Ke depan, Pemkab berencana menambah lima hingga enam mesin pemilah sampah yang akan ditempatkan di kecamatan-kecamatan yang paling terdampak aktivitas industri.
Menurut Iksan, penggunaan teknologi pemilahan sampah juga menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja. Tingginya biaya hidup di kawasan industri membuat kebutuhan tenaga kebersihan menjadi tantangan tersendiri.
"Mesin-mesin pemilah itu akan didistribusikan ke kecamatan-kecamatan yang paling merasakan dampak industrialisasi," katanya.
Selain itu, Pemkab juga menyiapkan dukungan bagi nelayan yang terdampak perubahan kondisi perairan di sekitar kawasan industri. Salah satu skema yang sedang dipertimbangkan adalah pemberian bantuan kapal berukuran lebih besar agar nelayan dapat menjangkau daerah tangkap yang lebih jauh.
"Kalau nelayan selama ini melaut dengan perahu kecil, lalu kondisi lautnya berubah dan mereka harus melaut lebih jauh, pemerintah akan hadir memberikan perahu yang lebih besar. Itu bentuk dukungan yang kami siapkan," ujar Iksan.
Ia menegaskan, Pemkab harus bergerak cepat merespons berbagai dampak yang muncul seiring pertumbuhan pesat industri nikel di Morowali.
"Setiap tantangan yang muncul harus langsung kami respons. Pemerintah tidak boleh menunggu atau berdiam diri," tegasnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya