Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kerugian akibat Polusi Plastik Diperkirakan Capai Rp 44.340 Triliun Per Tahun

Kompas.com, 17 Juni 2026, 14:03 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - World Economic Forum (WEF) memperkirakan kerugian jasa ekosistem laut akibat polusi plastik global mencapai 500 miliar-2,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp 8.868 triliun-Rp 44.340 per tahunnya. Studi mengungkap, hal itu dikarenakan 75–150 juta ton plastik yang berada di lautan dunia.

Laporan ini mencatat bahwa emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari siklus hidup plastik menembus 2,7 miliar ton per tahun, dan bakal melampaui emisi seluruh negara kecuali China dan Amerika Serikat pada 2040.

"Polusi plastik menggerus sektor perikanan, pariwisata pesisir, produktivitas pertanian, serta kemampuan ekosistem seperti mangrove dalam menyerap karbon. Mangrove sendiri dapat menyimpan karbon empat kali lebih banyak per hektare dibandingkan hutan tropis," tulis WEF dalam laporannya, dilansir Rabu (17/6/2026).

Baca juga: Sri Lanka Larang Botol Plastik Sekali Pakai dan Terapkan Kantong Berbayar

Limbah plastik di lautan turut menjadi penyebab punahnya spesies hewan dan tumbuhan hingga ratusan kali lebih banyak dibandingkan faktor lainnya. WEF mencatat, produksi plastik tahunan melonjak dari 2 juta ton menjadi hampir 500 juta ton sejak 1950. Akan tetapi, hanya 10 persen di antaranya berhasil didaur ulang.

"Setiap tahun, 130 juta ton limbah plastik mencemari udara, daratan, dan perairan dunia. Tanpa tindakan mendesak, jumlah tersebut dapat meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2040, setara dengan membuang satu truk penuh plastik ke alam setiap detik," kata WEF.

Plastik yang terjerat pada karang meningkatkan risiko penyakit dari 4 persen menjadi 89 persen. Peneliti menyebut, kondisi ini sangat berdampak karena terumbu karang berfungsi sebagai tempat pembibitan bagi 40 hingga 70 persen spesies ikan tangkap.

Baca juga: Saat Plastik Tak Lagi Murah, Sistem Guna Ulang Jadi Makin Relevan

Dilaporkan pula bahwa limbah plastik menyebabkan lebih dari 4.000 spesies, mulai dari zooplankton hingga paus terjerat atau menelannya. Cemaran pada hewan laut, mengakibatkan penyumbatan saluran pencernaan dan kematian pada spesies kunci seperti penyu yang merugikan pariwisata pesisir.

Sampah plastik pun merusak jaring nelayan dan mengurangi jumlah tangkapan. Di Jakarta, misalnya, pendapatan nelayan berkurang 38 persen akibat biaya operasional tambahan yang dipicu oleh polusi plastik.

"Plastik merusak habitat seperti mencekik akar mangrove, meningkatkan risiko penyakit pada terumbu karang, dan mencemari lokasi peneluran penyu laut. Ketiga, melalui pencemaran bahan kimia yang mengganggu sistem reproduksi serta menurunkan kesuburan tanah dan hasil panen," jelas WEF.

Kontribusi Dunia Usaha

Di sisi lain, WEF menilai dunia usaha menghadapi risiko yang kian rumit karena polusi plastik dan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati. Dalam Global Risks Report 2026, hilangnya keanekaragaman hayati dan keruntuhan ekosistem menempati posisi kedua sebagai risiko global paling serius dalam satu dekade mendatang.

"Kasus tuntutan hukum terhadap perusahaan yang berkaitan dengan polusi plastik diperkirakan dapat mencapai 100 miliar dollar AS per tahun pada 2030. Selain itu, penerapan skema tanggung jawab produsen yang diperluas secara wajib dapat menambah beban biaya hingga 100 miliar dolar AS lagi," papar WEF.

Meski demikian, peluang ekonomi dari pengurangan polusi plastik sangat besar. Saat ini, 91 persen limbah plastik masih dibakar, ditimbun, atau dibuang begitu saja yang menyebabkan hilangnya nilai ekonomi sebesar 80-120 miliar dollar AS setiap tahun.

Perusahaan yang menghabiskan 570 miliar dolar AS untuk memproduksi plastik sekali pakai berpotensi mengurangi hampir separuh polusi plastik pada 2040 dengan beralih ke kemasan guna ulang, sekaligus menciptakan 8,6 juta lapangan kerja.

Baca juga: Komisi Eropa Sebut Pelonggaran UU EUDR Pangkas Biaya Perusahaan 75 Persen

Sementara, desain produk yang lebih baik dapat meningkatkan proporsi plastik yang layak didaur ulang secara ekonomis dari 22 persen menjadi 54 persen.

"Oleh karena itu, perusahaan di seluruh rantai nilai plastik mulai dari produsen, perusahaan pengemasan, hingga merek-merek konsumen yang bergantung pada plastik didorong untuk mengintegrasikan aspek keanekaragaman hayati ke dalam strategi inti perusahaan, mengungkapkan dampak yang terkait dengan plastik, serta memasukkan EPR dan keanekaragaman hayati ke dalam manajemen risiko mereka," beber WEF.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
BRIN: Papua Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Indonesia, Simpan Ribuan Spesies Endemik
Pemerintah
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
BRIN: Alih Fungsi Lahan hingga Overtourism Jadi Ancaman Keanekaragaman Hayati di Jawa
Pemerintah
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Ketrampilan Apa yang Diperlukan Anak Muda di Dunia Kerja?
Pemerintah
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
Tren Aspal Halaman Depan Rumah di Eropa Perparah Dampak Cuaca Panas
LSM/Figur
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Asia-Pasifik Butuh Aksi Bersama Hadapi Krisis Air
Pemerintah
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
Manisnya Gula Aren di Kaki Gede-Pangrango, yang Lahir dari Tradisi Memahami Karakter Pohon
LSM/Figur
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Weda Bay Nickel Reklamasi 223 Hektare Lahan Pascatambang
Swasta
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
PBB Rilis Panduan Resmi Pengembangan Ekonomi Biru Berkelanjutan
Pemerintah
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Aturan Emisi Diperketat, Truk Berat di Korsel Wajib Pangkas Polusi
Pemerintah
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Daito Class Batch 2 Resmi Dibuka, Unsika dan Mitra Jepang Siapkan Talenta Indonesia Berkarier di Industri Konstruksi Global
Swasta
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Smart-Go, Bank Sampah Digital yang Tumbuh dari Sekolah dan Menjangkau Masyarakat
Swasta
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
Peneliti Kembangkan Cara Ubah Sampah Plastik Campuran Jadi Hidrogen Bersih
LSM/Figur
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
Perdagangan Karbon Berpotensi Jadi Klaster Kejahatan Baru Sektor Kehutanan
LSM/Figur
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
Sebanyak 41,5 Juta Hektar Tutupan Hutan Berisiko Mengalami Deforestasi
LSM/Figur
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Studi Ungkap Mikroplastik Cemari Laut Dalam, Capai Kedalaman 2.000 Meter
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau