Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Picu Perombakan Habitat Tanaman pada 2100, Keanekaragaman Hayati di Asia Tenggara

Kompas.com, 8 Mei 2026, 10:30 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim akan memicu pergeseran jangkauan tumbuhan secara luas. Studi terbaru dari Universitas California, Davis mengungkapkan, sekitar 7-16 persen spesies tumbuhan diproyeksikan kehilangan lebih dari 90 persen jangkauannya, memosisikannya pada risiko kepunahan yang tinggi.

Temuan dari studi ini diperoleh dengan menggabungkan kecepatan pergeseran jangkauan spesifik spesies ke dalam model untuk memproyeksikan distribusi 67.664 tumbuhan atau 18 persen dari seluruh flora global pada tahun 2081 hingga 2100.

Kenaikan emisi gas rumah kaca (GRK) akan meningkatkan jumlah spesies dengan risiko kepunahan yang tinggi. Untuk mengurangi kepunahan spesies tumbuhan, temuan studi ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan mitigasi krisis iklim.

Baca juga: Dampak Nyata Perubahan Iklim, Mulai Pengaruhi Kehidupan Masyarakat Dunia

"Kehilangan ini terutama disebabkan oleh hilangnya habitat akibat perubahan iklim, bukan keterbatasan penyebaran. Dengan demikian, memfasilitasi pergeseran jangkauan dapat mempertahankan kekayaan lokal, tetapi tidak mengurangi kepunahan global," demikian keterangan dalam studi bertajuk yang diterbitkan dalam jurnal Science dikutip Jumat (8/5/2026).

Hilngnya habitat akibat krisis iklim diperkirakan akan menjadi penyebab kepunahan ini, bukan kemampuan tumbuhan untuk berpindah lokasi atau mengimbangi kenaikan suhu global.

Ini menunjukkan bahwa strategi konservasi yang berfokus pada migrasi terbantu, di mana manusia memfasilitasi pergeseran wilayah jelajah spesies, mungkin tidak efektif mengurangi kepunahan tumbuhan global akibat oleh krisis iklim. Namun, menggabungkan upaya tersebut dengan restorasi dan perlindungan habitatnya dari krisis iklim mungkin lebih efektif.

"Pada akhir abad ini, sebagian besar habitat yang sesuai akan hilang. Jika prioritas kita adalah mengurangi tingkat kepunahan spesies tumbuhan, maka pengurangan emisi secara agresif akan jauh lebih penting daripada tindakan lainnya," ujar penulis senior studi sekaligus profesor madya di Departemen Ilmu dan Kebijakan Lingkungan UC Davis, Xiaoli Dong, dilansir dari Phys.

Perombakan tanaman

Tingginya tingkat kepunahan diproyeksikan terjadi di Eropa selatan, Amerika Serikat bagian barat, dan Australia selatan, yang menimbulkan risiko bagi spesies yang vital secara ekonomi dan tumbuhan purba.

Misalnya, spikemoss (Selaginella) di California, salah satu garis keturunan tumbuhan berpembuluh tertua yang masih ada, yang berasal dari lebih dari 400 juta tahun yang lalu. Atau, eucalyptus di Australia, genus yang mencakup tiga perempat hutan asli benua itu dan sangat penting bagi keanekaragaman hayati, budaya masyarakat adat, serta industri kayu.

Amerika Serikat bagian barat , sebagian besar Eropa, dan Australia diperkirakan akan kehilangan keanekaragaman hayati karena wilayah jelajah banyak spesies menyusut. Namun, pergeseran jangkauan bisa meningkatkan kekayaan spesies lokal, yang merujuk pada jumlah spesies di suatu tempat tertentu. Sekitar 28 persen permukaan Bumi akan mengalami peningkatan kekayaan spesies lokal karena tumbuhan berpindah sebagai respons terhadap krisis iklim.

Baca juga: Perubahan Iklim Melahirkan Beban Berlapis Perempuan Desa

"Daerah yang kemungkinan besar akan mengalami peningkatan kekayaan spesies sebagian besar berada di wilayah basah atau wilayah yang diproyeksikan akan menjadi lebih basah, seperti Amerika Serikat bagian timur, India, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan bagian selatan," tutur penulis utama studi, Junna Wang.

Perombakan besar-besaran tanaman di seluruh dunia akan membutuhkan cara berpikir baru tentang konservasi dan apa yang pantas berada di tempatnya.

"Segalanya akan berubah, dan kita harus beradaptasi. Beberapa spesies ini akan bertemu bersama untuk pertama kalinya. Kita akan melihat interaksi baru. Hasilnya sulit diprediksi. Segalanya akan berbeda dari apa yang kita ingat 40 hingga 50 tahun yang lalu," ucap Dong.

Temuan dari studi ini menyoroti peran penting dari bank benih, taman botani, dan tempat-tempat sebagai tempat perlindungan iklim bagi tanaman yang nilai genetik, obat-obatan, dan budayanya mungkin akan hilang. Sementara itu, pengelolaan ekosistem akan membantu menyediakan tempat bagi spesies yang bermigrasi untuk menemukan rumah.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
Pemerintah
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Pemerintah
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
BUMN
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pemerintah
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemerintah
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Dorong Implementasi ESG, Era Transformasi Keberlanjutan Asia Tenggara Dimulai
Pemerintah
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
Generasi Baru Solar PV Dinilai Lebih Efisien dan Cocok di Iklim Tropis
LSM/Figur
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
Tata Kelola Fiskal Pertambangan Dinilai Cukup Kuat, Transparansi Pajak Masih Jadi PR
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau