Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030

Kompas.com, 5 Juni 2026, 15:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kecerdasan Buatan (AI) tidak hanya bertanggung jawab atas jumlah gas rumah kaca mengkhawatirkan yang memanaskan bumi.

Pusat data, yang merupakan infrastruktur global untuk menjalankan AI, diperkirakan dapat mengonsumsi 945 terawatt-jam listrik setiap tahunnya pada tahun 2030.

Jumlah ini hampir tiga kali lipat dari gabungan penggunaan listrik tahunan negara Pakistan, Bangladesh, dan Nigeria, negara-negara yang jika ditotal menjadi rumah bagi lebih dari 650 juta orang.

Sementara melansir laman resmi United Nations, Kamis (4/6/2026) studi baru dari UN University (UNU), konsumsi air yang berkaitan dengan AI bisa menyamai kebutuhan domestik tahunan dasar dari 1,3 miliar orang pada akhir dekade ini.

Jejak tanahnya bisa melebihi 14.500 kilometer persegi atau kira-kira dua kali lipat dari luas wilayah Jabodetabek.

Jejak tanah yang dimaksud ini adalah lahan yang digunakan untuk menyokong industri AI. Untuk menghasilkan listrik raksasa dan membangun gedung-gedung penyimpanan komputer tersebut, dibutuhkan lahan tanah yang sangat luas.

Baca juga: Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa

Laporan ini pun menyoroti adanya celah besar dalam cara kita mengukur dampak lingkungan dari AI.

Selama ini, polusi gas rumah kaca selalu lebih diutamakan untuk diperhatikan, tetapi cara ini mengabaikan dampak buruk lingkungan lainnya. Solusi yang dianggap ramah lingkungan di satu sisi, bisa jadi justru memperparah tekanan di sisi lain, terutama di wilayah-wilayah yang sudah kekurangan sumber daya alam.

Sebagai contoh, beralih ke jenis energi terbarukan tertentu memang bisa mengurangi polusi karbon, tetapi di sisi lain dapat meningkatkan konsumsi air dan penggunaan lahan secara drastis.

Penggunaan AI sehari-hari jadi penyebab utama

Debat publik sejauh ini sebagian besar hanya berfokus pada energi yang dibutuhkan untuk melatih model AI tingkat lanjut.

Namun, studi ini menemukan bahwa penggunaan sehari-hari oleh masyarakat seperti saat AI menjawab pertanyaan sebenarnya menyumbang sekitar 80 hingga 90 persen dari total kebutuhan energi.

Skalanya sangat mengejutkan. Satu layanan AI yang digunakan secara luas diperkirakan memproses sekitar 2,5 miliar perintah (prompt) per hari, dan menghabiskan ratusan gigawatt-jam listrik setiap tahunnya.

Penggunaan energi juga sangat berbeda-beda tergantung pada tugas yang diberikan. Membuat satu gambar menggunakan AI bisa membutuhkan energi seribu kali lipat lebih besar daripada sekadar mengelompokkan teks sederhana, sementara pembuatan video membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar lagi.

Peningkatan efisiensi saja kemungkinan besar tidak akan cukup untuk menutupi lonjakan kebutuhan ini.

Laporan ini pun menunjuk pada apa yang disebut sebagai rebound effect, di mana biaya yang semakin murah dan kinerja AI yang semakin pintar justru memicu penggunaan yang lebih sering, yang pada akhirnya malah meningkatkan total konsumsi sumber daya alam.

Baca juga: AI Permudah Pekerjaan, tapi Bisa Gerus Kemampuan Berpikir Kritis

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Rosan: Pengembangan PLTS 100 GW Dimulai dari Penggantian PLTD 13 GW
Pemerintah
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Zulhas: Aturan Turunan Perpres NEK Rampung Tahun Ini, Perdagangan Karbon Sasar Petani-Nelayan
Pemerintah
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Hashim Sebut Pemerintah Tak Akan Alihkan Kawasan Hutan Jadi Sawah, Komitmen Dipertanyakan
Pemerintah
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Utusan PBB Ingatkan Target SDGs soal Air Terancam Meleset
Pemerintah
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau