Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Kebocoran Metana Jadi Kunci RI Amankan Investasi LNG

Kompas.com, 9 Juni 2026, 09:17 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pencegahan kebocoran emisi gas rumah kaca (GRK) metana (CH4) dapat meningkatkan daya saing sektor minyak dan gas (migas) di Indonesia.

Investor mempertimbangkan jejak metana sektor migas sebagai bagian dari kepatuhan terhadap komitmen internasional, Oil and Gas Methane Partnership (OGMP).

"Jepang dan Korea Selatan sudah masuk ke dalam Clean LNG Coalitio, mereka menginginkan emisi GRK-nya rendah. Nah, jika emisi GRK Indonesia rendah dengan mengurangi emisi metana, otomatis akan lebih kompetitif. Iya, tentunya (meningkatkan daya saing investasi). Lebih compliance," ujar COO & Researcher ECADIN, Candra Sri Sutama usai acara Methane in Oil & Gas Media Briefing, Senin (8/6/2026).

Baca juga: RI Perlu Susun Regulasi Pengurangan Emisi Metana di Sektor Migas

Untuk itu, industri migas di Indonesia perlu mengurangi jejak metana karena mengekspor Liquefied Natural Gas (LNG) terbesar ke Jepang dan Korea Selatan. LNG dari Indonesia menjadi sumber energi di Jepang dan Korea Selatan, sehingga jejak metananya akan mempengaruhi perhitungan emisi GRK dan life cycle assesment (LCA) dari komoditas yang mereka produksi.

Agar Jepang dan Korea Selatan bisa mengekspor komoditasnya ke Uni Eropa, kedua negara Asia Timur itu banyak membantu industri migas di Indonesia mengurangi kebocoran emisi GRK metana.

Jepang dan Korea Selatan terdampak langsung Carbon Border Adjustment Mechanisme, kebijakan Uni Eropa yang menerapkan tarif atau pajak terhadap produk impor berdasarkan jumlah emisi GRK yang dihasilkan selama proses pembuatannya.

"Jadi, kalau Jepang dan Korea Selatan ingin mengurangi footprint carbon produk-produk mereka atau mau terutama diekspor ke Eropa, mereka tertarik untuk mengurangi footprint carbon energi mereka," tutur Candra.

Dia menjelaskan industri migas dapat mengolah metana menjadi LNG dan menjualnya sebagai kompensasi biaya untuk mengurangi kebocoran emisi GRK ini.

Kebocoran emisi GRK metana pada sektor industri migas di Indonesia sebenarnya senantiasa dipantau International Methane Emissions Observatory (IMEO), insiatif dari UNEP atau program lingkungan PBB.

Baca juga: Industri Kopi dan Olahan Susu Belum Punya Target Atasi Polusi Metana

Pemantauan kebocoran emisi GRK metana di Indonesia tersebut melalui satelit dan pengukuran lapangan memakai drone. Namun, pemantauan kebocoran emisi GRK metana di Indonesia menggunakan satelit agak sulit karena banyak awan dan vegetasi. 

Berkaca dari Eropa

Untuk itu, Indonesia perlu menyusun regulasi untuk mengatur manajemen pengurangan emisi GRK metana di industri migas untuk memperkuat daya saingnya.

Indonesia bisa berkaca dari keberhasilan Uni Eropa dalam mengatur emisi GRK metana untuk sektor migasnya. Uni Eropa juga sudah mengatur metana dari migas yang dimpornya, sehingga semua yang masuk dikenakan kewajiban melaporkan emisi GRK-nya.

"Ini sempat ada konflik sebenarnya dengan salah satu negara pengekpor di Timur Tengah, karena mereka tidak mau diatur, tapi Eropa bersikukuh. Jadi, mereka bergerak lebih satu step lagi yaitu tidak hanya regulasi di dalam Eropa tapi juga mengatur yang mengekspor ke dalam Eropa dan ini otomatis menjadi concern negara-negara lain, termasuk Indonesia yang langsung atau tidak langsung mengekspor ke Eropa," ucapnya.

Baca juga: Emisi Metana Bantargebang Peringkat 2 Global, Bisa Dimanfaatkan untuk EBT

Bahkan, Norwegia sudah mengatur metana sektor migas sejak 1970-an, yang mana saat ini jejak emisi GRK-nya paling kecil di seluruh dunia. Norwegia terus memperbaiki manajemen pengurangan emisi GRK metana, termasuk memakai penalti dan pajak terhadap karbon yang dihasilkan oleh sektor migas.

Berdasarkan International Energy Agency (IEA) tahun 2025, sektor energi, seperti batu bara dan migas, menyumbang sebesar 41 persen dari total emisi GRK metana di Indonesia. Sedangkan sektor pertanian berkontribusi terhadap 39 persen dan limbah 18 persen dari total emisi GRK metana di Indonesia.

Menurut Candra, mengurangi emisi GRK metana pada sektor migas lebih gampang ketimbang pertanian yang tidak terkonsentrasi. "Kalau di migas sudah lebih jelas, kira-kira di mana bocornya itu, kita bisa ukur karena kita sudah tahu kebocorannya itu kira-kira di sebelah mana dan di situ kita bisa ukur dan bisa tanggulangi dengan lebih konkret," tutur Candra.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Studi Ungkap 25 Persen Emisi Karbon Sektor Pelayaran Dunia dari Kapal di Sungai
Pemerintah
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
Dampak Karhutla Tak Cukup Dihitung dari Luas Lahan dan Emisi Karbon
LSM/Figur
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Emisi Gas Rumah Kaca dari Sawah Dunia Naik 2 Kali Lipat dalam 60 Tahun
Pemerintah
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Cara Mengenalkan Alam Tentukan Respons Anak Terhadap Lingkungan
Pemerintah
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
Konservasi Spesies Indonesia Tak Cukup Andalkan Data, Perlu Kolaborasi Lintas Pihak
LSM/Figur
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Harga Gandum Terancam Naik 3 Kali Lipat Akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Perempuan Timur Indonesia dalam Transisi Energi
Pemerintah
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pertemanan Perempuan di Kantor Berkontribusi pada Stabilitas Perusahaan
Pemerintah
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
Minyak Sawit dari Lahan Bekas Karhutla 2026 Berisiko Tak Bisa Masuk Pasar Eropa
LSM/Figur
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Super El Nino Berpotensi Ubah Pola Cuaca Ekstrem di 12 Kota Besar Asia
Pemerintah
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Sektor Agribisnis Terancam Rugi Rp112,9 Triliun Akibat Biaya Air Tersembunyi
Pemerintah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Cetak Rekor, El Niño Saat Ini Resmi Jadi Yang Terkuat dalam Sejarah
Pemerintah
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Tekan Risiko Kebakaran Gambut, Sinergi Lintas Sektor di Cengal Diperkuat
Pemerintah
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pulihkan Pelayanan Pascabencana Sumatera, Kemendagri Konsolidasi Satu Data Desa
Pemerintah
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
APBN Harus Punya Alokasi Khusus Pemulihan dan Penanggulangan Bencana Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau