Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jerman Diprediksi Gagal Mencapai Target Iklim 2045

Kompas.com, 19 Mei 2026, 19:40 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Jerman diprediksi akan gagal memenuhi target iklim resmi mereka untuk tahun 2040 dan tahun-tahun berikutnya.

Selain itu rencana pengelolaan lahan yang seharusnya dibuat untuk menyerap karbon, justru diperkirakan malah akan terus menjadi sumber yang mengeluarkan polusi hingga tahun 2050.

Melansir Edie, Senin (18/5/2026) Jerman sendiri adalah negara yang membuang gas rumah kaca paling besar di seluruh kawasan Uni Eropa, dan secara konsisten selalu masuk dalam daftar 15 negara penyumbang polusi terbesar di dunia setiap tahunnya.

Beberapa saat lalu Dewan Pakar Masalah Iklim, sebuah tim mandiri yang dibentuk pada September 2020 untuk menilai kebijakan dan perkembangan program iklim di Jerman, memeriksa perkembangan iklim Jerman selama tahun 2025 dan menganalisis arah perkembangannya ke depan.

Baca juga: 65 Persen Karhutla di Lahan Gambut, Ancam Target Iklim RI

Perkembangan target iklim Jerman

Dewan tersebut menemukan bahwa pengurangan polusi yang tercatat di tahun 2025 ternyata sangat sedikit, yaitu hanya 0,1 persen. Penurunan jumlah polusi dari sektor pabrik dan sektor energi sia-sia karena tertutup oleh peningkatan polusi yang berasal dari sektor bangunan dan sektor transportasi.

Anggaran batas maksimal polusi saat ini, yang dibuat sebagai bagian dari Undang-Undang Perlindungan Iklim Jerman hingga tahun 2030, diperkirakan masih bisa "terpenuhi secara tipis".

Namun, target jangka panjang lainnya termasuk target pengurangan polusi sebesar 88 persen pada tahun 2040 dan bebas polusi sepenuhnya pada tahun 2045 diprediksi akan semakin jauh dari target seiring berjalannya waktu.

"Perkiraan awal yang digunakan dalam perhitungan ini perlu diperbarui terutama untuk sektor energi dan sektor bangunan," kata Ketua Dewan Pakar, Barbara Schlomann.

"Untuk kedua sektor tersebut, kami memperkirakan jumlah polusi yang sebenarnya terjadi di lapangan akan jauh lebih tinggi daripada yang dilaporkan," tambahnya.

Desakan untuk memperbaiki program iklim

Dewan Pakar pun menyarankan agar pemerintah Jerman memeriksa kembali dan memperbaiki program iklimnya.

Selain itu, penelitian menemukan bahwa sektor penggunaan lahan dan infrastruktur lahan (LULUCF) yang dalam rencana iklim seharusnya dijadikan tempat untuk menyerap karbon justru akan tetap menjadi sumber yang mengeluarkan polusi hingga tahun 2050.

"Dari sudut pandang dewan pakar, memasukkan kebijakan perlindungan iklim ke dalam satu strategi politik menyeluruh yang sejalan tetap menjadi syarat mutlak untuk mencapai target-target perlindungan iklim. Hal ini termasuk mempertimbangkan dampak pembagian keadilan sosial serta syarat dan konsekuensi ekonomi sejak awal, dan secara jelas memeriksa hubungan yang berkaitan, misalnya dengan sistem perdagangan emisi," papar Wakil Ketua Dewan, Marc Oliver Bettzüge.

Baca juga: PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok

Sebagai informasi pada bulan Maret, Jerman meluncurkan rencana baru yang bersejarah berisi 90 poin untuk memangkas emisi karbon dan mengurangi ketergantungan mereka pada impor bahan bakar.

Rencana tersebut didukung oleh dana iklim dan transformasi sebesar 7,6 miliar euro di mana uang tersebut akan dibagikan antara tahun 2027 hingga 2030.

Uang tambahan sebesar 400 juta euro akan diambil dari dana khusus Jerman untuk infrastruktur, yang telah disahkan pada September 2025.

Pemerintah Jerman mengklaim bahwa langkah-langkah tersebut secara bersama-sama akan mengurangi 27,1 juta ton karbon dioksida (CO2) pada tahun 2030. Sebagai gambaran, jumlah polusi tahunan negara tersebut mencapai sekitar 673 million ton pada tahun 2023 saja.

Dewan Pakar menilai bahwa program tersebut "sangat tidak mungkin" bisa memenuhi target pengurangan polusi Jerman yang mengikat secara hukum jika hanya mengandalkan rencana itu saja, dengan risiko kegagalan yang sangat besar terutama untuk target setelah tahun 2030.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau