Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi

Kompas.com, 19 Juni 2026, 17:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Edie

KOMPAS.com - Riset terbaru dari London School of Economics and Political Science (LSE) mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan bahan bakar fosil terkemuka dunia berencana untuk meningkatkan produksi mereka.

Rencana ini bertolak belakang dengan janji mereka di depan publik untuk mengurangi emisi gas buang.

Temuan ini diterbitkan oleh Pusat Transisi Iklim Global (TPI Centre), sebuah lembaga riset di bawah naungan LSE.

Melansir Edie, Rabu (17/6/2026) dalam laporan tersebut, para peneliti menganalisis 16 perusahaan minyak dan gas global serta 6 perusahaan pertambangan besar.

Jika digabungkan, nilai total dari seluruh perusahaan tersebut mencapai lebih dari 2,8 triliun dolar AS pada Maret tahun ini.

Karena perusahaan-perusahaan ini merupakan penghasil polusi terbesar dan pengeruk sumber daya alam utama, peran mereka sangat menentukan berhasil atau tidaknya dunia mencapai target bebas emisi.

Para peneliti memperkirakan bahwa untuk 11 perusahaan yang mau membuka datanya, total produksi mereka akan mencapai 26,16 juta barel minyak per hari pada tahun 2030. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 14 persen dibandingkan dengan jumlah produksi pada tahun 2024, yang berada di angka 22,90 juta barel per hari.

Baca juga: Kucuran Dana Bank untuk Bahan Bakar Fosil Naik 8 Persen Pada 2025

Pertumbuhan produksi ini berbanding terbalik dan bertentangan langsung dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk mencapai target bebas emisi pada tahun 2050, serta bertolak belakang dengan apa yang selama ini dijanjikan oleh negara-negara dan industri di depan publik.

Berdasarkan hitungan Badan Energi Internasional (IEA), jika negara-negara dan industri benar-benar menepati janji iklim mereka, maka permintaan dunia terhadap minyak dan gas seharusnya turun rata-rata 2 persen setiap tahun hingga tahun 2050.

Bahkan, jika dunia ingin benar-benar bebas emisi pada pertengahan abad nanti, permintaan minyak dan gas harus turun lebih drastis, yaitu rata-rata di atas 5 persen setiap tahunnya.

Namun, rencana kenaikan produksi yang ditemukan oleh tim peneliti TPI Centre justru sangat tinggi.

Angka pertumbuhan mereka bahkan melewati batas perkiraan terburuk dari IEA. Padahal, jika dunia tetap menggunakan kebijakan yang sekarang tanpa ada perubahan, suhu rata-rata bumi diperkirakan akan naik sebesar 2,9 derajat C pada tahun 2100, sebuah kondisi yang sangat berbahaya bagi keselamatan planet kita.

Tidak siap untuk bebas emisi

Selain jumlah produksi minyak yang tidak sejalan dengan target pengurangan polusi, para peneliti juga menyimpulkan bahwa rencana perusahaan minyak dan gas untuk beralih ke bisnis lain yang lebih bersih ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Bahkan untuk perusahaan dengan kinerja terbaik sekalipun, jumlah energi ramah lingkungan yang mereka hasilkan diperkirakan hanya mencapai maksimal 5 persen dari total seluruh produksi energi mereka pada tahun 2030.

Fakta ini, ditambah dengan rencana sebagian besar perusahaan untuk terus meningkatkan produksi bahan bakar fosil, menunjukkan bahwa janji pengurangan emisi mereka tidak didukung oleh rencana peralihan bisnis yang nyata dan tepercaya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Petani di Sekitar TNGHS Dapat Pendampingan Kelola Lahan Berkelanjutan dari IPB
Pemerintah
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Janji Jaga Lingkungan Tapi Perusahaan Minyak dan Gas Global Justru Tambah Produksi
Pemerintah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
PBB Peringatkan 13 Wilayah Dunia Terancam Kelaparan yang Lebih Parah
Pemerintah
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Belajar dari Singapura, Ketika Sampah menjadi Peluang Ekonomi
Pemerintah
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
238 Batang Kayu Ilegal Disembunyikan di Pabrik Humbang Hasundutan Sumut
Pemerintah
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Dampak Perubahan Iklim: Kedelai Bisa Tumbuh Lebih Besar tapi Kurang Bergizi
Pemerintah
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Lestari Summit 2026, Hadirkan Isu Keberlanjutan yang Dekat dengan Masyarakat
Swasta
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Penggemar Piala Dunia Kini Lebih Pilih Produk Ramah Lingkungan
Pemerintah
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Komitmen Lingkungan Perusahaan Terbesar Dunia Naik Tiga Kali Lipat Sejak 2019
Pemerintah
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
ISO Rilis Draf Panduan Net Zero untuk Perusahaan Sedunia
Pemerintah
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Tempat Kerja Inklusif dan Berkelanjutan semakin Diperhatikan Korporasi
Swasta
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
Terbitkan Sustainability Report 2025, TelkomGroup Perkuat Integrasi ESG dalam Transformasi Bisnis
BrandzView
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
WVI Kampanyekan Water fo Timor, Dekatkan Akses Air Bersih dan Sanitasi di NTT
LSM/Figur
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
60 Persen Lembaga Keuangan Terkemuka di Dunia Abaikan Risiko Deforestasi
Pemerintah
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
Mayoritas Bos Perusahaan RI Akui Elektrifikasi Dongkrak Daya Saing Bisnis
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau