JAKARTA, KOMPAS.com – Ketika berbicara tentang pelestarian pesisir, mangrove hampir selalu menjadi jawaban pertama. Padahal, bagi banyak pantai berpasir di Indonesia, benteng alami yang paling sesuai justru bukan mangrove, melainkan cemara laut (Casuarina equisetifolia).
Di sepanjang pesisir berpasir, seperti di sebagian wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi, pohon berdaun menyerupai jarum ini telah lama menjadi pelindung alami pantai.
Berbeda dengan mangrove yang tumbuh optimal di kawasan berlumpur, cemara laut mampu bertahan di tanah berpasir yang miskin unsur hara, tahan terhadap semprotan garam, serta kuat menghadapi angin laut. Karakter inilah yang membuat cemara laut banyak dimanfaatkan sebagai sabuk hijau di kawasan pantai terbuka.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa hutan pelindung pantai (coastal protection forests), termasuk tegakan cemara laut, memiliki peran yang jauh lebih luas dari sekadar penghijauan.
jurnal Ocean and Coastal Management (2024), misalnya, menyebut hutan pelindung pantai sebagai komponen penting dalam menjaga kualitas, jasa ekosistem, dan ketahanan kawasan pesisir.
Baca juga: Merawat Ekosistem Pesisir Malili lewat Transplantasi Karang dan Restorasi Mangrove
Vegetasi pantai tidak hanya membantu mengurangi dampak abrasi, angin laut, dan badai, tetapi juga menjaga keanekaragaman hayati, meningkatkan kualitas lingkungan, serta mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.
Di tengah meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia, pengelolaan hutan pelindung pantai yang berkelanjutan juga dinilai menjadi bagian penting dari strategi adaptasi berbasis alam (nature-based solutions).
Kemampuan tersebut juga didukung oleh karakter biologis cemara laut. Sistem perakarannya mampu mengikat pasir sehingga membantu mengurangi erosi. Sementara itu, tajuknya yang rapat memecah embusan angin laut sekaligus menangkap butiran pasir yang terbawa angin.
Seiring waktu, proses ini membantu membentuk gumuk pasir yang lebih stabil sehingga garis pantai menjadi lebih terlindungi. Temuan ini juga diperkuat oleh berbagai penelitian mengenai restorasi gumuk pasir yang menunjukkan bahwa vegetasi pantai berperan penting dalam menstabilkan bentang alam pesisir.
Karena karakteristik tersebut, pemilihan jenis vegetasi menjadi kunci dalam rehabilitasi kawasan pesisir. Sebab, tidak semua pantai membutuhkan pendekatan yang sama.
Prinsip itu menjadi dasar bagi LindungiHutan saat memulai rehabilitasi pesisir di Pantai Karangmalang, Desa Kartika Jaya, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Pantai tersebut memiliki garis pantai yang relatif sempit serta berada sangat dekat dengan permukiman warga, tambak, dan lahan pertanian. Gelombang tinggi saat musim angin barat terus mengikis daratan.
Baca juga: Akademisi UI: Giant Sea Wall Bakal Ubah Ekosistem Pesisir Pantura
Dalam kondisi seperti itu, memilih jenis vegetasi yang tepat menjadi langkah penting agar upaya rehabilitasi benar-benar efektif. Hingga kini, LindungiHutan telah menanam belasan ribu cemara laut di kawasan tersebut.
Menurut Operational Manager LindungiHutan Aminul Ichsan, alasan memilih cemara laut bukan sekadar karena jenis pohonnya mudah diperoleh, melainkan karena karakteristik lahannya memang tidak cocok untuk mangrove.
"Mangrove, seperti Rhizophora, membutuhkan substrat berlumpur atau lumpur berpasir. Sementara di Karangmalang, kondisi tanahnya didominasi pasir. Kalau dipaksakan menanam mangrove muda langsung di bibir pantai, peluang bertahannya sangat kecil karena mudah diterjang ombak," ujarnya saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.
Sebaliknya, cemara laut mampu tumbuh pada pantai berpasir yang sedikit lebih tinggi. Keberadaan rerumputan di sekitar lokasi juga membantu menjaga kelembapan tanah sehingga bibit memiliki peluang hidup yang lebih baik.
Baca juga: Wujudkan Pantai Pesisir Yang Lestari, Lanal Tegal Tanam 1500 Pohon Cemara Laut
Menurut Aminul, penanaman tersebut merupakan bentuk konservasi preventif. Tujuannya bukan memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi, melainkan mencegah abrasi semakin meluas.
"Kami melihat ini sebagai upaya konservasi preventif. Harapannya, vegetasi bisa tumbuh terlebih dahulu sebelum abrasi semakin meluas," katanya.
Bagi LindungiHutan, keberhasilan rehabilitasi tidak diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi dari banyaknya pohon yang berhasil tumbuh.
Oleh karena itu, setiap lokasi mendapatkan pemantauan rutin setiap tiga bulan. Apabila ditemukan bibit yang mati, tim akan melakukan penyulaman agar fungsi sabuk hijau tetap terjaga.
"Kami tidak ingin penanaman hanya menjadi kegiatan seremonial. Pohon harus tumbuh. Karena itu, kami melakukan monitoring setiap tiga bulan. Kalau ada pohon yang mati, kami lakukan penyulaman agar kawasan benar-benar bisa menjadi sabuk hijau," ujar Aminul.
Dalam pelaksanaannya, LindungiHutan juga menggandeng masyarakat setempat sebagai mitra utama. Keterlibatan warga menjadi penting karena merekalah yang paling merasakan dampak abrasi.
Baca juga: Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus Rp178.600 Triliun
Selain melindungi permukiman, keberadaan sabuk hijau cemara laut diharapkan dapat menjaga tambak dan lahan pertanian yang berada tidak jauh dari garis pantai.
Lebih jauh lagi, Aminul melihat rehabilitasi pesisir juga dapat membuka peluang ekonomi baru. Ia mencontohkan keberhasilan Pantai Jungsemi yang berkembang menjadi kawasan wisata setelah vegetasi pantainya tumbuh dengan baik.
"Harapannya nanti Karangmalang bisa berkembang, seperti Pantai Jungsemi. Setelah pohonnya tumbuh besar dan kawasan menjadi hijau, masyarakat bisa mengembangkan ekowisata sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan lingkungan, tetapi juga meningkatkan ekonomi warga," jelas Aminul.
Meski demikian, rehabilitasi pesisir tidak selalu berjalan mulus. Penanaman yang harus menyesuaikan jadwal mitra terkadang dilakukan pada musim yang kurang ideal.
Kemarau panjang dapat menurunkan tingkat keberhasilan bibit karena cepat mengering, sedangkan musim hujan berkepanjangan membuat akses menuju lokasi penanaman menjadi lebih sulit.
Baca juga: Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Meski menghadapi berbagai tantangan, LindungiHutan meyakini bahwa upaya tersebut dapat berjalan maksimal lewat kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, pemerintah, serta sektor swasta.
Sejatinya, menjaga pesisir tidak bisa mengandalkan satu pihak. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin besar pula peluang kawasan pesisir bertahan menghadapi abrasi dan dampak perubahan iklim.
Salah satu cara berkolaborasi adalah dengan mendukung program penanaman cemara laut yang dijalankan LindungiHutan di Pantai Kartika Jaya, Kendal.
Dukungan masyarakat, khususnya pembaca Kompas.com, akan digunakan untuk penyediaan bibit, penanaman, pemantauan berkala, serta penyulaman pohon yang tidak berhasil tumbuh sehingga peluang keberhasilan rehabilitasi menjadi lebih tinggi.
Untuk itu, pembaca dapat ikut ambil bagian melalui program Raya Bumi Pesisir yang digagas penulis Kompas.com di https://lindungihutan.com/cemaralaut.
Di tengah meningkatnya ancaman abrasi, cuaca ekstrem, dan perubahan iklim, setiap pohon yang tumbuh menjadi lebih dari sekadar penghijauan.
Cemara laut adalah benteng alami yang menjaga garis pantai, melindungi ruang hidup masyarakat pesisir, sekaligus menjadi warisan bagi generasi mendatang.
Berpartisipasi dalam penanaman cemara laut mungkin terlihat sebagai langkah kecil, tetapi ketika dilakukan bersama, dampaknya dapat membantu menjaga bentang pesisir Indonesia untuk jangka panjang.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya