Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan

Kompas.com, 4 Juni 2026, 14:18 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Data terbaru dari badan kesehatan PBB (WHO), makanan yang tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta orang sakit dan 1,5 juta orang meninggal setiap tahun di seluruh dunia.

Melansir laman resmi United Nations, Rabu (3/6/2026) angka ini menunjukkan betapa besarnya dampak buruk makanan yang tercemar terhadap kesehatan, pembangunan, dan perekonomian, yang selama ini sering diabaikan.

Mirisnya, informasi terbaru yang dirilis menjelang Hari Keamanan Pangan Sedunia ini menunjukkan bahwa anak-anak di bawah usia lima tahun adalah kelompok yang paling rentan.

Meskipun jumlah anak-anak hanya 9 persen dari total penduduk dunia, mereka menanggung hampir sepertiga (sekitar 33 persen) dari seluruh kasus penyakit akibat makanan.

Baca juga: Tantangan di Balik Piring Makan Anak Indonesia: Menyuap Gizi, Membangun Kebiasaan

Menurut WHO, banyak dari penyakit tersebut berupa diare parah yang bisa berujung pada kematian.

Paparan bahan kimia seperti timbal dan metilmerkuri melalui makanan juga dapat merusak otak anak yang sedang berkembang, serta menyebabkan masalah saraf dan tumbuh kembang seumur hidup.

"Keamanan pangan bukanlah masalah yang abstrak, ini menyangkut setiap hidangan setiap keluarga setiap hari. Makanan yang tidak aman selalu menjadi masalah besar bagi kesehatan masyarakat, tetapi selama ini kita tidak memiliki gambaran besar tentang betapa mengerikannya kerugian manusia dan ekonomi yang diakibatkannya. Perkiraan baru ini mengubah hal tersebut," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Studi tersebut juga menemukan bahwa sebagian besar penyakit disebabkan oleh bakteri, virus, dan parasit di dalam makanan yaitu sekitar 860 juta kasus pada tahun 2021 saja.

Namun, kontaminasi bahan kimia justru menjadi penyebab utama dari sebagian besar kematian yang berkaitan dengan makanan tidak aman.

Dampak bahan kimia mematikan

Menurut WHO, bahaya bahan kimia menjadi penyebab dari 73 persen kematian yang diakibatkan oleh makanan yang tercemar pada tahun 2021.

Arsenik anorganik dan timbal adalah penyumbang utama terbesar, sebagian besar karena paparan jangka panjang meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker.

Jika digabungkan, kedua zat berbahaya tersebut berkaitan dengan lebih dari satu juta kematian dalam satu tahun saja.

Makanan bisa tercemar melalui air yang kotor, produk yang tidak ditangani dengan benar atau zat beracun yang masuk ke dalam rantai makanan akibat pencemaran lingkungan dan kegiatan industri.

Begitu bahan kimia seperti arsenik, timbal, atau metilmerkuri masuk ke dalam pasokan makanan, zat-zat tersebut sering kali sulit atau bahkan mustahil untuk dihilangkan.

WHO menyatakan bahwa wilayah Afrika dan Asia Tenggara menyumbang hampir tiga perempat (sekitar 75 persen) dari seluruh kasus penyakit akibat makanan dan 60 persen dari total kematian di dunia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
WHO: 1,5 Juta Orang Meninggal per Tahun akibat Makanan Tidak Sehat, Anak Paling Rentan
Pemerintah
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Bayi Orangutan Sumatera Lahir di Cagar Alam Jantho Aceh, Diberi Nama Badar
Pemerintah
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
Fenomena Debu Sahara Kian Sering Terjadi, Apa Kaitannya dengan Krisis Iklim?
LSM/Figur
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
Riset: Sistem Kerja Jarak Jauh Pangkas Peluang Lulusan Baru Dapat Pekerjaan
LSM/Figur
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Saatnya Mengelaborasi Pasal 6.8 Perjanjian Paris
Pemerintah
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Kemenhut Optimalkan Operasi Pemadaman Karhutla di 4 Provinsi Sumatera
Pemerintah
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Produsen Mobil Terkemuka Sembunyikan Data Emisi Hingga 33 Persen
Pemerintah
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Krisis Iklim Bikin Ibukota Malaysia dan Kota Satelitnya Kerap Dilanda Banjir
Pemerintah
TransitionZero Luncurkan Platform Pemodelan Sistem Energi untuk Asia Tenggara
TransitionZero Luncurkan Platform Pemodelan Sistem Energi untuk Asia Tenggara
Swasta
Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain
Akal-Akalan Perusahaan Hadapi Aturan Emisi, Pindahkan Pabrik Polutif ke Tempat Lain
Pemerintah
Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Air Bersih Langka, Kelaparan dan Krisis Pangan Dunia Mengintai
Pemerintah
Pendanaan Minim, RI Masih Butuh Rp163 Triliun untuk Jaga Biodiversitas
Pendanaan Minim, RI Masih Butuh Rp163 Triliun untuk Jaga Biodiversitas
Pemerintah
Dorong Pembangunan Berkelanjutan, IKA Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau
Dorong Pembangunan Berkelanjutan, IKA Unpad Luncurkan Forum Ekonomi Hijau
LSM/Figur
Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi
Filter Rokok Turut Merusak Lingkungan lewat Limbah, Polusi, dan Emisi
LSM/Figur
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Gelombang Panas Picu Harga Jual Listrik di Eropa Jadi Negatif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau