.

Limbah padat

Menurut dia, Nathabumi juga mengelola limbah padat sisa pembakaran batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), fly ash dan bottom ash (FABA) untuk dijadikan bahan baku alternatif dalam produksi semen.

Alternatif bahan baku lain dari limbah industri yang biasanya digunakan untuk mengurangi klinker dalam produksi semen adalah kapur, pasir silika, pasir besi, sampai tanah liat (clay).

"Nah, itu kami membantu dalam hal sustainability ketersediaan bahan baku dengan menggantikannya dari limbah B3 atau non-B3 tadi yang mempunyai nilai ‎mineral content," ucapnya.‎

Selain itu, Nathabumi juga mengolah sampah dari 21 provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia untuk dijadikan refuse-derived fuel (RDF) sebagai alternatif bahan bakar. ‎‎

Baca juga: Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2

Dengan memanfaatkan mengelola limbah B3 dan sampah melalui metode co-processing, Nathabumi saat ini sudah mensubstitusi penggunaan batu bara dan pengurangan kandungan klinker sebesar 10-15 persen dalam proses pembakaran atau co-firing di pabrik semen.

"Untuk penggunaan limbah sebagai substitusi alternatif bahan baku atau alternatif bahan bakar di perizinan kami itu diperbolehkan hingga 20 persen ya. Yang telah kami lakukan saat ini kurang lebih sudah mencapai 10-15 persen," ujar Maulana.

Contoh limbah drilling cutting yang dipamerkan di booth Nathabumi  dalam acara 50th IPA Convention and Exhibition 2026 di Tangerang, Rabu (20/5/2026). Limbah drilling cutting masih mengandung mineral yang dapat menjadi alternatif bahan baku untuk produksi semen. Limbah drilling cutting juga masih mengandung minyak yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif bahan baku untuk menggantikan baru bara. Drilling cutting merupakan limbah dari aktivitas pengeboran dalam industri migas.Kompas.com/Manda Firmansyah Contoh limbah drilling cutting yang dipamerkan di booth Nathabumi dalam acara 50th IPA Convention and Exhibition 2026 di Tangerang, Rabu (20/5/2026). Limbah drilling cutting masih mengandung mineral yang dapat menjadi alternatif bahan baku untuk produksi semen. Limbah drilling cutting juga masih mengandung minyak yang bisa dimanfaatkan sebagai alternatif bahan baku untuk menggantikan baru bara. Drilling cutting merupakan limbah dari aktivitas pengeboran dalam industri migas.

Ke depannya, Maulana berharap, persentase limbah dari industri dan rumah tangga yang dapat terkelola Nathabumi menjadi substitusi alternatif bahan baku maupun alternatif bahan bakar semakin besar. Ia memperkirakan, saat ini kapasitas pengolahan limbah di Nathabumi sudah mampu mensubtitusi alternatif bahan baku dan alternatif bahan bakar sekitar 20 persen dalam produksi semen.

"Ya, kami tentunya perlu tahapan mengarah ke yang lebih baik atau ke
‎yang lebih banyak. Kembali lagi ke masalah kesadaran penghasil limbah atau ‎penghasil sampah juga untuk bisa men-support atau menyadari terkait aturan ‎maupun regulasi terhadap pengelolaan limbah dan sampah ini ke depannya," ucapnya.

Pemanfaatan alternatif bahan bakar dan alternatif bahan baku melalui pengelolaan limbah tersebut menjadi bagian dari dekarboniasi dalam produksi semen.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau