Padahal, manfaat ekonomi industri lanjutan jauh lebih besar. ESI memperkirakan, investasi 1,5 miliar dolar AS atau setara Rp 26,6 triliun pada satu smelter di Morowali biasanya hanya menyerap sekitar 3.000-5.000 tenaga kerja.
Sebaliknya, jika nilai investasi yang sama diarahkan ke 30-50 perusahaan manufaktur tahap lanjut (tier-2) dapat menciptakan sekitar 15.000-25.000 lapangan kerja, serta memperkuat permintaan domestik.
Dengan nilai investasi yang sama, Indonesia bisa mendapatkan lima kali lebih banyak pekerjaan, basis keterampilan semakin luas, dan permintaan yang bertumpu pada pasar domestik, bukan hanya mengikuti siklus komoditas global.
"Kami bukan menolak smelter, karena Indonesia sudah memilikinya. Kami mendorong langkah berikutnya,” tutur Zuhdi.
Terbaru, Presiden Prabowo Subianto telah memberlakukan sistem ekspor satu pintu untuk komoditas strategis.
Ia menganggap, kebijakan tersebut menunjukkan adanya kemauan politik untuk memperkuat tata kelola komoditas nasional, dengan catatan perlu disertai pembangunan industri manufaktur lanjutan di dalam negeri.
“Membangun industri pemrosesan tahap lanjut memang tidak akan membuat Indonesia jadi penentu harga nikel global. Tetapi, ini akan menciptakan buffer permintaan domestik yang melindungi produsen kita dari siklus komoditas global. Inilah ketahanan harga yang belum dimiliki Indonesia,” ucapnya.
Principal for Transition Mineral Research ESI, Ian Hiscock mengingatkan, industri kendaraan listrik dan baterai diperkirakan hanya menggunakan kurang dari 1 persen produksi nikel nasional dalam satu dekade mendatang, meski dalam skenario paling agresif.
Baca juga: Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
Sebaliknya, penggunaan metalurgi seperti baja tahan karat, paduan logam (alloy), serta pelapisan logam masih menyumbang sekitar 67 persen permintaan nikel global dan berpotensi menyerap hingga 60 persen dari kapasitas Indonesia jika lapisan tengah industri ini dibangun.
Menurut Ian, keunggulan nikel Indonesia nyata dan langka, tetapi dapat digantikan di tahap peleburan.
"Satu ton feronikel dari Indonesia secara kimia tidak dapat dibedakan dari satu ton dari tempat lain. Nilai tambah yang lebih tinggi hanya bisa diperoleh di tahap hilir, ketika produk memiliki identitas, ketertelusuran hijau, dan kontrak jangka panjang dengan pembeli. Hal ini pula yang dapat memperkuat posisi Indonesia untuk juga berkontribusi dalam industrialisasi hijau,” ujar Ian.
Kata dia, Indonesia memiliki peluang strategis lantaran banyak perusahaan global mulai mendiversifikasi rantai pasok yang terlalu terpusat di China. Peluang tersebut dapat hilang jika Indonesia gagal membangun kapasitas industri di level tengah lebih cepat dibanding negara lain seperti Vietnam, Thailand, Meksiko, atau Maroko.
Dalam hal ini, ESI merekomendasikan tiga langkah utama. Pertama, merestrukturisasi insentif fiskal agar mencakup industri manufaktur lanjutan dan bukan hanya smelter. Kedua, mengubah kawasan industri menjadi pusat pengembangan rantai pasok domestik dan UMKM. Ketiga, membangun perusahaan nasional, serta ekosistem riset yang memperkuat transfer teknologi dan inovasi dalam negeri.
Untuk selanjutnya, Indonesia harus menghadapi transisi industri jangka panjang. Alih-alih mundur dari hilirisasi, hal ini malah bergerak ke arah membangun satu lapisan lebih dalam agar manfaat industrialisasi benar-benar dirasakan masyarakat Indonesia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya