Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga Dunia Makin Susah Punya Rumah, Afrika Paling Terdampak

Kompas.com, 23 Mei 2026, 19:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Biaya untuk tempat tinggal kini makin mahal di seluruh dunia. Hampir setengah dari seluruh rumah tangga harus menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka hanya untuk membayar sewa.

Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru dari UN-Habitat, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurusi pembangunan kota dan perumahan berkelanjutan.

Melansir Down to Earth, Jumat (22//5/2026) laporan berjudul World Cities Report 2026: The Global Housing Crisis: Pathways to Action tersebut memperingatkan bahwa krisis perumahan dunia terjadi akibat lonjakan harga sewa, perpindahan penduduk ke kota yang terlalu cepat, bencana akibat perubahan iklim.

Penyebab lainnya adalah jurang kesenjangan sosial yang melebar sehingga membuat jutaan orang mengalami kesulitan keuangan yang sangat berat.

Buruknya sistem perumahan dunia

Laporan ini pun menunjukkan gambaran nyata tentang betapa susahnya orang-orang di dunia mencari tempat tinggal yang aman.

Baca juga: 1 Miliar Orang Khawatir Kehilangan Tanah dan Rumah Menurut Laporan PBB

Menurut laporan tersebut, sekitar 44 persen keluarga di seluruh dunia menghabiskan lebih dari 30 persen pendapatan mereka hanya untuk membayar sewa. Angka 30 persen ini adalah batas yang biasa dipakai untuk menentukan apakah biaya rumah sudah kemahalan atau belum.

Beban ini bahkan jauh lebih berat di wilayah Afrika Sub-Sahara, di mana ada 55 persen keluarga yang harus membayar biaya rumah yang sangat mahal. Hal ini menjadikan wilayah tersebut sebagai daerah dengan beban biaya tempat tinggal paling parah di dunia.

Laporan tersebut menjelaskan bahwa masalah-masalah ini terjadi karena adanya kerusakan mendalam pada sistem perumahan. Di banyak negara, harga rumah resmi sudah melonjak jauh di atas rata-rata pendapatan keluarga.

Hal ini disebabkan oleh harga tanah yang semakin mahal, biaya membangun rumah yang tinggi, fasilitas umum yang terbatas, serta aturan pengurusan tanah yang berantakan.

Akibatnya, keluarga-keluarga berpenghasilan rendah semakin tergeser jauh dari pusat kota ke daerah pinggiran yang transportasi umumnya susah, lowongan kerjanya sedikit, dan fasilitas publiknya sangat terbatas. Anak muda, pendatang dan pekerja informal seperti buruh harian atau pedagang kecil adalah kelompok yang mengalami dampak paling parah.

Mengatasi krisis lahan dunia

UN-Habitat memperkirakan bahwa sekitar 3,4 miliar orang di seluruh dunia masih belum memiliki tempat tinggal yang layak. Banyak dari mereka terpaksa tinggal di rumah yang terlalu sempit dan padat, kawasan kumuh, serta lingkungan dengan fasilitas buruk yang susah mendapatkan air bersih, toilet yang layak, dan infrastruktur dasar.

Sekarang, ada lebih dari 1,1 miliar orang yang tinggal di pemukiman liar atau kawasan kumuh, dan ini adalah angka tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah.

Krisis ini sangat parah terjadi di negara-negara Afrika yang kota-kotanya tumbuh dengan sangat cepat. Laporan tersebut menyoroti kekurangan rumah sekitar 28 juta unit di Nigeria dan 19,5 juta unit di Mesir, serta jutaan kekurangan rumah lainnya di Etiopia, Kenya, Tanzania, dan Afrika Selatan.

Pertumbuhan penduduk yang cepat dan perpindahan orang-orang ke kota membuat sistem perumahan kota yang sudah kewalahan menjadi semakin tertekan.

Baca juga: Survei Deloitte: Gen Z-Milenial Tunda Menikah hingga Beli Rumah karena Finansial

Pada tahun 2050, diperkirakan akan ada tambahan 1,7 miliar orang yang tinggal di daerah perkotaan di seluruh dunia, sehingga total penduduk kota mencapai 6,5 miliar orang.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau