KOMPAS.com - Sistem kerja jarak jauh dinilai ikut mengurangi peluang lulusan baru mendapatkan pekerjaan. Riset dari Federal Reserve Bank of New York ini sekaligus menepis anggapan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengganggu pasar kerja bagi lulusan muda perguruan tinggi.
Menurut peneliti, kondisi tersebut terjadi karena sistem kerja jarak jauh membuat proses pelatihan dan pendampingan bagi karyawan baru menjadi lebih sulit.
"Analisis kami menunjukkan bahwa tren ini saling terkait, di mana kerja jarak jauh mempersulit para manajer untuk melatih dan membimbing karyawan baru," kata para peneliti dalam laporannya, dikutip Kamis (4/6/2026).
Baca juga: Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja Toxic
Tim menambahkan data internal dari sebuah perusahaan teknologi Fortune 500 guna melihat pola perekrutan, pelatihan, dan produktivitas pekerja dalam sistem kerja jarak jauh maupun tatap muka.
Mereka lalu membandingkan tingkat pengangguran sebelum pandemi, dari 2017-2019, dengan tingkat pengangguran setelah pandemi dari 2022-2024. Mereka menemukan bahwa tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi muda meningkat 20 persen setelah pandemi.
Tingkat pengangguran kelompok usia di bawah 29 tahun naik dari rata-rata 3,1 persen pada 2017-2019 menjadi 3,7 persen pada 2022-2025.
Sebaliknya, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi yang lebih berpengalaman justru turun dari 1,9 persen menjadi 1,8 persen pada periode yang sama.
Baca juga: AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis
"Kami membandingkan tingkat pengangguran di antara orang-orang yang bekerja di pekerjaan yang dapat dilakukan dari jarak jauh seperti teknik perangkat lunak dengan mereka yang bekerja di pekerjaan yang tidak dapat dilakukan dari jarak jauh seperti teknik mesin," jelas tim peneliti.
Kemudian, mereka menggunakan data pengangguran individu yang lebih muda di pekerjaan yang bisa dan tidak bisa dilakukan dari jarak jauh dengan tingkat pengangguran pekerja berpengalaman.
"Karena begitu banyak lulusan perguruan tinggi muda yang bekerja di bidang pekerjaan jarak jauh, perhitungan kasar kami menunjukkan bahwa pekerjaan jarak jauh dapat menjelaskan 64 persen peningkatan pengangguran untuk semua lulusan perguruan tinggi muda antara tahun 2017−2019 dan 2022−2024," tulis peneliti.
Penelitian juga mengungkapkan, pekerja yang bekerja berdekatan dengan rekan kerja dan atasan menerima lebih banyak umpan balik serta bimbingan dalam menjalankan tugasnya. Sementara, pekerja dari lokasi terpisah mendapatkan lebih sedikit masukan.
Dampaknya paling dirasakan pekerja muda yang masih membutuhkan arahan dan pengalaman untuk berkembang. Berkurangnya interaksi langsung membuat mereka kehilangan kesempatan memperoleh masukan konstruktif dari rekan kerja maupun atasan.
"Ketika semua karyawan bekerja secara terisolasi, mereka yang sebelumnya bekerja berdampingan dengan rekan tim, dan karenanya menerima lebih banyak bimbingan dari rekan kerja mereka, menghasilkan output berkualitas lebih baik daripada mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu bekerja dari jarak jauh dari rekan tim mereka," ucap tim peneliti.
Di sisi lain, ketika perusahaan menerapkan kebijakan kembali ke kantor (return to office/RTO), kualitas hasil kerja meningkat utamanya pada tim yang bekerja bersama lagi di lokasi sama.
Pola perekrutan perusahaan menunjukkan kecenderungan serupa, mereka memahami kendala jarak bagi pengembangan pekerja.
Saat kantor ditutup karena pandemi, perusahaan mempekerjakan lebih sedikit pekerja yang kurang berpengalaman dan lebih banyak pekerja berpengalaman. Sebab, mereka membutuhkan lebih sedikit bimbingan untuk melakukan pekerjaan dengan baik.
Lalu, setelah kantor dibuka kembali perusahaan merekrut pekerja yang lebih muda.
Namun, untuk posisi yang dijalankan secara jarak jauh perusahaan masih lebih sering memilih kandidat berpengalaman.
Penelitian ini juga menunjukkan banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan RTO menganggap kehadiran karyawan di lokasi yang sama penting untuk mendukung proses pembelajaran dan pendampingan kerja.
Perusahaan yang menjadi objek penelitian bahkan menerapkan aturan RTO lebih ketat dibandingkan perusahaan teknologi lainnya, sehingga tetap dapat memberikan pendampingan secara langsung kepada pekerja muda dan terus merekrut lulusan baru setelah pandemi.
"Dinamika ini menunjukkan bahwa kerja jarak jauh telah melemahkan insentif untuk mempekerjakan pekerja muda dengan menghambat pelatihan di tempat kerja. Ironisnya, ketika lapangan kerja langka, justru semakin sulit bagi pekerja muda untuk mendapatkan pelatihan yang mereka butuhkan," beber peneliti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya