Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi

Kompas.com, 19 Juni 2026, 17:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

Hal yang sama juga ditemukan pada perusahaan pertambangan. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa mereka memiliki rencana yang sangat terbatas untuk mengalihkan bisnis mereka ke sektor yang lebih bersih.

Baca juga: Penyakit Kronis Meningkat, Makanan UPF hingga Bahan Bakar Fosil Jadi Pemicu

Dari enam perusahaan yang diteliti, hanya dua yang berencana meningkatkan produksi tembaga, dan hanya satu perusahaan yang telah membeli perusahaan tambang litium pada tahun 2025.

Padahal, mineral penting seperti litium dan tembaga adalah bahan baku utama untuk membuat teknologi energi bersih seperti baterai kendaraan listrik dan panel surya.

Namun, perusahaan-perusahaan tersebut hanya mau membuka rencana peningkatan produksi untuk tembaga, itu pun jumlahnya sangat sedikit.

"Temuan kami menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan minyak dan gas besar berencana meningkatkan produksi mereka lebih cepat daripada permintaan pasar. Sementara itu, perkembangan mereka dalam beralih ke model bisnis ramah lingkungan sangatlah terbatas," ungkap Seyed Alireza Modirzadeh, pemimpin proyek di TPI Centre.

"Cara berpikir jangka pendek ini membuat mereka menghadapi risiko besar kehilangan nilai aset berharga mereka karena kesempatan untuk melakukan peralihan ke energi bersih yang teratur kini semakin sempit," terangnya lagi.

Sementara itu David Russell, ketua dari TPI menambahkan berhubung desakan untuk beralih ke energi ramah lingkungan semakin besar, para investor membutuhkan bukti nyata yang independen dan kuat agar bisa membedakan mana rencana peralihan yang benar jujur dan mana yang cuma janji manis belaka.

Riset terbaru dari TPI Centre mengenai perusahaan minyak, gas, dan pertambangan ini adalah bentuk analisis mendalam yang sangat dibutuhkan para investor. Dengan begitu, mereka bisa menegur dan mengarahkan perusahaan-perusahaan tersebut secara tepat terutama perusahaan yang paling terancam bangkrut akibat perubahan zaman ini, namun sebenarnya sangat penting dalam menyukseskan peralihan ke energi bersih.

Penghentian penggunaan bahan bakar fosil dunia

Berdasarkan analisis terbaru dari Climate Analytics, agar kenaikan suhu bumi tetap berada di bawah 1,5 derajat C hingga akhir abad ini, penggunaan bahan bakar fosil harus diturunkan secara drastis yaitu berkurang setengahnya dalam waktu sepuluh tahun ke depan.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa agar bumi tidak terlalu lama dan terlalu parah melewati batas aman suhu 1,5 derajat C tersebut, penggunaan bahan bakar fosil harus dihentikan sepenuhnya secara total pada tahun 2070.

Analisis ini dibuat berdasarkan skenario "Ambisi Tertinggi yang Mungkin Dicapai" dari Climate Analytics dan Institut Potsdam untuk Penelitian Dampak Iklim (PIK).

Baca juga: Hapus Total Bahan Bakar Fosil pada 2050 Butuh Tambahan Listrik 80 Persen

Dalam skenario ini, penggunaan bahan bakar fosil mencapai titik tertingginya pada tahun 2025, lalu turun 20 persen pada tahun 2030, turun 50 persen pada tahun 2035, dan benar-benar habis di seluruh dunia pada tahun 2070.

Penurunan bahan bakar fosil sebesar 20 persen pada tahun 2030 berarti jumlah produksi dan penggunaannya harus berkurang 4–5 persen setiap tahun mulai sekarang.

"Pembukaan ladang minyak dan gas baru sama sekali tidak sejalan dengan rencana peralihan yang nyata untuk meninggalkan bahan bakar fosil," kata Bill Hare, CEO Climate Analytics.

"Penggunaan gas harus dikurangi dengan cepat dalam jangka pendek hingga menjadi setengah dari jumlah tahun 2023 pada tahun 2035," tambahnya.

Namun, pemerintah dan perusahaan bahan bakar fosil justru terus membuang dana miliaran dolar untuk memperluas produksi, terutama gas fosil. Ini adalah jalan pintas menuju kehancuran iklim.

Jika kita memperlambat penghentian bahan bakar fosil, kita akan dihadapkan pada dua pilihan yang berbahaya yakni terlalu bergantung pada teknologi penyerap dan penangkap karbon yang jumlahnya terbatas dan belum pasti, atau pasrah menerima suhu bumi yang semakin panas dan kerusakan iklim yang lebih parah.

Jalan yang lebih aman adalah menghentikan penggunaan bahan bakar fosil secara cepat dan terencana, dengan beralih ke energi listrik yang bersih.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
Pemerintah
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Pemerintah
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Pemerintah
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
Pemerintah
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Swasta
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
BrandzView
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
LSM/Figur
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau