KOMPAS.com - China berada di jalur yang tepat untuk memangkas emisi gas rumah kaca lebih cepat daripada janji publiknya, bahkan di saat ekonominya terus tumbuh, menurut laporan terbaru dari lembaga riset energi independen.
Laporan New Energy Outlook 2026 yang diterbitkan oleh BloombergNEF ini memperkirakan bahwa emisi China akan turun sebesar 17 persen pada tahun 2030 dari titik puncaknya di tahun 2023.
Capaian ini lebih cepat dari target resmi yang dijanjikan oleh negara raksasa Asia tersebut, meskipun pertumbuhan ekonomi (PDB) mereka tetap tumbuh sekitar 5 persen per tahun.
Melansir Independent, Rabu (20/5/2026) saat ini, China menghasilkan emisi tahunan dua kali lebih banyak dibandingkan negara mana pun di dunia. Hal ini membuat arah perkembangan China menjadi salah satu faktor penentu yang paling berpengaruh dalam perkiraan iklim global.
Baca juga: 1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
Komitmen iklim resmi dari Beijing, yang dituangkan dalam target nasionalnya di bawah Perjanjian Paris adalah mencapai puncak emisi karbon sebelum tahun 2030 dan mencapai netralitas karbon sebelum tahun 2060.
Namun laporan terbaru memperkirakan bahwa emisi China tidak hanya sekadar mencapai puncak, melainkan akan turun drastis dalam waktu sepuluh tahun ini.
Pada tahun 2050, emisi diperkirakan akan turun 50 persen dari titik puncaknya, meskipun jumlah tersebut mungkin masih jauh di atas perkiraan jumlah emisi Amerika Serikat atau Eropa pada waktu yang sama.
China tetap menjadi negara penyumbang terbesar dalam pengurangan emisi global menurut skenario model utama dari BloombergNEF.
Gambaran yang lebih luas menunjukkan bahwa peralihan ke energi bersih ini tidak hanya didorong oleh niat menyelamatkan iklim, tetapi juga oleh masalah keamanan negara.
Tiga krisis energi berturut-turut dalam dekade ini yaitu pandemi, perang di Ukraina, dan perang di Timur Tengah telah memaksa negara-negara yang sangat bergantung pada impor bahan bakar fosil untuk mempercepat penggunaan teknologi bersih.
Negara-negara ekonomi Asia, termasuk Vietnam, Jepang, Indonesia, dan India, menghabiskan 3 hingga 6 persen dari PDB mereka hanya untuk mengimpor bahan bakar energi pada tahun 2025. Hal ini memberikan alasan ekonomi yang kuat bagi mereka untuk segera beralih ke energi terbarukan.
Sebuah laporan pada bulan April menunjukkan bahwa energi surya dan angin terbukti telah melindungi dunia dari dampak terburuk krisis energi, yang dipicu oleh perang antara AS-Israel dengan Iran.
Energi surya diperkirakan akan menjadi sumber listrik tunggal terbesar di dunia pada tahun 2032, didorong oleh harga yang semakin murah dan kapasitas produksi yang melonjak luar biasa besar.
Sementara itu, teknologi penyimpanan baterai diperkirakan akan melesat 17 kali lipat, dari 223 gigawatt pada tahun 2025 menjadi 3,8 terawatt pada tahun 2035.
"Kita sedang hidup di masa krisis yang lain, tetapi tidak seperti dekade-dekade lalu, saat ini negara-negara punya pilihan nyata untuk bertindak," kata David Hostert, kepala ekonom di BloombergNEF, dalam laporan tersebut.
Baca juga: Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya