KOMPAS.com - Google telah meluncurkan program pelatihan khusus baru di wilayah Asia-Pasifik. Program ini berfokus pada penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proyek-proyek iklim dan lingkungan.
Langkah ini diambil karena perusahaan-perusahaan teknologi semakin gencar mempromosikan AI sebagai alat untuk mengatasi tantangan lingkungan dunia, meskipun sebenarnya ada kekhawatiran mengenai besarnya konsumsi energi dari teknologi AI itu sendiri.
Melansir Eco Business, Senin (25/5/2026) program selama tiga bulan yang dinamakan "AI for the Planet" ini akan membantu perusahaan rintisan (startup), kelompok peneliti, dan organisasi nirlaba (NGO) di seluruh Asia-Pasifik yang bergerak di bidang iklim, pertanian, energi, alam, serta risiko lingkungan yang lebih luas.
Baca juga: AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis
Inisiatif ini muncul di saat perusahaan-perusahaan teknologi sedang berlomba-lomba untuk menunjukkan kegunaan nyata dari AI.
Google ingin membuktikan bahwa AI tidak hanya berguna untuk meningkatkan produktivitas kerja atau membuat aplikasi komputer saja, melainkan juga bisa fokus pada hal lain, mulai dari memperkirakan cuaca untuk energi terbarukan, mengatur efisiensi transportasi, hingga membantu adaptasi iklim dan ketahanan pangan.
"Obrolannya bukan lagi tentang seberapa besar AI bisa berkembang. Tapi menggunakan teknologi ini untuk menyelesaikan beberapa tantangan paling mendesak yang kita hadapi, yaitu berbagai tantangan yang berbeda, termasuk perubahan iklim," kata Ben King, Direktur Pengelola Google untuk Singapura dan Malaysia.
Pilihan untuk fokus pada wilayah Asia-Pasifik ini mencerminkan peran ganda wilayah tersebut. Bukan hanya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi tetapi sekaligus sebagai salah satu daerah yang paling rentan terhadap risiko akibat perubahan iklim.
Negara-negara di seluruh wilayah ini menghadapi ancaman yang terus meningkat dari cuaca ekstrem, banjir, serta gangguan pada sistem pangan dan energi. Pada saat yang sama, mereka juga sedang berusaha memperluas infrastruktur digital dan mempercepat upaya pengurangan polusi.
Google menyatakan bahwa teknologi lingkungan di wilayah ini sebenarnya terus berkembang, tetapi belum menyebar dengan cukup cepat untuk mengimbangi risiko yang terus meningkat.
Peluncuran program juga dilakukan di saat sektor teknologi sedang menghadapi pengawasan yang semakin ketat terkait dampak lingkungan dari teknologi AI itu sendiri.
Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan bahwa konsumsi listrik dunia oleh pusat data diperkirakan akan melonjak lebih dari dua kali lipat pada tahun 2030 menjadi sekitar 945 terawatt-jam, yang sebagian besar didorong oleh perluasan AI.
Asia Tenggara juga diperkirakan akan mengalami pertumbuhan kebutuhan listrik yang sangat cepat, yang salah satunya disebabkan oleh pusat data seiring langkah pemerintah dan perusahaan memperluas infrastruktur digital.
Baca juga: Ledakan AI Paksa Microsoft Tinjau Ulang Target Energi Bersih 2030
Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa termasuk Google, Microsoft, dan lainnya semakin gencar mempromosikan peran AI dalam mengurangi emisi dan meningkatkan efisiensi di berbagai sektor seperti sistem energi, transportasi, dan pertanian.
Namun, para peneliti dan pembuat kebijakan masih terus berdebat apakah kebutuhan energi AI yang terus membengkak justru bisa menghapus berbagai keuntungan tersebut.
King mengatakan bahwa Google tetap optimis bahwa manfaat AI bisa lebih besar daripada risikonya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya