Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Perburuk Risiko Penyebaran Hantavirus

Kompas.com, 23 Mei 2026, 19:35 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Euronews

‎KOMPAS.com - Krisis Iklim dapat secara langsung memengaruhi keberadaan atau kelimpahan inang reservoir alami hantavirus, seperti berbagai spesies hewan pengerat.

Iklim merupakan faktor penting bagi distribusi dan penyebaran organisme, termasuk inang reservoir atau hewan yang dapat membawa penyakit hantavirus.
‎
‎Studi berjudul Over half of know human pathogenic diseases can be aggravated by climate change yang diterbitkan di jurnal Nature mengungkapkan, 58 persen penyakit menular pada manusia sensitif terhadap iklim, termasuk hantavirus.

Baca juga: Sampah yang Tak Terkelola di Bantargebang Potensial Jadi Sarang Penularan Hantavirus

Kondisi ini diperparah perubahan pola curah hujan yang dipicu krisis iklim bisa memengaruhi waktu dan keberhasilan reproduksi spesies inang hewan pengerat.
‎
‎“Setiap kali suatu penyakit sensitif terhadap iklim, ada potensi perubahan iklim memengaruhi epidemiologinya, termasuk distribusinya dan dampaknya pada manusia. Dalam kasus hantavirus, karakteristik iklim dan perubahan iklim dapat secara langsung memengaruhi keberadaan atau kelimpahan spesies inang hantavirus, seperti berbagai spesies hewan pengerat," ujar profesor di Unit Dewan Riset Medis Gambia di London School of Hygiene & Tropical Medicine, Kris Murray, dilansir dari Euronews, Sabtu (23/5/2026).

‎Kerusakan habitat‎

‎Hilangnya atau rusaknya habitat yang sering disebabkan oleh deforestasi akibat aktivitas manusia bisa secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi penularan penyakit. Di daerah-daerah di mana inang zoonosis berada, penghilangan vegetasi atau aktivitas destruktif lainnya dapat memobilisasi patogen menular.
‎
‎Misalnya, hantavirus kerap disebabkan oleh orang-orang yang mengganggu area tempat hewan pengerat berada. Itu terjadi karena hantavirus dikeluarkan melalui kotoran dan urin hewan pengerat yang dapat bertahan di lingkungan untuk beberapa waktu.
‎
‎Ketika area tempat hewan pengerat terganggu, patogen dapat menjadi aerosol, yang mana orang-orang di sekitarnya berisiko menghirupnya dan terinfeksi hantavirus.
‎
‎“Ekosistem yang terfragmentasi sering kali menguntungkan spesies reservoir yang mudah beradaptasi seperti hewan pengerat, kelelawar, atau kutu, sementara mengurangi keseimbangan ekologis alami yang membantu mengatur penularan patogen,” tutur mantan Direktur Institut Kedokteran Umum di Rumah Sakit Universitas LMU Munich, Jörg Schelling.

Baca juga: Waspada Hantavirus, Ini Cara Mencegah Tikus Masuk ke Dalam Rumah

‎Bencana hidrometeorologi, seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan, juga dapat mengganggu ekosistem, serta menciptakan kondisi yang mempermudah penyebaran penyakit menular dan meningkatkan paparannya ke manusia.

‎Risiko hantavirus di Eropa

‎Wabah hantavirus pernah terjadi di Swedia pada tahun 1934. Kenaikan suhu di Eropa Barat-Tengah telah dikaitkan dengan wabah hantavirus Puumala yang terjadi seiring peningkatan produksi benih dan kepadatan tikus di sawah.
‎
‎Puumala menjadi infeksi hantavirus paling umum di Eropa, menyebar ke manusia melalui inhalasi debu di udara yang terkontaminasi oleh urin, kotoran, atau air liur tikus sawah terinfeksi. Gejala penyakit Puumala mulai dari demam mendadak dan sakit kepala hingga nyeri punggung dan perut.
‎
‎Namun, penyakit Puumala jarang berakibat fatal dan tidak dapat menular dari manusia ke manusia.

Menurut Murray, krisis iklim dapat menciptakan peluang baru atau meningkatkan peluang penularan ke manusia. Namun, tetap diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami risiko pada tingkat spesies inang individu.
‎
‎“Yang penting untuk hantavirus, meskipun kadang-kadang menyebabkan penyakit pada orang di seluruh dunia, virus ini umumnya tidak menunjukkan penularan dari manusia ke manusia yang kuat, dan inilah yang membedakan kasus sporadis yang jarang terjadi dan biasanya cukup terisolasi dari kelompok besar orang yang terinfeksi seperti yang kita lihat dalam wabah saat ini," ucapnya.

Baca juga: Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
‎
‎Sementara itu, Schelling menilai, proyeksi iklim menunjukkan bahwa sebagian wilayah Eropa Utara dan Barat kemungkinan akan menjadi semakin cocok bagi spesies hewan pengerat yang bertindak sebagai reservoir hantavirus.

‎“Wilayah yang secara historis mengalami iklim yang lebih dingin – termasuk sebagian Skandinavia, wilayah Baltik, dan daerah dataran tinggi di Eropa Tengah – mungkin akan mengalami musim penularan yang lebih panjang dan perubahan pola kelimpahan hewan pengerat seiring dengan kenaikan suhu,” tutur Schelling.
‎
‎Meski masih ada ketidakpastian mengenai pergeseran geografis dari hantavirus, lanskap penyakit zoonosis di Eropa kemungkinan memang akan berubah secara substansial dalam beberapa dekade mendatang. Sistem kesehatan masyarakat di seluruh Eropa masih membutuhkan lebih banyak investasi dalam infrastruktur yang tahan terhadap krisis iklim.

Pencegahan wabah di masa depan bukan sekadar bergantung pada pengawasan yang lebih baik, melainkan pada penanganan akar penyebab gangguan ekologis dan krisis iklim itu sendiri.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau