Bahkan untuk jenis pakaian yang paling mudah didaur ulang sekalipun seperti kaos katun polos, para ahli menyatakan bahwa kita hanya bisa menyelamatkan maksimal 17 persen serat kainnya untuk dijadikan kaos baru. Sisanya yang 83 persen tetap akan terbuang dan rusak.
Baca juga: Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Peneliti pun menyebut, proses pembuatan yang lebih efisien yang mengurangi penumpukan sampah serta meningkatkan daur ulang bahan bisa membawa perubahan yang besar.
Hal ini sangat berlaku untuk produksi benang, pengolahan bahan mentah menjadi kain siap pakai, dan pembuatan pakaian. Dengan metode yang lebih baik, sebanyak 44 persen bahan bisa layak untuk didaur ulang, jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini yang hanya 17 persen.
Para peneliti juga memperkirakan bahwa emisi gas rumah kaca bisa dikurangi sekitar 10 persen dan dampak lingkungan lainnya bisa turun sebesar 20 hingga 25 persen.
Oleh karena itu, kesimpulannya sangat jelas: membuat sistem yang lebih baik untuk pakaian bekas saja tidaklah cukup. Dengan memperbaiki proses pembuatan di pabrik sejak awal, sisa-sisa kain yang terbuang akan jauh lebih sedikit dan bahan-bahan yang ada bisa terpakai dengan jauh lebih efisien.
Namun, masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Harus ada kolaborasi erat antara pemerintah , pemilik merek dagang baju sebagai pemesan, dan pabrik tekstil sebagai pembuat baju.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya