Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Nilai Tambah Hilirisasi Nikel RI Dinikmati Negara Lain

Kompas.com, 25 Mei 2026, 19:45 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Padahal, manfaat ekonomi industri lanjutan jauh lebih besar. ESI memperkirakan, investasi 1,5 miliar dolar AS atau setara Rp 26,6 triliun pada satu smelter di Morowali biasanya hanya menyerap sekitar 3.000-5.000 tenaga kerja.

Sebaliknya, jika nilai investasi yang sama diarahkan ke 30-50 perusahaan manufaktur tahap lanjut (tier-2) dapat menciptakan sekitar 15.000-25.000 lapangan kerja, serta memperkuat permintaan domestik.

Dengan nilai investasi yang sama, Indonesia bisa mendapatkan lima kali lebih banyak pekerjaan, basis keterampilan semakin luas, dan permintaan yang bertumpu pada pasar domestik, bukan hanya mengikuti siklus komoditas global.

"Kami bukan menolak smelter, karena Indonesia sudah memilikinya. Kami mendorong langkah berikutnya,” tutur Zuhdi.

Terbaru, Presiden Prabowo Subianto telah memberlakukan sistem ekspor satu pintu untuk komoditas strategis.

Ia menganggap, kebijakan tersebut menunjukkan adanya kemauan politik untuk memperkuat tata kelola komoditas nasional, dengan catatan perlu disertai pembangunan industri manufaktur lanjutan di dalam negeri.

“Membangun industri pemrosesan tahap lanjut memang tidak akan membuat Indonesia jadi penentu harga nikel global. Tetapi, ini akan menciptakan buffer permintaan domestik yang melindungi produsen kita dari siklus komoditas global. Inilah ketahanan harga yang belum dimiliki Indonesia,” ucapnya.

Industri Kendaraan Listrik

Principal for Transition Mineral Research ESI, Ian Hiscock mengingatkan, industri kendaraan listrik dan baterai diperkirakan hanya menggunakan kurang dari 1 persen produksi nikel nasional dalam satu dekade mendatang, meski dalam skenario paling agresif.

Baca juga: Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035

Sebaliknya, penggunaan metalurgi seperti baja tahan karat, paduan logam (alloy), serta pelapisan logam masih menyumbang sekitar 67 persen permintaan nikel global dan berpotensi menyerap hingga 60 persen dari kapasitas Indonesia jika lapisan tengah industri ini dibangun.

Menurut Ian, keunggulan nikel Indonesia nyata dan langka, tetapi dapat digantikan di tahap peleburan.

"Satu ton feronikel dari Indonesia secara kimia tidak dapat dibedakan dari satu ton dari tempat lain. Nilai tambah yang lebih tinggi hanya bisa diperoleh di tahap hilir, ketika produk memiliki identitas, ketertelusuran hijau, dan kontrak jangka panjang dengan pembeli. Hal ini pula yang dapat memperkuat posisi Indonesia untuk juga berkontribusi dalam industrialisasi hijau,” ujar Ian.

Kata dia, Indonesia memiliki peluang strategis lantaran banyak perusahaan global mulai mendiversifikasi rantai pasok yang terlalu terpusat di China. Peluang tersebut dapat hilang jika Indonesia gagal membangun kapasitas industri di level tengah lebih cepat dibanding negara lain seperti Vietnam, Thailand, Meksiko, atau Maroko.

Dalam hal ini, ESI merekomendasikan tiga langkah utama. Pertama, merestrukturisasi insentif fiskal agar mencakup industri manufaktur lanjutan dan bukan hanya smelter. Kedua, mengubah kawasan industri menjadi pusat pengembangan rantai pasok domestik dan UMKM. Ketiga, membangun perusahaan nasional, serta ekosistem riset yang memperkuat transfer teknologi dan inovasi dalam negeri.

Untuk selanjutnya, Indonesia harus menghadapi transisi industri jangka panjang. Alih-alih mundur dari hilirisasi, hal ini malah bergerak ke arah membangun satu lapisan lebih dalam agar manfaat industrialisasi benar-benar dirasakan masyarakat Indonesia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau