Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Bensin Meroket, Warga Pakistan Ramai-Ramai Beralih ke Skuter Listrik

Kompas.com, 2 Juni 2026, 17:45 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Masyarakat Pakistan ramai-ramai beralih menggunakan skuter listrik (electric scooter) setelah harga bahan bakar minyak (BBM) melonjak tajam dan inflasi menekan anggaran rumah tangga.

Kenaikan harga ini dipicu oleh tidak stabilnya pasar minyak dunia akibat ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.

"Harga bensin meningkat dari hari ke hari. Menjadi sulit bagi saya untuk membeli bahan bakar dengan gaji saya, jadi akhirnya beralih ke skuter listrik," kata Misbah Younus, salah satu pekerja di Pakistan.

Younus, yang bekerja di Right To Play, sebuah organisasi nirlaba internasional yang mendukung anak-anak, hanya satu di antara semakin banyak warga Pakistan yang beralih ke skuter dan sepeda listrik untuk mencari cara yang lebih murah untuk bepergian.

Peralihan ini, melansir CNA, Minggu (28/6/2026) terjadi setelah kenaikan tajam yang disebabkan oleh tidak stabilnya pasar minyak dunia dan terganggunya pasokan minyak akibat ketegangan yang terjadi di Timur Tengah.

Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen

Kendaraan listrik lebih menguntungkan

Para dealer skuter listrik mengatakan bahwa permintaan tersebut melonjak tajam, terutama di kalangan pekerja kantor, pelajar, dan kurir pengantar barang. Beberapa toko dan bengkel modifikasi melaporkan penjualan mereka melonjak hingga 70 persen pada bulan Maret.

"Kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu, masalah rantai pasokan barang, semua hal itu pastinya mendorong tren orang-orang untuk beralih ke kendaraan listrik," kata Saad Farrukh, pemimpin EVEE Electric, sebuah perusahaan di kota Lahore yang merakit sepeda listrik secara lokal.

Dia menambahkan bahwa perbedaan biaya pemakaian sehari-hari sangatlah besar.

“Mengendarai motor biasa sejauh 50 km akan menghabiskan biaya sekitar 400 rupee Pakistan atau setara 1,50 dolar AS. Sedangkan jika menggunakan kendaraan listrik, biaya listriknya hanya sekitar 0,50 dolar AS,” katanya.

Hitung-hitungan hematnya kendaraan listrik ini menjadi makin menarik di negara tersebut, karena sepeda motor adalah alat transportasi utama bagi jutaan orang, sementara pilihan transportasi umum di sana masih sangat terbatas.

Kenaikan penjualan kendaraan roda dua listrik

Menurut lembaga konsultan Renewables First, penjualan kendaraan roda dua listrik di Pakistan melonjak hampir tiga kali lipat tahun lalu menjadi sekitar 90.000 unit, atau menyumbang sekitar 5 persen dari total seluruh kendaraan roda dua yang terjual.

Tahun ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, kendaraan listrik berhasil menyumbang lebih dari 10 persen dari total penjualan bulanan kendaraan roda dua, menurut para analis industri.

Sebagian besar industri kendaraan listrik yang baru berkembang di Pakistan ini sangat bergantung pada teknologi, suku cadang, dan keahlian dari China.

Para pelaku industri mengatakan bahwa kerja sama tersebut membantu produsen lokal meningkatkan jumlah produksi dan mengembangkan sektor ini dengan lebih cepat.

Kevin Lee, pemegang saham asal China di perusahaan EVEE, mengatakan bahwa sektor kendaraan listrik di Pakistan masih memiliki ruang yang sangat besar untuk berkembang, mulai dari bagian penelitian dan pengembangan (R&D), pembuatan unit, hingga layanan servisnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
ESG di Asia Tak Lagi Sekadar CSR, Kini Terintegrasi ke Jantung Bisnis
Swasta
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Nilai yang Tinggal di Tanah Nikel
Swasta
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
UNBL dan Uniska Dampingi Warga Al Kautsar Olah Potensi Desa Jadi Produk Bernilai
Pemerintah
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
EIGER Nature Diresmikan, Menpar Apresiasi Ekowisata Berkelanjutan
BrandzView
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
Bingung TPS Ditutup, Kampung di Bogor Kelola Sampah Organik Jadi Alas Kandang Ayam dan Kompos
LSM/Figur
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
361 Kilogram Sampah Diangkat dari Bantaran Ciliwung, Pencemaran Domestik Jadi Sorotan
Swasta
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
Harga Karbon Indonesia Terlalu Murah, Industri Menanti Kepastian Perdagangan Emisi
LSM/Figur
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Mengurai Krisis Biarpet dan Ambisi Ketahanan Energi
Pemerintah
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
Zonasi Sampah di Bantargebang Tak Jelas, Pengelolaan Emisi Metana Terkendala
LSM/Figur
RTH Jadi Penopang 'Green Campus' dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
RTH Jadi Penopang "Green Campus" dari Menurunkan Suhu hingga Mencegah Banjir
LSM/Figur
Astra Luncurkan Program Kontribusi Sosial 70 Tahun, Sasar 700 Desa di 7 Pulau Besar Indonesia
Astra Luncurkan Program Kontribusi Sosial 70 Tahun, Sasar 700 Desa di 7 Pulau Besar Indonesia
Desa Sejahtera Astra
Orang Super Kaya Dapat Keuntungan Ganda dari Krisis Iklim
Orang Super Kaya Dapat Keuntungan Ganda dari Krisis Iklim
Pemerintah
WALHI: Karhutla Tak Lepas dari Sistem Ekonomi Ekstraktif
WALHI: Karhutla Tak Lepas dari Sistem Ekonomi Ekstraktif
LSM/Figur
Saat AI Mendorong Kebutuhan Listrik, Mitsubishi Power Bersiap Menjawab Tantangan Baru
Saat AI Mendorong Kebutuhan Listrik, Mitsubishi Power Bersiap Menjawab Tantangan Baru
BrandzView
Perkuat Ekosistem Digital, 'Health Innovation Showcase 2026' Pertemukan Inovator dan Investor
Perkuat Ekosistem Digital, "Health Innovation Showcase 2026" Pertemukan Inovator dan Investor
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau