Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peringatan WHO: 92 Persen Populasi Global Akan Terdampak Kanker

Kompas.com, 10 Juli 2026, 16:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hampir satu dari lima orang di dunia akan terkena kanker sepanjang hidup mereka. Tetapi dampak dari penyakit ini tidak hanya akan dialami oleh penderitanya saja melainkan akan jauh lebih luas.

Melansir Down to Earth, Kamis (9/7/2026) berdasarkan laporan global terbaru yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 8 Juli 2026, sekitar 92 persen penduduk dunia akan ikut merasakan dampak kanker, baik karena mereka sendiri yang sakit maupun karena ada anggota keluarga dekat yang terkena penyakit tersebut.

Laporan ini menggambarkan kanker sebagai krisis kesehatan, sosial, dan ekonomi global yang terus membesar dan mengancam keluarga serta masyarakat di seluruh dunia.

Meskipun kemajuan dalam pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan telah berhasil menyelamatkan banyak nyawa di beberapa negara, WHO memperingatkan bahwa peluang seseorang untuk bertahan hidup kini semakin ditentukan oleh lokasi tempat tinggal mereka dan seberapa mudah mereka mendapatkan akses layanan kesehatan.

Baca juga: Panas Ekstrem Ancam Kesehatan Jantung, Bagaimana Cara Lindungi Diri?

Kanker capai tingkat tertinggi

Menurut perkiraan dalam laporan tersebut, beban akibat penyakit kanker saat ini telah mencapai tingkat tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Lebih dari 20,6 juta orang di seluruh dunia didiagnosis terkena kanker pada tahun 2024 termasuk 19,5 juta kasus jika tidak menghitung jenis kanker kulit ringan.

Di kalangan pria, kanker paru-paru menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan, dengan jumlah sekitar 1,6 juta kasus baru, diikuti oleh kanker prostat sebanyak 1,50 juta kasus.

Sementara di kalangan wanita, kanker payudara tetap menjadi penyakit kanker nomor satu yang paling banyak menyerang, dengan 2,4 juta diagnosis baru, sedangkan kanker paru-paru berada di urutan kedua dengan sekitar 1 juta kasus.

Kanker usus besar menjadi kanker nomor tiga yang paling banyak menyerang pria maupun wanita, dengan perkiraan 1,1 juta kasus baru pada pria dan 900.000 kasus pada wanita.

Laporan tersebut juga menyoroti ancaman kanker yang terus terjadi pada anak-anak. Sekitar 400.000 anak-anak dan remaja berusia 0 hingga 19 tahun terkena kanker setiap tahunnya, di mana sebagian besar kasus tersebut terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Kematian di usia muda meningkat

Kanker menyebabkan sekitar 9,7 juta kematian di seluruh dunia pada tahun 2024. Dari jumlah tersebut, lebih dari 4,8 juta kematian menimpa orang dewasa berusia 30 hingga 69 tahun, yang menunjukkan tingginya angka kematian di usia yang masih produktif.

WHO mencatat dalam laporannya bahwa kanker kini menjadi salah satu penyebab utama kematian dini di dunia. Sekitar satu dari sembilan pria dan satu dari 13 wanita diperkirakan akan meninggal karena kanker sebelum mereka mencapai usia 75 tahun.

Kemajuan untuk mencapai target pembangunan dunia (SDG) juga semakin tertinggal jauh. Antara tahun 2010 dan 2019, hanya ada 12 negara di dunia yang berada di jalur yang benar untuk memenuhi target pengurangan angka kematian dini akibat penyakit tidak menular termasuk kanker sebesar sepertiga pada tahun 2030 nanti.

Meskipun beberapa negara mengalami kemajuan, ada 48 negara yang justru mencatat kenaikan angka kematian dini akibat kanker. Data Perkiraan Kesehatan Global WHO menunjukkan bahwa kanker telah menjadi penyebab nomor satu kematian di usia muda di 41 negara, penyebab nomor dua di 37 negara, dan penyebab nomor tiga di 47 negara.

Kanker juga menyumbang 16,5 persen dari seluruh kematian di dunia, menjadikannya penyebab kematian terbesar kedua di dunia setelah penyakit jantung.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Dorong Pendidikan Inklusif, 5 Kampus Indonesia Pelajari Sistem Layanan Disabilitas di Jepang
Swasta
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Studi Ungkap Polusi Kapal Laut Lebih Bahaya dari Kendaraan Bermotor
Pemerintah
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Kepedulian Iklim Pekerja Untungkan Karier Jika Sejalan Tujuan Perusahaan
Swasta
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Studi Ungkap Hewan Laut Respons Perubahan Iklim dengan Cara Berbeda-beda
Pemerintah
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
Urine Pendaki Percepat Pencairan Gletser di Gunung Everest
LSM/Figur
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
ESDM Siapkan Aturan Kredit Karbon Sektor Energi, Potensi Transaksi Rp 2,2 Triliun per Tahun
Pemerintah
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Tak Sampai 25 Persen Perusahaan yang Sukses Adopsi AI
Pemerintah
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
UNICEF: 1 dari 5 Anak Jadi Korban Kekerasan Seksual Online
Pemerintah
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
Peringati Hari Ozon Sedunia, Belantara Foundation-Resona Bank Ltd. Tanam Pohon Langka di Tahura SSH Riau yang Terdegradasi
LSM/Figur
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
Karhutla di Gambut Bisa Ganggu Regenerasi Alami, Pakar UGM Jelaskan Sebabnya
LSM/Figur
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Kejar Target PLTS 100 GW, ESDM : Bauran EBT Semester II-2026 Capai 17,3 Persen, Kontribusi Energi Surya Hanya 0,51 Persen
Pemerintah
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Efek Krisis Iklim, Nyamuk Tropis Invasif Ditemukan di London
Pemerintah
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau