Selain itu, proyek energi bersih harus dibuat sedemikian rupa agar memberi keuntungan bagi para pekerja dan warga lokal, serta membantu orang-orang yang paling terancam bahaya akibat perubahan iklim.
Ia juga meminta adanya bantuan dana untuk melindungi kebebasan ilmu sains agar tidak disetir kepentingan tertentu. Guterres menegaskan bahwa perpindahan dunia dari bahan bakar fosil ke energi bersih harus dilakukan secara lebih besar, lebih cepat, dan lebih adil.
Lebih lanjut, Guterres menyayangkan bahwa negara-negara yang sebenarnya punya potensi energi ramah lingkungan yang melimpah justru terhambat untuk ikut serta dalam perubahan ini.
Pasalnya, biaya meminjam modal untuk membangun proyek energi bersih di negara berkembang bisa dua sampai tiga kali lipat lebih mahal daripada di negara-negara kaya.
Baca juga: Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
"Kemandirian energi tidak akan pernah bisa dibangun jika kita masih bergantung pada bahan bakar fosil. Energi terbarukan adalah kunci utama dari keamanan energi yang sesungguhnya. Semakin sebuah negara menggunakan listrik bersih, ekonomi mereka akan menjadi semakin aman, kuat, dan tangguh," tambah Guterres.
Permintaan PBB agar perusahaan AI mau membuka data lingkungan mereka ini sendiri muncul di tengah ramainya desakan di AS untuk menyetop sementara pembangunan pusat data baru dan protes dari warga lokal.
Awal bulan ini, sebanyak 520 organisasi dari 47 negara bagian di AS menandatangani surat bersama yang mendesak pemerintah pusat untuk menghentikan sementara pembangunan pusat data. Surat yang dikirim pada 11 Juni tersebut digerakkan oleh lembaga swadaya masyarakat Food & Water Watch.
Alasan mereka meminta penghentian ini adalah karena pusat data AI dinilai sangat boros listrik dan air, merusak tanah adat suku asli, membuat tagihan listrik warga sekitar melonjak mahal, serta mengurangi lapangan pekerjaan.
Akibat meningkatnya protes dari warga lokal dan makin susahnya pasokan listrik, jumlah proyek pusat data yang batal di AS melonjak drastis tahun lalu, dari yang tadinya hanya enam menjadi 25 proyek yang batal.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya