KOMPAS.com - Riset terbaru dari London School of Economics and Political Science (LSE) mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil terkemuka dunia berencana untuk meningkatkan produksi mereka.
Rencana ini bertolak belakang dengan janji mereka di depan publik untuk mengurangi emisi gas buang.
Temuan ini diterbitkan oleh Pusat Transisi Iklim Global (TPI Centre), sebuah lembaga riset di bawah naungan LSE.
Melansir Edie, Rabu (17/6/2026) dalam laporan tersebut, para peneliti menganalisis 16 perusahaan minyak dan gas global serta 6 perusahaan pertambangan besar.
Jika digabungkan, nilai total dari seluruh perusahaan tersebut mencapai lebih dari 2,8 triliun dolar AS pada Maret tahun ini.
Karena perusahaan-perusahaan ini merupakan penghasil polusi terbesar dan pengeruk sumber daya alam utama, peran mereka sangat menentukan berhasil atau tidaknya dunia mencapai target bebas emisi.
Para peneliti memperkirakan bahwa untuk 11 perusahaan yang mau membuka datanya, total produksi mereka akan mencapai 26,16 juta barel minyak per hari pada tahun 2030. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 14 persen dibandingkan dengan jumlah produksi pada tahun 2024, yang berada di angka 22,90 juta barel per hari.
Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025
Pertumbuhan produksi ini berbanding terbalik dan bertentangan langsung dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk mencapai target bebas emisi pada tahun 2050, serta bertolak belakang dengan apa yang selama ini dijanjikan oleh negara-negara dan industri di depan publik.
Berdasarkan hitungan Badan Energi Internasional (IEA), jika negara-negara dan industri benar-benar menepati janji iklim mereka, maka permintaan dunia terhadap minyak dan gas seharusnya turun rata-rata 2 persen setiap tahun hingga tahun 2050.
Bahkan, jika dunia ingin benar-benar bebas emisi pada pertengahan abad nanti, permintaan minyak dan gas harus turun lebih drastis, yaitu rata-rata di atas 5 persen setiap tahunnya.
Namun, rencana kenaikan produksi yang ditemukan oleh tim peneliti TPI Centre justru sangat tinggi.
Angka pertumbuhan mereka bahkan melewati batas perkiraan terburuk dari IEA. Padahal, jika dunia tetap menggunakan kebijakan yang sekarang tanpa ada perubahan, suhu rata-rata bumi diperkirakan akan naik sebesar 2,9 derajat C pada tahun 2100, sebuah kondisi yang sangat berbahaya bagi keselamatan planet kita.
Selain jumlah produksi minyak yang tidak sejalan dengan target pengurangan polusi, para peneliti juga menyimpulkan bahwa rencana perusahaan minyak dan gas untuk beralih ke bisnis lain yang lebih bersih ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.
Bahkan untuk perusahaan dengan kinerja terbaik sekalipun, jumlah energi ramah lingkungan yang mereka hasilkan diperkirakan hanya mencapai maksimal 5 persen dari total seluruh produksi energi mereka pada tahun 2030.
Fakta ini, ditambah dengan rencana sebagian besar perusahaan untuk terus meningkatkan produksi bahan bakar fosil, menunjukkan bahwa janji pengurangan emisi mereka tidak didukung oleh rencana peralihan bisnis yang nyata dan tepercaya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya