Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan

Kompas.com, 4 Juni 2026, 10:40 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sistem kerja jarak jauh dinilai ikut mengurangi peluang lulusan baru mendapatkan pekerjaan. Riset dari Federal Reserve Bank of New York ini sekaligus menepis anggapan, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mengganggu pasar kerja bagi lulusan muda perguruan tinggi.

Menurut peneliti, kondisi tersebut terjadi karena sistem kerja jarak jauh membuat proses pelatihan dan pendampingan bagi karyawan baru menjadi lebih sulit. 

"Analisis kami menunjukkan bahwa tren ini saling terkait, di mana kerja jarak jauh mempersulit para manajer untuk melatih dan membimbing karyawan baru," kata para peneliti dalam laporannya, dikutip Kamis (4/6/2026).

Baca juga: Perempuan Lebih Rentan di Lingkungan Kerja Toxic

Tim menambahkan data internal dari sebuah perusahaan teknologi Fortune 500 guna melihat pola perekrutan, pelatihan, dan produktivitas pekerja dalam sistem kerja jarak jauh maupun tatap muka.

Mereka lalu membandingkan tingkat pengangguran sebelum pandemi, dari 2017-2019, dengan tingkat pengangguran setelah pandemi dari 2022-2024. Mereka menemukan bahwa tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi muda meningkat 20 persen setelah pandemi.

Tingkat pengangguran kelompok usia di bawah 29 tahun naik dari rata-rata 3,1 persen pada 2017-2019 menjadi 3,7 persen pada 2022-2025. 

Sebaliknya, tingkat pengangguran lulusan perguruan tinggi yang lebih berpengalaman justru turun dari 1,9 persen menjadi 1,8 persen pada periode yang sama.

Baca juga: AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis

"Kami membandingkan tingkat pengangguran di antara orang-orang yang bekerja di pekerjaan yang dapat dilakukan dari jarak jauh seperti teknik perangkat lunak dengan mereka yang bekerja di pekerjaan yang tidak dapat dilakukan dari jarak jauh seperti teknik mesin," jelas tim peneliti.

Kemudian, mereka menggunakan data pengangguran individu yang lebih muda di pekerjaan yang bisa dan tidak bisa dilakukan dari jarak jauh dengan tingkat pengangguran pekerja berpengalaman.

"Karena begitu banyak lulusan perguruan tinggi muda yang bekerja di bidang pekerjaan jarak jauh, perhitungan kasar kami menunjukkan bahwa pekerjaan jarak jauh dapat menjelaskan 64 persen peningkatan pengangguran untuk semua lulusan perguruan tinggi muda antara tahun 2017−2019 dan 2022−2024," tulis peneliti.

Penelitian juga mengungkapkan, pekerja yang bekerja berdekatan dengan rekan kerja dan atasan menerima lebih banyak umpan balik serta bimbingan dalam menjalankan tugasnya. Sementara, pekerja dari lokasi terpisah mendapatkan lebih sedikit masukan.

Dampaknya paling dirasakan pekerja muda yang masih membutuhkan arahan dan pengalaman untuk berkembang. Berkurangnya interaksi langsung membuat mereka kehilangan kesempatan memperoleh masukan konstruktif dari rekan kerja maupun atasan.

"Ketika semua karyawan bekerja secara terisolasi, mereka yang sebelumnya bekerja berdampingan dengan rekan tim, dan karenanya menerima lebih banyak bimbingan dari rekan kerja mereka, menghasilkan output berkualitas lebih baik daripada mereka yang menghabiskan lebih banyak waktu bekerja dari jarak jauh dari rekan tim mereka," ucap tim peneliti.

Perubahan Kebijakan 

Di sisi lain, ketika perusahaan menerapkan kebijakan kembali ke kantor (return to office/RTO), kualitas hasil kerja meningkat utamanya pada tim yang bekerja bersama lagi di lokasi sama.

Pola perekrutan perusahaan menunjukkan kecenderungan serupa, mereka memahami kendala jarak bagi pengembangan pekerja.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Pemerintah
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
LSM/Figur
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
LSM/Figur
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Pemerintah
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Pemerintah
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Pemerintah
TransitionZero Luncurkan Platform Pemodelan Sistem Energi untuk Asia Tenggara
TransitionZero Luncurkan Platform Pemodelan Sistem Energi untuk Asia Tenggara
Swasta
Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain
Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain
Pemerintah
Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Pemerintah
Pendanaan Minim, RI Masih Butuh Rp163 Triliun untuk Jaga Biodiversitas
Pendanaan Minim, RI Masih Butuh Rp163 Triliun untuk Jaga Biodiversitas
Pemerintah
Dorong Pembangunan Berkelanjutan, IKA Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau
Dorong Pembangunan Berkelanjutan, IKA Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau
LSM/Figur
Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi
Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi
LSM/Figur
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Pemerintah
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
Kehadiran DSI Disebut Bisa Permudah Implementasi EUDR untuk Produk Sawit
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau