Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kebakaran Hutan Sepanjang 2025 Telan Biaya Termahal dalam Sejarah

Kompas.com, 2 Juni 2026, 15:48 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com -Tahun 2025 dinobatkan sebagai tahun di mana kebakaran hutan menjadi bencana yang paling banyak menelan biaya dibandingkan dengan tahun-tahun lainnya dalam sejarah.

Melansir Independent, Senin (1/6/2026) kebakaran hutan menyumbang 38 persen dari seluruh kerugian akibat bencana alam yang diasuransikan di seluruh dunia pada tahun 2025. Jumlah ini lebih besar daripada gabungan kerugian akibat badai topan, gempa bumi, dan banjir.

Padahal, total luas lahan yang terbakar sebenarnya merupakan yang terendah kedua sejak pencatatan dimulai pada tahun 2002, dan berada 16 persen di bawah angka rata-rata jangka panjang.

Para peneliti mengatakan ini menunjukkan adanya pola baru dalam kebakaran hutan.

Masalah utamanya bukan lagi soal seberapa banyak jumlah titik api di dunia, melainkan karena api sekarang langsung menyerang area yang banyak ditinggali oleh manusia dengan waktu yang sangat cepat dan kobaran yang jauh lebih ganas.

“Tahun 2025 menunjukkan bahwa tahun yang 'sepi' dari kebakaran secara global pun masih bisa sangat menghancurkan,” kata Dr. Matthew Jones dari Tyndall Centre for Climate Change Research di University of East Anglia, yang memimpin studi tersebut.

Baca juga: Waspada, Ancaman Kebakaran Hutan di Indonesia Lebih Berat Saat Musim Kemarau 2026

“Kita melihat adanya ketidaksesuaian yang semakin nyata antara total luas lahan yang terbakar dengan dampak yang dirasakan di dunia nyata, di mana tingkat bahaya kini lebih ditentukan oleh lokasi kebakaran, kekuatan api, dan seberapa besar wilayah tersebut terpapar,” katanya lagi.

Kebakaran di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Eropa

Sebuah studi baru menemukan bahwa kebakaran yang sangat parah di Amerika Serikat, Korea Selatan, dan Eropa telah menewaskan sekitar 90 orang dan memaksa sekitar 300.000 orang untuk mengungsi.

Sementara itu bencana tunggal yang paling mahal pada tahun 2025 adalah kebakaran Palisades dan Eaton, yang melanda wilayah Los Angeles pada Januari 2025. Dipicu oleh angin Santa Ana yang sangat kencang dan tanaman yang sangat kering, kebakaran tersebut menghanguskan lebih dari 20.000 hektare lahan, menewaskan 31 orang secara langsung, menghancurkan hampir 12.000 rumah, dan memaksa sekitar 150.000 orang untuk mengungsi.

Paparan asapnya berdampak pada lebih dari 10 juta orang, dengan tingkat polusi mencapai hampir 20 kali lipat dari batas aman harian yang ditetapkan oleh WHO untuk partikel halus. Partikel halus ini adalah serbuk kotoran sangat kecil yang bisa masuk jauh ke dalam paru-paru.

Total kerugian diperkirakan mencapai 140 miliar dolar AS (sekitar Rp2.497 triliun), dengan kerugian yang ditanggung asuransi mendekati 40 miliar dolar AS (sekitar Rp713,4 triliun). Hal ini menjadikannya bencana alam termahal kelima dalam sejarah yang pernah tercatat.

Dua bulan kemudian, Korea Selatan mencatat rekor bencana kebakaran hutan terbesar dan paling mematikan dalam sejarah mereka. Suhu panas yang ekstrem, kondisi alam yang kering, serta tiupan angin kencang memicu kebakaran yang menghanguskan lebih dari 100.000 hektare lahan, menewaskan 32 orang, dan membuat puluhan ribu warga kehilangan tempat tinggal.

Sebuah studi menemukan bahwa kondisi alam yang memicu kebakaran ini berpeluang terjadi dua kali lebih besar akibat adanya perubahan iklim.

Sementara itu di Eropa, kekeringan parah dan gelombang panas yang terjadi berulang kali memicu kebakaran besar di Spanyol, Portugal, Yunani, Turki, Siprus, dan Prancis selama musim panas tahun 2025. Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 28 orang dan memaksa 120.000 orang untuk mengungsi.

"Kebakaran hutan mematikan akibat ulah manusia di California, Eropa, dan Korea Selatan pada tahun yang sama menunjukkan betapa cepatnya perubahan iklim menciptakan kondisi yang mendukung berkembangnya kebakaran hutan ekstrem di berbagai wilayah dan musim,” papar Prof. Crystal Kolden dari University of California, Merced, salah satu penulis studi tersebut.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau