Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mikroba Bawah Tanah Mampu Ubah CO2 dari PLTU Jadi Batuan Berharga

Kompas.com, 29 Mei 2026, 08:09 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Sekumpulan mikroba yang hidup 4.100 kaki di bawah tanah memakan gas karbon dioksida (CO2) dan mengubahnya menjadi batuan dengan kecepatan luar biasa.

Tim peneliti multidisiplin menemukan sekumpulan mikroba tersebut di Sanford Underground Research Facility (SURF), laboratorium penelitian bawah tanah terdalam di Amerika Serikat (AS) yang terletak di bekas Tambang Emas Homestake, Lead, South Dakota.

Hasil studi awal, yang didanai oleh National Science Foundation, menunjukkan peningkatan  efisiensi penyimpanan CO2 di bawah tanah dari bertahun-tahun, menjadi beberapa minggu.

Baca juga: Kapasitas PLTU Batu Bara Dunia Bertambah Tapi Konsumsinya Menurun

Alih-alih menyalurkan CO2 ke bawah tanah, teknologi dengan memanfaatkan sekumpulan mikroba ini memungkinkan penghapusan langsung emisi gas rumah kaca (GRK) di lokasi.

"Mikroba yang kami temukan di SURF membantu membuktikan bahwa reaksi biokimia ini dapat digunakan untuk menghilangkan karbon dari emisi pembangkit listrik secara efisien. Penemuan di SURF adalah pemicu yang memulai semuanya," ujar asisten profesor di Departemen Teknik Kimia dan Biologi Karen M. Swindler di South Dakota Mines, Tanvi Govil, dilansir dari Phys, Kamis (28/5/2026).

Ia kini memimpin upaya untuk membangun perpustakaan mikroba dari berbagai belahan dunia yang memiliki sifat paling cocok untuk penangkapan karbon. 

Swindler dan timnya akan menggabungkan dari setiap mikroba untuk merekayasa enzim yang bisa mengubah CO2 dari emisi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara, menjadi kalsium karbonat, yang merupakan mineral yang bisa dimanfaatkan untuk keperluan industri.

"Eksperimen laboratorium yang telah kami lakukan didasarkan pada beberapa sampel emisi yang disediakan oleh industri lokal. Kami mengambil gas buang, dan bahkan abu batubara sisa, untuk diuji di laboratorium dan memvalidasi bahwa teknologi ini akan mampu bekerja di lingkungan industri skala besar," tutur Govil.

Inisiatif ini melibatkan penggunaan tangki besar berisi enzim penangkap CO2. Lalu, mengalirkan emisi GRK dari PLTU batu bara melalui larutan enzim tersebut. Proses ini akan menghilangkan CO2 dari aliran gas buang dan mengubahnya menjadi produk sampingan yang layak secara komersial.

"Ada tekanan lingkungan yang besar di seluruh dunia untuk mewujudkan solusi iklim semacam ini. Banyak pemerintah sangat mendukung penghapusan emisi karbon. Kami pikir kami memiliki solusi yang menguntungkan semua pihak," ucap Merle Symes, CEO Carb-N0, sebuah perusahaan yang didirikan oleh Govil dan timnya untuk mempercepat pemasaran teknologi ini.

Sebenarnya, para ilmuwan sudah lama mengetahui bahwa mikroba dapat digunakan untuk menghilangkan CO2. Namun, ada banyak tantangan untuk memanfaatkannya, termasuk menemukan bentuk kehidupan yang dapat bertahan dalam proses tersebut.

Baca juga: Batalnya Pensiun Dini PLTU Cirebon-1: Transisi Energi Layu Sebelum Berkembang

"Gas buang pabrik dan pembangkit listrik cukup berbahaya. Suhu dan tekanannya tinggi, terkadang juga sangat asam. Studi ini menemukan bahwa mikroba unik ini, yang berevolusi di lingkungan ekstrem, justru berkembang biak di lingkungan tersebut," ujar Symes.

Penyempurnaan teknologi

Govil, Symes, dan timnya baru saja memenangkan kompetisi Rencana Bisnis Giant Vision Gubernur South Dakota, dengan teknologi mereka yang sedang dalam proses paten.

Mereka akan terus menyempurnakan proses dan menciptakan enzim yang cukup kuat untuk dikirim ke mana pun dibutuhkan. Langkah selanjutnya adalah pengujian skala pilot. Mereka berencana untuk membangun alat penyaring CO2 berbasis enzim yang dapat diletakkan di bak truk kemudian membawanya ke fasilitas dan menghubungkannya ke aliran emisi GRK.

"Salah satu unit bergerak ini akan mampu menyerap hampir satu ton CO2 per hari. Ini akan memungkinkan kami untuk mendemonstrasikan teknologi ini kepada berbagai mitra dan industri, memvalidasi konsep dan model bisnisnya," tutur Govil.

Mereka berencana melanjutkan pengujian teknologinya di tahun ini dan memulai produksi enzimnya pada tahun 2027. Urgensi percepatan pengembangan teknologi tersebut disebabkan umat manusia sat ini mengeluarkan lebih dari 37 miliar metrik ton CO2 per tahun.

Baca juga: Pembangunan PLTU di RI Naik, Risiko Ekonomi dan Emisi Kian Besar

Nilai pasar global untuk penangkapan dan penyimpanan karbon pada tahun 2025 mencapai 4,51 dolar AS atau Rp 80,4 triliun. Pasar diproyeksikan akan tumbuh menjadi 19,98 dolar miliar atau Rp 356 triliun pada tahun 2034.

Profesor madya di Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan di Mines, Bret Lingwall mengatakan, temuan ini dapat mengarahkan pada cara-cara baru untuk menangkap emisi CO2 secara permanen, sehingga mengurangi dampak krisis iklim.

“Ini tidak hanya membantu mengatasi krisis iklim, tetapi juga berpotensi mendorong pembangunan ekonomi melalui penyerapan karbon yang dipercepat oleh mikroba,” ucapnya, dilansir dari laman resmi Sanfordlab.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau