Hal yang sama juga ditemukan pada perusahaan pertambangan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa mereka memiliki rencana yang sangat terbatas untuk mengalihkan bisnis mereka ke sektor yang lebih bersih.
Baca juga: Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu
Dari enam perusahaan yang diteliti, hanya dua yang berencana meningkatkan produksi tembaga, dan hanya satu perusahaan yang telah membeli perusahaan tambang litium pada tahun 2025.
Padahal, mineral penting seperti litium dan tembaga adalah bahan baku utama untuk membuat teknologi energi bersih seperti baterai kendaraan listrik dan panel surya.
Namun, perusahaan-perusahaan tersebut hanya mau membuka rencana peningkatan produksi untuk tembaga, itu pun jumlahnya sangat sedikit.
"Temuan kami menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak dan gas besar berencana meningkatkan produksi mereka lebih cepat daripada permintaan pasar. Sementara itu, perkembangan mereka dalam beralih ke model bisnis ramah lingkungan sangatlah terbatas," ungkap Seyed Alireza Modirzadeh, pemimpin proyek di TPI Centre.
"Cara berpikir jangka pendek ini membuat mereka menghadapi risiko besar kehilangan nilai aset berharga mereka karena kesempatan untuk melakukan peralihan ke energi bersih yang teratur kini semakin sempit," terangnya lagi.
Sementara itu David Russell, ketua dari TPI menambahkan berhubung desakan untuk beralih ke energi ramah lingkungan semakin besar, para investor membutuhkan bukti nyata yang independen dan kuat agar bisa membedakan mana rencana peralihan yang benar jujur dan mana yang cuma janji manis belaka.
Riset terbaru dari TPI Centre mengenai perusahaan minyak, gas, dan pertambangan ini adalah bentuk analisis mendalam yang sangat dibutuhkan para investor. Dengan begitu, mereka bisa menegur dan mengarahkan perusahaan-perusahaan tersebut secara tepat terutama perusahaan yang paling terancam bangkrut akibat perubahan zaman ini, namun sebenarnya sangat penting dalam menyukseskan peralihan ke energi bersih.
Berdasarkan analisis terbaru dari Climate Analytics, agar kenaikan suhu bumi tetap berada di bawah 1,5 derajat C hingga akhir abad ini, penggunaan bahan bakar fosil harus diturunkan secara drastis yaitu berkurang setengahnya dalam waktu sepuluh tahun ke depan.
Laporan tersebut juga menemukan bahwa agar bumi tidak terlalu lama dan terlalu parah melewati batas aman suhu 1,5 derajat C tersebut, penggunaan bahan bakar fosil harus dihentikan sepenuhnya secara total pada tahun 2070.
Analisis ini dibuat berdasarkan skenario "Ambisi Tertinggi yang Mungkin Dicapai" dari Climate Analytics dan Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim (PIK).
Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen
Dalam skenario ini, penggunaan bahan bakar fosil mencapai titik tertingginya pada tahun 2025, lalu turun 20 persen pada tahun 2030, turun 50 persen pada tahun 2035, dan benar-benar habis di seluruh dunia pada tahun 2070.
Penurunan bahan bakar fosil sebesar 20 persen pada tahun 2030 berarti jumlah produksi dan penggunaannya harus berkurang 4–5 persen setiap tahun mulai sekarang.
"Pembukaan ladang minyak dan gas baru sama sekali tidak sejalan dengan rencana peralihan yang nyata untuk meninggalkan bahan bakar fosil," kata Bill Hare, CEO Climate Analytics.
"Penggunaan gas harus dikurangi dengan cepat dalam jangka pendek hingga menjadi setengah dari jumlah tahun 2023 pada tahun 2035," tambahnya.
Namun, pemerintah dan perusahaan bahan bakar fosil justru terus membuang dana miliaran dolar untuk memperluas produksi, terutama gas fosil. Ini adalah jalan pintas menuju kehancuran iklim.
Jika kita memperlambat penghentian bahan bakar fosil, kita akan dihadapkan pada dua pilihan yang berbahaya yakni terlalu bergantung pada teknologi penyerap dan penangkap karbon yang jumlahnya terbatas dan belum pasti, atau pasrah menerima suhu bumi yang semakin panas dan kerusakan iklim yang lebih parah.
Jalan yang lebih aman adalah menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara cepat dan terencana, dengan beralih ke energi listrik yang bersih.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya