JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau adanya bibit siklon 99W di Samudra Pasifik utara Papua Nugini, yang membentuk daerah konvergensi dan konfluensi dari Papua Barat hingga Teluk Cendrawasih pesisir barat Papua Barat Daya.
Sirkulasi siklonik juga diprediksi terbentuk di Perairan barat Sumatra Barat, Samudra Hindia barat daya Banten, dan Laut Sulu.
Analisis iklim terbaru menunjukkan adanya tanda-tanda kondisi El Nino di Samudra Pasifik. Meski begitu, kondisi atmosfer di wilayah regional masih dapat memicu terbentuknya awan hujan, terutama di Indonesia bagian utara.
"Gelombang Kelvin yang bergerak ke arah timur juga diprediksi aktif melintasi wilayah Aceh, Kalimantan Barat bagian utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah," kata BMKG dalam keterangan resminya, Selasa (26/5/2026).
Baca juga: RI Sudah Masuk Musim Kemarau, Waspada Kekeringan dan Karhutla
Sementara itu, gelombang rossby ekuatorial yang berpropagasi ke arah barat kemungkinan aktif di Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah. Aktivitas tersebut dapat meningkatkan suplai uap air dan mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah yang dilaluinya.
"Periode 26-28 Mei 2026 cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat," jelas BMKG.
Hujan sedang diprediksi melanda Aceh, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan BangKa Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
Kemudian di Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, serta Papua Selatan.
Sedangkan pada 29 Mei-1 Juni 2026 hujan ringan hingga lebat diperkirakan terjadi di Aceh, Riau, Kepulauan Riau, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Tengah, Papua, dan Papua Selatan.
Baca juga: BMKG Prediksi Jakarta Masuk Musim Kemarau Akhir Mei 2026
"Selain itu, hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat atay petir dan angin kencang," tulis BMKG.
BMKG mencatat, sebagian wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau dengan sebagian lainnya berada pada periode peralihan dari musim hujan. Kondisi tersebut ditunjukkan dengan tutupan awan yang sedikit pada pagi hingga siang hari yang memicu cuaca panas.
Di beberapa wilayah seperti Aceh, Riau, Bali, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi Tengah, Papua Barat, serra Jawa Timur suhu maksimum mencapai 35 derajat celsius pada 21-24 Mei 2026.
Sementara, di wilayah yang masih berada pada periode peralihan akumulasi panas dari pagi hingga siang hari ini menyebabkan proses konveksi yang memicu ketidakstabilan atmosfer sehingga terbentuk awan hujan di sore dan malam hari.
"Menghadapi kondisi cuaca cerah disertai potensi cuaca ekstrem dalam beberapa waktu ke depan, BMKG mengimbau masyarakat untuk menggunakan pelindung atau tabir surya guna menghindari paparan langsung sinar matahari, serta menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama bagi yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari, agar terhindar dari dehidrasi, kelelahan, dan dampak buruk lainnya," beber BMKG.
Masyarakat dan para pemangku kepentingan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanag longsor. Anda dapat memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui berbagai kanal informasi BMKG yakni http://www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya