KOMPAS.com - Ekosistem laut yang sehat sangat penting untuk mendukung keanekaragaman hayati, sektor perikanan, pariwisata, dan perkembangan ekonomi di seluruh dunia.
Namun, selama ini para ilmuwan belum memiliki gambaran menyeluruh tentang bagaimana kehidupan laut merespons kenaikan suhu air laut ketika pemanasan global melewati ambang batas 1,5 derajat C.
Itu merupakan sebuah batasan penting dalam Perjanjian Paris untuk mencegah dampak perubahan iklim yang paling parah.
Namun melansir Phys, Jumat (26/6/2026) kini peneliti dari King Abdullah University of Science and Technology (KAUST) meneliti bagaimana ekosistem laut bereaksi ketika suhu Bumi melewati batas 1,5 derajat C di atas tingkat masa pra-industri.
Studi ini menganalisis 201 kejadian dampak lingkungan di samudra seluruh dunia. Para peneliti mengumpulkan data dari berbagai jurnal ilmiah, program pemantauan, dan catatan pengamatan global untuk membuat salah satu kumpulan catatan terbesar dan paling lengkap tentang dampak pemanasan laut yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca juga: AI Bisa Jadi Senjata Baru Berantas Perdagangan Satwa Laut Ilegal
Diterbitkan dalam jurnal One Earth, studi tersebut mencatat berbagai dampak buruk, mulai dari pemutihan terumbu karang dan ledakan alga beracun, hingga kematian massal makhluk laut, kerusakan habitat, serta gangguan pada sektor perikanan.
Studi ini menemukan bahwa dampak buruk pemanasan laut tidak hanya terjadi saat puncak gelombang panas di musim panas saja. Meski banyak kejadian berlangsung di bulan-bulan yang hangat, para peneliti menemukan kerusakan lingkungan yang meluas sepanjang tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa upaya pemantauan dan persiapan yang ada saat ini mungkin melewatkan risiko penting yang terjadi di luar musim panas.
"Studi ini memberikan gambaran nyata tentang bagaimana ekosistem laut bereaksi selama periode pemanasan laut yang luar biasa," kata Dr. Shannon Klein, penulis utama dan ilmuwan peneliti di KAUST.
"Salah satu temuan paling jelas adalah bahwa dampak buruk tidak hanya terbatas pada puncak gelombang panas di musim panas. Kami menemukan bukti adanya kerusakan lingkungan di berbagai musim, yang berarti upaya memahami dan menangani pemanasan laut membutuhkan pemantauan dan penilaian sepanjang tahun," terangnya.
Para peneliti menemukan bahwa 98 persen dari dampak lingkungan yang tercatat berhubungan dengan suhu air laut yang sangat panas. Banyak dari kejadian tersebut membawa dampak buruk yang besar bagi makhluk laut, habitat, dan ekosistem.
Meskipun suhu panas yang tidak biasa menjadi penyebab utama dari hampir semua dampak yang tercatat, studi ini juga menemukan penyebab lain, termasuk badai besar dan cuaca ekstrem lainnya.
Temuan ini menunjukkan bagaimana berbagai tekanan lingkungan saling berkaitan dalam memengaruhi kesehatan dan daya tahan ekosistem laut.
Melalui studi ini, para peneliti menemukan pola di mana ekosistem dan wilayah tertentu menjadi lebih rapuh dan rentan terkena dampak. Meskipun penelitian ini tidak dirancang untuk meramal masa depan, para penulis mencatat bahwa pola-pola ini bisa membantu para ilmuwan dan pembuat kebijakan untuk lebih memahami di mana risiko lingkungan serta ekonomi masyarakat akan meningkat, jika pemanasan global tetap berada di tingkat saat ini atau terus bertambah parah.
Baca juga: Lautan Dunia Kritis, Laju Kenaikan Air Laut Naik 2 Kali Lipat
"Ekosistem laut dipengaruhi oleh gabungan berbagai faktor, termasuk pemanasan laut dan peristiwa cuaca ekstrem. Penelitian seperti ini membantu kita memahami hubungan tersebut dalam skala global, sekaligus memberikan pengetahuan yang dapat mendukung upaya pemantauan, pelestarian, dan pemulihan di wilayah-wilayah seperti Laut Merah," kata Carlos Duarte, Profesor Kehormatan Ilmu Kelautan di KAUST sekaligus penulis senior dalam studi ini.
Para peneliti menekankan pula bahwa studi ini dirancang sebagai penilaian cepat terhadap dampak lingkungan selama masa pemanasan laut yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Karena itu, pembuktian lebih lanjut masih diperlukan seiring dampak yang terus terjadi. Mereka berharap temuan bisa membantu memperbaiki sistem pemantauan di masa depan, rencana kesiapsiagaan, serta upaya pelestarian laut.
Hasil penelitian juga menegaskan betapa pentingnya memantau kondisi laut sepanjang tahun. Hal ini diperlukan agar kita bisa memahami lebih baik bagaimana ekosistem bereaksi terhadap perubahan laut, sekaligus mendukung upaya pelestarian dan pengelolaan lingkungan di masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya