KOMPAS.com-Konsumsi pakaian global sangat besar. Namun hal yang mungkin selama ini luput dari perhatian adalah sebagian besar serat tekstil untuk membuat pakaian hilang sebelum pakaian tersebut sampai ke pasar.
Hal ini terungkap dari sebuah studi yang dilakukan Rakib Ahmed, peneliti di SINTEF Industry.
Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari kelompok riset Profesor Madya Johan Berg Pettersen di Program Ekologi Industri NTNU dan bekerja sama dengan Peneliti Senior Christina Meskers di SINTEF. Artikel tersebut diterbitkan dalam Journal of Circular Economy.
Melansir Phys, Selasa (26/5/2026) dampak lingkungan industri fashion terhadap sangat besar. Perkiraan umum menunjukkan bahwa industri ini menyumbang sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca global.
Lahan yang sangat luas digunakan untuk menanam bahan-bahan alami pembuat pakaian, tetapi bahan sintetis jauh lebih banyak digunakan.
Baca juga: Warga Jakarta Bisa Donasi Pakaian Bekas untuk Didaur Ulang, Begini Caranya
Satu perkiraan menunjukkan bahwa sekitar 8 miliar penduduk dunia membeli total antara 80 hingga 100 miliar potong pakaian setiap tahunnya. Dengan kata lain, rata-rata setiap orang membeli setidaknya 10 potong baju per tahun.
Selain itu, ada sekitar 60 miliar potong pakaian yang sama sekali tidak pernah terjual, dan sering kali berakhir begitu saja di tempat pembuangan sampah. Tentu saja, angka-angka ini sangat bervariasi di setiap negara dan juga berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Di banyak negara, pakaian bekas berakhir di tempat pembuangan sampah (TPA) dan butuh waktu puluhan tahun untuk bisa hancur. Di beberapa tempat, kondisinya bahkan lebih parah, pakaian bekas dibuang begitu saja langsung ke alam bebas.
Tidak hanya itu saja, sebagian besar pemborosan terjadi di tahap awal proses pembuatan pakaian. Hal ini membuat sekitar 44 persen bahan sudah terbuang sejak dalam tahap produksi di pabrik.
"Kamu mungkin akan terkejut saat mengetahui di bagian mana sebagian besar bahan pakaian itu hilang," kata Ahmed.
"Di sini kita bisa melihat dengan jelas kita juga harus memperhatikan proses pembuatannya di pabrik. Ada keuntungan lingkungan yang sangat besar jika kita bisa membuat proses produksi di pabrik menjadi lebih hemat dan efisien," paparnya lagi.
Untung saja, negara-negara mulai memperkenalkan beberapa inisiatif yang bertujuan untuk mengumpulkan pakaian bekas dan mengelola limbah, setelah pakaian tersebut tidak lagi digunakan, salah satunya adalah Uni Eropa.
Kendati demikian inisiatif ini mengalami tantangan dalam pelaksanaannya.
Banyak orang mengira baju bekas bisa dengan mudah dihancurkan dan dibuat menjadi baju baru lagi. Faktanya, teknologi dunia saat ini masih sangat minim. Kurang dari 1 persen saja baju bekas di bumi yang benar-benar bisa didaur ulang menjadi kain baru.
Selain itu, tidak semua kain ramah terhadap mesin daur ulang. Baju-baju yang memiliki campuran bahan kimia atau hiasan tertentu sangat sulit untuk diproses kembali.
Bahkan untuk jenis pakaian yang paling mudah didaur ulang sekalipun seperti kaos katun polos, para ahli menyatakan bahwa kita hanya bisa menyelamatkan maksimal 17 persen serat kainnya untuk dijadikan kaos baru. Sisanya yang 83 persen tetap akan terbuang dan rusak.
Baca juga: Saat Pakaian Bekas Disulap Jadi Material Bangunan Peredam Suara...
Peneliti pun menyebut, proses pembuatan yang lebih efisien yang mengurangi penumpukan sampah serta meningkatkan daur ulang bahan bisa membawa perubahan yang besar.
Hal ini sangat berlaku untuk produksi benang, pengolahan bahan mentah menjadi kain siap pakai, dan pembuatan pakaian. Dengan metode yang lebih baik, sebanyak 44 persen bahan bisa layak untuk didaur ulang, jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi saat ini yang hanya 17 persen.
Para peneliti juga memperkirakan bahwa emisi gas rumah kaca bisa dikurangi sekitar 10 persen dan dampak lingkungan lainnya bisa turun sebesar 20 hingga 25 persen.
Oleh karena itu, kesimpulannya sangat jelas: membuat sistem yang lebih baik untuk pakaian bekas saja tidaklah cukup. Dengan memperbaiki proses pembuatan di pabrik sejak awal, sisa-sisa kain yang terbuang akan jauh lebih sedikit dan bahan-bahan yang ada bisa terpakai dengan jauh lebih efisien.
Namun, masalah ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Harus ada kolaborasi erat antara pemerintah , pemilik merek dagang baju sebagai pemesan, dan pabrik tekstil sebagai pembuat baju.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya